Berita

Komjen Budi Waseso/Net

Wawancara

WAWANCARA

Komjen Budi Waseso: Di Kalimantan Dan NTB Sudah Ada Bayi Terkontaminasi Narkotika

SENIN, 13 MARET 2017 | 09:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Temuan Komjen Buwas- sa­paan akrab Budi Waseso, terkait korban peredaran narkoba di Tanah Air bisa jadi membuat kita mengelus dada. Dia bil­ang, korban narkoba tak hanya menimpa kalangan dewasa dan remaja, bayi pun sudah terkon­taminasi narkoba. Berikut pen­jelasan Komjen Buwas terkait peredaran narkoba dan langkah yang ditempuh dalam menan­ganinya;

Seperti apa peredaran narko­tika di Tanah Air saat ini?
Presiden katakan darurat narkoba, karena Indonesia ini pangsa pasar terbesar ASEAN. Narkotika sangat luar biasa. Kerugian jiwa dan materi sung­guh besar. Pecandu dan peng­guna lebih dari 5 juta orang, usianya 15-56 tahun ini peng­guna.

Setahun itu 15.000 generasi muda kita meninggal akibat narkoba. Seluruh wilayah republik ini sudah terkontami­nasi. Sudah ada anak bayi yang terkontaminasi narkotika dari Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Setahun itu 15.000 generasi muda kita meninggal akibat narkoba. Seluruh wilayah republik ini sudah terkontami­nasi. Sudah ada anak bayi yang terkontaminasi narkotika dari Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Hasil kajian anda, profesi apa saja yang sudah terjangkiti narkoba?
Dari aparatur negara, TNI-Polri, BNN sekalipun, sampai Aparatur Sipil Negara sudah terkontaminasi. Masyarakat juga sudah. Itu sebabnya Presiden katakan negara darurat narkoba. Harus kita tangani bersama. Sekarang gimana peran remaja atau pelajar dalam antisipasi masalah narkotika.

Satu sisi harus pahami narko­tika ini bahaya kita semua. Tidak ada satupun yang meraih cita-cita karena narkoba. Jangan sampai kita mau mencoba narko­tika dengan bentuk apapun. Baik itu ajakan teman, atau keingin­tahuan, diiming-imingi. Kalau kita tangani narkotika main-main, maka yakinlah 20 tahun ke depan generasi emas tidak akan terjadi. Saya juga sudah kerjasama dengan seluruh ele­men tapi kalau tidak didukung, pekerjaan kita sia-sia.

Oh ya soal pembentukan sat­gas di tingkat pelajar, seperti apa itu?
(Satgas itu) sudah berjalan sejak November tahun lalu. Jadi satgas dari SD itu nanti setiap kelas ada dua yang ki­ta latih menjadi kader-kader. Menyampaikan masalah narko­tika di lingkungan mereka. SMP demikian, SMA juga demikian.

Berapa sekolah yang ikut berpartisipasi?
Tepatnya saya nggak persis, tapi di setiap daerah ada.

Lalu siapa yang melatih pelajar-pelajar itu?
Yang melatih BNN nanti. Artinya kita datang ke sekolah-sekolah untuk melatih mereka sehingga nanti mereka secara terus menerus berlanjut di luar jam sekolah di mana ada sela jam waktu dari mata pelajaran mereka menyampaikan. Nanti programnya berjalan di seluruh Indonesia. Sekarang sedang terus dilaksanakan oleh BNNP (BNN tingkat provinsi) di kewil­ayahan, sampai ke BNNK (BNN tingkat kabupaten/kota). Kita bantu semua kan tujuannya un­tuk bebas dari narkotika.

Apakah materinya nanti akan dimasukan dalam kuri­kulum?
Enggak ini hanya di luar kurikulum untuk satgas ini melakukan upaya pencerahan di lingkungannya sendiri.

Apa ini seperti halnya duta narkoba?
Iya seperti itulah. Satgas, duta, penggiat apalah namanya. Dia pengguat anti narkoba di sekolahan.

Berarti BNN buka pendaftaran dong?
Oh enggak, keinginan kita mengajak sekolah untuk ber­peran aktif.

Lalu sejauh ini bagaimana respon para pelajar itu?
Sekarang sudah, sebagian pelajar sekolah sudah.

Apa dampak positif dari sat­gas ini sudah dirasakan BNN?
Ya pasti ada, sekarang kan mereka yang menyampaikan sendiri dengan bahasa dan ling­kungan mereka. Pasti ada dua trafic jawaban. Jadi komunikasi dua arah, terjadi tanya jawab. Karena bahasannya bahasa mereka.

Apa jumlah peredaran narkobanya di tingkat pelajar juga sudah menurun?
Sudah ada. Relatif kecen­drungan mencoba-coba sudah turun. Itu hasil penelitian dari UI (Universitas Indonesia) ya bukan dari saya.

Seberapa besar?
Cukup lumayan lah, cukup besar. Baru penelitian yang seka­rang, belum secara keseluruhan. Sampel beberapa. Tapi itu sudah ada bukti penurunan. Artinya kan sudah ada pemahanan ba­haya narkotika.

Misalnya, kalau ada permen narkoba itu gimana?
Mereka kan antisipasi sendiri. Dia akan meneliti dan mencegah dari makanan yang tidak jelas yang kemungkinan tercemar. Dia kan, hati-hati.

Narkotika banyak, apa difokuskan dulu ke beberapa jenis?
Enggak, kan banyak, semua masalah narkotika. Jadi kalau kita antisipasi makan dan minu­man dan lain-lain yang berakibat pada pengaruh negatif itu dito­lak. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Polda Metro Jaya Ajak Warga Manfaatkan Program Pemutihan Pajak hingga Akhir Agustus

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:11

IIW Indonesia 2026 Dorong Investasi dan Kolaborasi Industri Global

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:03

Indonesia dan Madagaskar Teken Dua Perjanjian Strategis

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59

Sah! RUU P2SK Resmi Jadi UU, Purbaya Klaim Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:46

Pergantian Pimpinan BGN Harus Dibarengi Peningkatan Kualitas MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:44

ICW Khawatir Ada Intervensi di Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Proses Penyidikan ke Publik

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:37

Prabowo Pernah Minta BPKP Tak Ragu Usut Orang Dekat Sebelum Dadan Ditangkap

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:25

KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim dan Sejumlah Lokasi Lain

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:09

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Harus Gaul dengan Semua Negara

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:06

Rupiah-IHSG Ambruk, Pengamat: Pasar Lebih Percaya Data, Bukan Pidato Pemerintah

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:51

Selengkapnya