Berita

Ilustrasi/Net

Hukum

Demokrat Desak Polisi Tuntaskan Kasus Kematian Siswa SMA Taruna Magelang

JUMAT, 31 MARET 2017 | 21:59 WIB | LAPORAN:

RMOL. Kematian siswa SMA Taruna Nusantara Magelang, Krisna Wahyu Nurachmad di Barak, Jumat (31/3) dikecam oleh Fraksi Partai Demokrat.

Anggota Komisi III Didik Mukrianto mendesak aparat keamanan untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan agar publik tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

"Siapapun korban, dan siapapun pelakunya, masyarakat harus tahu secara jelas. Karena, ini bukan hanya tentang nyawa seseorang, tapi peristiwa terjadi di lembaga pendidikan yang selama ini diharapkan mampu mencetak kader pemimpin bangsa berkualitas dan berkarakter serta memiliki daya saing Nasional maupun Internasional,’’ desak Didik, yang juga Sekretaris Fraksi Partai Demokrat di Jakarta (31/3).


Krisna diduga dibunuh dengan cara disayat di bagian leher. Menurut polisi, Krisna ditemukan tewas berlumuran darah oleh pendamping asramanya pagi, di Barak G17 kamar 2B saat hendak dibangunkan untuk salat subuh.  

Fakta yang ada, lanjut Didik, Korban tewas sangat mengenaskan. Yakni tewas di lingkungan sekolah, tempat korban ditempa dan disiapkan menjadi calon pemimpin bangsa.  Konteks inilah, yang harus juga diungkap dan dituntaskan, agar bisa diberikan respons dan tindakan serta penanganan yang tepat terkait aspek-aspek lain disamping tindakan dan penegasan hukumnya.

"Tentu dengan penuh keprihatinan, kami juga menyampaikan duka cita yang mendalam dan mengecam tindakan pelaku apapun alasannya serta meminta kepolisian serius mengusut tuntas dan mengungkap seutuhnya, serta menyampaikan hasilnya kepada publik," tegas Ketua Umum Karang Taruna ini.

Persoalannya secara umum, menurut Didik, bermuara pada sistem, konsep atau cara-cara yang dipraktikkan dalam proses pendidikan, DPR tidak akan segan" untuk mengoreksi. Bahkan menuntut perubahan mendasar kepada lembaga pendidikan bersangkutan.

"Record SMA Taruna selama ini sangat baik. Dari sekolah ini diharapkan muncul kader pemimpin bangsa yang bewawasan Kebangsaan, Kejuangan, Kebudayaan, serta memiliki keunggulan komparatif, kompetitif, yang mampu bersaing tak hanya di level nasional. Jadi ini sangat memprihatinkan. Untuk itu kami meminta ada evaluasi dan perbaikan yang mendasar terkait dengan pengelolaan dan pengawasan di sekolah ini agar tidak terulang," kata Didik.

Terlepas dari itu, Didik juga mengingatkan agar jajaran pengelola, guru dan siswa ikut membantu penuntasan kasus dengan menyampaikan kesaksian sebenarnya dan proaktif.

"Agar segera tuntas, jelas, serta tidak menimbulkan keresahan di kalangan siswa lain maupun orangtua siswa," pungkas Didik.

Ketua Komisi Pendidikan DPR RI Teuku Riefky Harsya menuturkan, walaupun Krisna meninggal di barak, masyarakat tidak perlu tergesa-gesa menuding sistem dan cara-cara pendidikan di SMA Taruna sebagai penyebab. Atau bahwa kematian tersebut, berkaitan dengan proses pendidikan di sekolah tersebut.

"Makanya, saya sepakat bahwa kasus ini harus diusut seterang mungkin. Proses hukum, satu hal. Siapa pelaku, alas an tindakannya, urutan sebab yang membawanya pada tindakan sadis itu, perlu juga diperjelas. Nanti akan terlihat, apakah berkorelasi secara kuat dengan sstem pendidikan di lembaga itu, atau tidak sepenuhnya terkait. Kita harus obyektif," jelas dia terpisah.

Meski diakuinya dalam sejumlah kasus kematian siswa di sekolah dinas yang menerapkan sistem militer  terdapat cara-cara kebablasan. Beberapa kasus terdahulu melibatkan senior yang misalnya, melakukan’ penyiksaan’ terhadap juniornya secara berlebihan karena dianggap tradisi.

"Kasus seperti itu tak sekali dua kali terjadi. Kita sudah banyak bicara itu dn semoga ada perbaikin. Tapi kasus kematian Krisna ini, bisa jadi berbeda. Masalahnya, dia ada lembaga pendidikan militer juga. Jadi mengapa? Apa yang terjadi? Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah peristiwa serupa terjadi di masa depan? Itu sangat penting," demikian Riefky. [sam]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya