Berita

Foto/Net

Properti

Pengusaha Properti Ngaku Deg-degan

RABU, 08 MARET 2017 | 09:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pengusaha properti dikabarkan gelisah menanti komitmen pemerintah mengenai kepastian hukum berbisnis di Jakarta. Siapapun pemenang di Pilkada Jakarta nanti, diharap­kan dapat menjamin kepastian investasi.

Hal ini diungkap Direktur Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda. "Pemimpin baru tidak boleh menabrak kepastian hukum investasi," ujarnya Ali di Jakarta, kemarin.

Dia merincikan, salah satu ketidakpastian berinvestasi itu terjadi pada rencana reklamasi 17 pulau di Teluk Jakarta. Hingga kini, sektor investasi itu masih pro kontra dalam pemilihan kepala daerah. Satu sisi menginginkan reklamasi dilanjutkan, lainnya menghendaki proyek dihentikan.


Memang, belum ada data terbaru mengenai jumlah dana yang sudah dikeluarkan pengembang proyek ini. Namun, berbagai perusahaan sudah merilis berbagai rencana investasinya. Misalnya, PT Intiland Development Tbk akan membangun Pulau H seluas 62 hektare dengan nilai investasi Rp 7,5 triliun.

Kemudian, pembangunan kawasan pelabuhan terpadu di Pulau N (Port of Jakarta) oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IIjuga diprediksi menelan investasi Rp 134 triliun. Jumlah ini belum termasuk 15 pulau lain.

Ali menyatakan, penghen­tian satu proyek yang sudah berjalan akan menjadi preseden buruk bagi calon investor domestik maupun asing. Padahal, Indonesia tengah gencar menggenjot investasi di tengah lesunya ekspor.

Salah satu contoh adalah saat Indonesia mengundang Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud untuk kerjasama investasi hingga lebih dari Rp 300 tril­iun. Properti Indonesia juga diperkirakan akan dimasuki dana hingga Rp 60 triliun untuk pembelian langsung dari hasil repatriasi tax amnesty.

Namun, saat ini Pilkada Jakarta menjadi salah satu momen yang paling diper­hatikan investor. "Kepastian hukum investasi dari gubernur baru menjadi salah satu yang paling dicermati. Pergantian pimpinan kepala daerah, ter­masuk Jakarta, tidak boleh gampang mengubah berbagai ketentuan yang telah dibuat pemimpin," tambahnya.

Meski sudah ada perbaikan, berbagai hasil riset lembaga internasional kerap menempat­kan kepastian investasi menjadi salah satu faktor yang membuat calon investor ragu menempat­kan dana di Indonesia.

Data Bank Dunia menun­jukkan Peringkat Kemudahan Berbisnis (Ease of Doing Business Indonesia) 2017 yang dirilis Oktober 2016 naik menjadi 91 dari sebelumnya 106. Pemeringkatan dilakukan pada 190 negara di wilayah Asia Pasifik. Ini adalah kenai­kan tertinggi peringkat Doing Business Indonesia.

Ali menambahkan, investa­si saat ini menjadi salah satu tumpuan utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil. Salah satu industri yang diharapkan mampu bangkit mendorong pertumbuhan ekono­mi nasional adalah properti.

Apalagi, pemerintah tengah menggeber pembangunan in­frastruktur dasar seperti jalan, pelabuhan, dan bandara di ber­bagai daerah. Berbagai proyek ini diharapkan akan membuka lapan­gan kerja, sekaligus mendorong pertumbuhan berbagai sektor lain termasuk properti. ***

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya