Berita

Ilustrasi/Net

Hukum

Kasus PT PAL Bukti BUMN Jadi Ladang Korupsi Yang Subur

SELASA, 04 APRIL 2017 | 13:35 WIB | LAPORAN:

Penangkapan Dirut PT PAL Muhammad Firmansyah Arifin dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK baru-baru ini bisa dijadikan indikasi kalau BUMN selama ini menjadi ladang korupsi yang subur bagi pejabatnya.

"Jadi  buat saya tidak mengherankan kalau KPK membongkar korupsi proyek pemesanan kapal perang Filipina kepada Indonesia yang menjerat pejabat PT PAL," kata politisi PDI Perjuangan, Juliari Peter Batubara di gedung DPR, Jakarta, Selasa (4/4).

Dalam kasus itu, KPK telah menetapkan Muhammad Firmansyah Arifin sebagai tersangka penerima suap terkait penjualan kapal ke Filipina, bersama dua pejabat PT PAL dan seorang pihak swasta. Keempat tersangka ini telah ditahan.


Menurut dia, permainan seperti itu di BUMN bukan hal baru. Bahkan menjadi tradisi, terutama dalam pengadaan.

"Jadi bukan hanya terjadi PT PAL saja tapi juga dibanyak BUMN,"  tengarai Juliari.

Apalagi melihat pengelolaan manajemen BUMN yang umumnya tertutup alias tidak transparan. Hal ini jelas bertolak belakang dengan status BUMN adalah milik negara.

Sementara diketahui banyak BUMN yang merugi. Anehnya, jajaran direksi BUMN hidup bergelimpang harta dan keluarga mereka bergaya hedonis.

Dia berpendapat ke depan, rekrutmen direksi BUMN harus dibuat lebih transparan sebagai solusinya. Nama-nama calon direksi yang akan dipilih supaya diumumkan di publik. Kemudian diberikan waktu yang  cukup kepada  masyarakat untuk  menilai rekam jejak atau track record mereka.

"Artinya,  kalau  tidak ada laporan yang  aneh-aneh dari  publik disertai bukti, berarti calon tersebut lumayan, tidak bermasalah," kata Juliari menyarankan.

Wakil Bendahara DPP PDI Perjuangan ini juga menyarankan, setelah ada direksi yang baru, maka harus dibuat  kontrak kinerja dengan pemerintah selama masa
jabatannya.

"Nah, kalau tidak tercapai target, minimal 90 persennya, maka direksi tersebut tidak perlu diperpanjang lagi atau tidak akan direkrut lagi untuk ke BUMN lainnya," pungkasnya.[wid] 

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya