Basuki Hadimuljono dan Budi Karya Sumadi/Kementerian PUPR
Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta menjadi inspirasi bagi Kementerian Pekerjaa Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono sangat terkesan dengan metodologi pembangunan MRT di Jakarta karena tidak menggunakan teknologi baru.
"Kita ingin menggunakan metode kerja pada MRT untuk pembangunan jalan tol, Jalan Trans Sumatera dan Jawa. Metodologi yang dikerjakan sangat rapih dan manajemennya juga baik," terang Menteri Basuki saat ditemui di sela-sela kunjungan bersama Menteri Perhubungan Budi Karya ke Proyek MRT di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Secara teknis yang membedakan pembangunan MRT dengan proyek pengendali banjir Sodetan Kali Ciliwung atau Banjir Kanal Timur, jelas Basuki, hanyalah ukuran diameter terowongannya.
"MRT ini dibangun dengan diameter sekitar 6 meter, sementara kalau sodetan Kali Ciliwung sekitar empat meter. Terowongan MRT dibangun dengan jarak lebih panjang yakni enam kilometer. Sedangkan Sodetan Ciliwung sepanjang 1,25 kilometer," urainya.
Lebih lanjut Menteri Basuki menyatakan bahwa Kementerian PUPR dan Kementerian Perhubungan terus bersinergi dalam mengintegrasikan infrastruktur transportasi, mulai dari pembangunan jalan tol dan akses jalan menuju bandara maupun pelabuhan.
"Misalnya saja pada kawasan metropolitan Jakarta, Kementerian PUPR membangun jalan tol lingkar dalam dan lingkar luar yang akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari MRT," ujarnya.
Konsep pembangunan MRT itu sendiri, menurut Basuki, selain bersifat pelayanan jaringan bawah tanah (underground links) juga akan diintegrasikan dengan sistem pelayanan perkotaan, terutama pada terminal inlet/outlet MRT dengan akses jalan, pendestrian, ruang terbuka hijau/ruang publik, kawasan komersial/shopping malls/central business district, perkantoran, dan hunian vertical (rusun/apartemen) yang dilengkapi prasarana dan sarana perkotaan yang memadai seperti air bersih, air limbah, drainase, dan persampahan.
"Diharapkan masyarakat Jakarta akan segera mampu menyesuaikan dengan budaya baru untuk menggunakan MRT sebagai bentuk pelayanan publik yang lebih baik, murah dan cepat," tandasnya.
[wid]