PT Rajawali Nusantara IndoÂnesia (RNI) (Persero) mengÂgandeng PT Berdikari (Persero) untuk mengembangkan industri peternakan unggas nasional. Kerja sama ini dilakukan anak usaha RNI PT PG Rajawali II dan anak usaha Berdikari, PT Berdikari United Livestock.
Nantinya, RNI dan Berdikari akan menerapkan sistem peÂternakan yang menggunakan teknologi modern, di mana kandang ternak unggas akan menggunakan teknologi close house.
Direktur Utama PT RNI Didik Prasetyo mengatakan, dengan sistem ini, produk ayam maupun telur yang dihasilkan memiliki standar yang prima, terbebas dari berbagai macam penyakit serta minim polusi.
"Untuk mendukung program penggemukan ayam atau Farm Boiler tersebut, selanjutnya akan dibangun rumah pemotongan ayam otomatis dengan kapasitas 2.000 ekor per jam," ujar Didik di Jakarta.
Ia melanjutkan, pengembanÂgan bisnis peternakan tersebut akan terus dilakukan dengan menerapkan pola peternakan terintegrasi dari hulu ke hilir.
Di dalamnya mencakup pengembangan indukan, ayam bakalan, pakan ternak serta pengembangan
riset and develÂopment peternakan.
"Tahap pertama sasaran produksi ayam pedaging sebesar 450 ribu ekor per bulan dan telur 12 hingga 14 ton per bulan. Selanjutnya akan dikembangÂkan sesuai kebutuhan bisnis," ujarnya.
PT RNI telah menyiapkan lahan stategis seluas 24 hekÂtare milik PT PG Rajawali II di Cirebon, Jawa Barat. Untuk memangkas harga daging di tingkat konsumen, komersialÂisasi hasil ternak akan dilakukan secara mandiri, di antaranya dengan mensinergikan peterÂnakan ayam dan rumah potong hewan (RPH).
"Dalam pemasaran kami akan lakukan optimalisasi aset
cool storage yang dimiliki RNI. Sistem pemasaran kita dorong melalui market place pasarÂprodukbumn.com yang dikelola PT Rajawali Nusindo, anak Perusahaan PT RNI yang bergÂerak dalam bidang distribusi dan perdagangan," kata Didik.
Direktur Utama PT Berdikari Eko Taufik Wibowo menamÂbahkan, pihaknya sangat serius terhadap pengembangan indusÂtri peternakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional.
"Kami optimistis sinergi ini dapat berjalan sesuai rencana apalagi ditunjang kompetensi yang dimiliki PT Berdikari dan pengalaman serta sumber daya yang dimiliki PT RNI," ujarnya.
Kerja sama ini juga memastiÂkan bahwa BUMN ikut berkonÂtribusi bagi terwujudnya proÂgram pemerintah, salah satunya dalam bidang pangan yakni peÂmenuhan kecukupan konsumsi protein hewani nasional.
Pasalnya, saat ini tingkat konÂsumsi protein hewani nasional masih berada di bawah standar kecukupan Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, rata-rata konsumsi protein hewani penduduk Indonesia 53,91 gram per kapita per tahun, sementara standar kecukupan konsumsi protein berada di angka 57 gram. ***