Menko Perekonomian Darmin Nasution mengungÂkapkan, Indonesia mengÂhadapi tantangan besar di sektor perkebunan.
"Kita sejak merdeka beÂlum berhasil membangun satu mekanisme dan sinergi antara perkebunan dengan perekonomian. Makanya perkebunan kita nggak maju," ujar Darmin di kanÂtornya, Jakarta, kemarin.
Darmin menilai, stanÂdar perkebunan Indonesia masih rendah. Perkebunan belum dikelola secara proÂfesional, masih bersifat kebun rakyat.
Dia melihat, saat ini salah satu kendala yang dihadapi perkebunan Indonesia, tanaÂman sudah banyak yang tua sehingga produktivitasnya terus menurun. Dengan konÂdisi seperti itu, produksi sulit dikerek dalam waktu cepat karena perkebunan merupaÂkan tanaman jangka panjang yang memerlukan waktu cukup lama untuk menuai hasil panen.
"Tantangan terbesar saat ini bagaimana kita melakuÂkan peremajaan," katanya.
Darmin mengatakan, pemerintah akan segera mengambil peranan dalam melakukan peremajaan. Peremajaan akan dilakukan secara bertahap karena angÂgaran pemerintah terbatas.
"Artinya separuh dulu. Separuh kebun masing-masing, tapi bibitnya harus yang betul, supaya produkÂtivitas meningkat 2-3 kali lipat. Karena kalau separuh diremajakan, berarti nanti anda akan hasilkan jumlah yang sama dengan lahan sama. Di sini peran pemerÂintah jadi besar," ucapnya.
Darmin mengaku, pemerÂintah sudah lama memiliki rencana tersebut. Hanya saja, selalu tertunda karÂena ada kendala politik dan keamanan. "Kita betul-betul ingin menyelesaikan persoÂalan itu. Karena ini sudah terlambat jauh sekali. KaÂlau ditelusuri ke belakang, sejak tahun 1990-an (tidak melakukan pengembanÂgan)," ungkapnya.
Darmin meminta dukunÂgan petani. Menurutnya, petani harus lebih kreatif dalam melakukan pemasaÂran. Karena, selama ini Indonesia masih melakukan ekspor hasil kebun tanpa diolah sehingga nilai jualÂnya rendah.
Dia menyebut beberapa sub sektor perkebunan, sepÂerti kelapa sawit dan karet sudah mulai membaik.
"Beberapa komoditi perkebunan yang sangat di-drive oleh konsumsi tidak mengalami penurunan. BiÂasanya jenis perkebunan yang merupakan bahan mentah untuk industri seÂcara umum bukan pangan," katanya.
Namun bekalangan ini, lanjutnya, dengan kondisi iklim yang buruk memÂbuat biaya produksi melÂonjak. Hal itu kemudian berdampak pada turunnya produksi dan produktivitas tanaman perkebunan.
Menurut Darmin, bila situasi tersebut tidak segera diatasi, bisnis perkebunan nasional bisa semakin beÂrat. Sebab itu, pemerintah harus fokus mengoptimalÂkan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah komodiÂtas perkebunan. Caranya, dengan mengembangkan riset untuk menghasilkan teknologi dan inovasi yang mendukung.
Sejauh ini, teknologi yang bisa dimanfaatkan sektor perkebunan masih terbaÂtas. Demikian juga dengan pembiayaan, pasar, sarana prasarana, serta kemamÂpuan Sumber Daya Manusia (SDM). Keterbatasan ini kemudian dimanfaatkan negara tetangga.
Darmin mencontohkan koÂmoditas kayu manis. SebanÂyak 70 persen pasokan kayu manis berasal dari Indonesia. Kayu manis ini diproduksi di Kerinci, Jambi, dan kemuÂdian diekspor ke Singapura dengan harga murah. Di SinÂgapura, kayu manis tersebut dipilah dan distandardisasi sehingga harganya meningÂkat menjadi tiga kali lipat.
Standardisasi semacam inilah yang ingin dia dorong agar petani kebun bisa menÂingkatkan pendapatan. "Kayu manis dijemur biasa. Tapi di Singapura setelah dia buat standar dan merek, harga naik tiga kali lipat dari yang IndoÂnesia jual," katanya. ***