Berita

Foto/Net

Bisnis

Industri Ritel Berguguran

Kena Efek Ekonomi Lesu & Larangan Jual Minol
SENIN, 06 MARET 2017 | 09:35 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Wakil Ketua Umum Aso­siasi Pengusaha Ritel Indone­sia (Aprindo) Tutum Rahanta mengakui, sampai saat ini daya beli masyarakat masih lemah. Akibatnya pendapatan peritel belum bisa terdongkrak.

Menurut dia, dampak dari per­lambatan ekonomi yang dialami sejak 2015 sampai sekarang masih terasa. Padahal industri ritel sendi­ri sangat tergantung sekali dengan daya beli konsumen.

"Dari pengalaman kita untuk pemulihan ritel itu tidak mu­dah, membuat berjalan mulus lagi membutuhkan waktu dan panjang prosesnya," kata dia ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.


Akibatnya, sejak 2015 bisnis ritel kembang kempis. Bahkan, kata dia, ada beberapa ang­gotanya yang menutup sebagian tokonya. Kendati begitu, dia tidak mau menyebut jumlah toko yang sudah tutup.

Menurut dia, selain faktor daya beli ada faktor lainnya yang menyebabkan banyak ritel yang memilih menutup tokonya. Faktor pertama, kata dia, yang biasanya membuat ritel harus tutup toko adalah bisnisnya tidak cocok dengan pasar. Dalam hal ini, biasanya pengusaha salah dalam melihat kemauan pasar atau membuat strategi.

"Misalnya ritel jualan produk yang tidak disukai oleh mayori­tas penduduk, jual daging babi di tempat yang banyak muslimnya maka bisa saja toko jadi tidak laku," paparnya.

Faktor kedua adalah regulasi dari pemerintah. Menurut dia, jika aturan main yang diberikan berubah-ubah dan memberat­kan pelaku usaha hal ini bisa memberikan efek kepada bisnis apalagi kalau aturan itu sampai dirasakan konsumen.

Dia mencontohkan, seperti perdagangan di sekitar Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat yang dulu tumbuh subur sekarang malah menurun karena ban­yaknya aturan yang member­atkan. Lalu peraturan jam buka tutup ritel yang kadang sudah buka disuruh tutup tiba-tiba. "Hal seperti ini punya pengaruh pada penjualan sehingga kon­sumen enggan kembali kesana," kata dia.

Faktor ketiga adalah kondisi stabilitas politik. Jika peraturan sudah bagus dan strategi mantap tapi politik berkecamuk hal ini dianggap paling bahaya. Menu­rutnya, hal itu akan mematikan ekonomi makro. "Kalau strategi sudah mantap negara rusuh yang tidak normal maka bisnis juga tetap tidak tumbuh malah bisa mati," tuturnya.

Untuk mengantisipasi terus merosotnya jumlah konsumen, Aprindo sudah melakukan banyak kegiatan, seperti me­masarkan di media sosial, dan buat great sale. Namun, kata dia, tahun ini daya beli masyarakat sudah mulai berangsur pulih. "Diharapkan pasar tahun ini lebih baik," tukasnya.

Corporate Secretary PT Mod­ern Putra Indonesia -pemilik ritel Seven Eleven-Tina Novita mengatakan, sejumlah gerainya sudah tutup. Hingga awal tahun ini, sudah 30 gerai tutup.

Menurut dia, alasan tutupnya beberapa gerai Sevel itu karena tidak dapat mencapai target pe­rusahaan. Penyebabnya, adalah pertumbuhan ekonomi yang kurang baik pada 2015 yang membuat daya beli masyarakat berkurang. "Selain itu persain­gan antar ritel juga meningkat," jelasnya.

Selain itu, penurunan pen­jualan perseroan juga akibat larangan penjualan minuman beralkohol di minimarket. Aturan itu tertuang dalam Pera­turan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengenda­lian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Pen­jualan Minol. Aturan tersebut mulai berlaku efektif 17 April 2015.

Sisanya, kata dia, masa se­wanya habis tahun ini di tambah kinerjanya tidak sesuai target. Dengan begitu, perusahaan melakukan review atau evalu­asi ulang sehingga menurutnya penutupan ini adalah hal yang wajar.

Sebelumnya, Dewan Pem­bina Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo) Johnny Andrean menambahkan, ada banyak faktor yang bikin ri­tel tutup khususnya peritel yang menyewa pusat perbelanjaan. "Harga sewa untuk pengusaha lokal dibebani dengan berbagai kenaikan uang sewa dan ongkos pelayanan," kata Johnny.

Hal tersebut memberatkan pemilik ritel sehingga tidak aneh banyak toko yang kegedean bayar uang sewa ketimbang pendapatan. "Kalau begitu lebih baik mereka tutup toko," cetus­nya. ***

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya