Wakil Ketua Umum AsoÂsiasi Pengusaha Ritel IndoneÂsia (Aprindo) Tutum Rahanta mengakui, sampai saat ini daya beli masyarakat masih lemah. Akibatnya pendapatan peritel belum bisa terdongkrak.
Menurut dia, dampak dari perÂlambatan ekonomi yang dialami sejak 2015 sampai sekarang masih terasa. Padahal industri ritel sendiÂri sangat tergantung sekali dengan daya beli konsumen.
"Dari pengalaman kita untuk pemulihan ritel itu tidak muÂdah, membuat berjalan mulus lagi membutuhkan waktu dan panjang prosesnya," kata dia keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Akibatnya, sejak 2015 bisnis ritel kembang kempis. Bahkan, kata dia, ada beberapa angÂgotanya yang menutup sebagian tokonya. Kendati begitu, dia tidak mau menyebut jumlah toko yang sudah tutup.
Menurut dia, selain faktor daya beli ada faktor lainnya yang menyebabkan banyak ritel yang memilih menutup tokonya. Faktor pertama, kata dia, yang biasanya membuat ritel harus tutup toko adalah bisnisnya tidak cocok dengan pasar. Dalam hal ini, biasanya pengusaha salah dalam melihat kemauan pasar atau membuat strategi.
"Misalnya ritel jualan produk yang tidak disukai oleh mayoriÂtas penduduk, jual daging babi di tempat yang banyak muslimnya maka bisa saja toko jadi tidak laku," paparnya.
Faktor kedua adalah regulasi dari pemerintah. Menurut dia, jika aturan main yang diberikan berubah-ubah dan memberatÂkan pelaku usaha hal ini bisa memberikan efek kepada bisnis apalagi kalau aturan itu sampai dirasakan konsumen.
Dia mencontohkan, seperti perdagangan di sekitar Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat yang dulu tumbuh subur sekarang malah menurun karena banÂyaknya aturan yang memberÂatkan. Lalu peraturan jam buka tutup ritel yang kadang sudah buka disuruh tutup tiba-tiba. "Hal seperti ini punya pengaruh pada penjualan sehingga konÂsumen enggan kembali kesana," kata dia.
Faktor ketiga adalah kondisi stabilitas politik. Jika peraturan sudah bagus dan strategi mantap tapi politik berkecamuk hal ini dianggap paling bahaya. MenuÂrutnya, hal itu akan mematikan ekonomi makro. "Kalau strategi sudah mantap negara rusuh yang tidak normal maka bisnis juga tetap tidak tumbuh malah bisa mati," tuturnya.
Untuk mengantisipasi terus merosotnya jumlah konsumen, Aprindo sudah melakukan banyak kegiatan, seperti meÂmasarkan di media sosial, dan buat
great sale. Namun, kata dia, tahun ini daya beli masyarakat sudah mulai berangsur pulih. "Diharapkan pasar tahun ini lebih baik," tukasnya.
Corporate Secretary PT ModÂern Putra Indonesia -pemilik ritel Seven Eleven-Tina Novita mengatakan, sejumlah gerainya sudah tutup. Hingga awal tahun ini, sudah 30 gerai tutup.
Menurut dia, alasan tutupnya beberapa gerai Sevel itu karena tidak dapat mencapai target peÂrusahaan. Penyebabnya, adalah pertumbuhan ekonomi yang kurang baik pada 2015 yang membuat daya beli masyarakat berkurang. "Selain itu persainÂgan antar ritel juga meningkat," jelasnya.
Selain itu, penurunan penÂjualan perseroan juga akibat larangan penjualan minuman beralkohol di minimarket. Aturan itu tertuang dalam PeraÂturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang PengendaÂlian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan PenÂjualan Minol. Aturan tersebut mulai berlaku efektif 17 April 2015.
Sisanya, kata dia, masa seÂwanya habis tahun ini di tambah kinerjanya tidak sesuai target. Dengan begitu, perusahaan melakukan
review atau evaluÂasi ulang sehingga menurutnya penutupan ini adalah hal yang wajar.
Sebelumnya, Dewan PemÂbina Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo) Johnny Andrean menambahkan, ada banyak faktor yang bikin riÂtel tutup khususnya peritel yang menyewa pusat perbelanjaan. "Harga sewa untuk pengusaha lokal dibebani dengan berbagai kenaikan uang sewa dan ongkos pelayanan," kata Johnny.
Hal tersebut memberatkan pemilik ritel sehingga tidak aneh banyak toko yang kegedean bayar uang sewa ketimbang pendapatan. "Kalau begitu lebih baik mereka tutup toko," cetusÂnya. ***