Berita

Foto/Net

Bisnis

BUMN Penerbangan Bisa Garap Bisnis Perbaikan Pesawat Asia

Indonesia Service Hub Diluncurkan
JUMAT, 03 MARET 2017 | 09:57 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membuat program Indonesia Service Hub (ISH) yang menggabungkan maintenance service BUMN penerbangan di Indonesia. Kebijakan ini diambil agar BUMN penerbangan lebih efisien dari segi modal dan pemasaran jasa.

Perusahaan BUMN yang tergabung dalam program terse­but antara lain PT Garuda Mainte­nance Facility (GMF) Aero Asia, PT Nusantara Turbin & Propulsi, PT Dirgantara Indonesia (Per­sero) (PTDI), PT IndoPelita Air­cracf Services, dan PT Merpati Maintenance Facility.

Menteri BUMN Rini Soe­marno mengatakan, program ini mengerjasamakan bisnis BUMN di bidang pengembangan bisnis maintenance, repair, dan over­haul (MRO) pesawat, mesin, dan komponen baik pesawat sipil maupun militer, dengan nama Indonesia Service Hub.


"Melalui program ISH terse­but, BUMN penerbangan akan memiliki kapasitas kemampuan yang meningkat. Sehingga me­mudahkan customer meman­faatkan jasa mereka," ujar Rini di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, kemarin.

Sinergi yang terjalin antara BUMN ini, kata Rini, juga akan membuat struktur bisnis BUMN menjadi lebih kuat untuk pem­belian suku cadang dan lainnya. Tidak hanya itu, BUMN pener­bangan akan lebih efisien dari segi modal, dan pemasaran jasa.

Rini menargetkan, Indonesia Service Hub bisa melayani perbaikan pesawat dari negara-negara Asean, Asia, dan Afrika.

"Saya ingin kita ke depan bisa menjadi hub maintenance. Tak hanya itu, engine kita minimal bisa kuasai Asean, bahkan target saya Asia bahkan ke Afrika," tuturnya.

Rini menjelaskan, nantinya GMF bisa melayani jasa main­tenance pesawat, lalu PT DI dan BUMN lainnya juga bisa melakukan hal yang sama dan terus meningkat kapasitasnya.

"Selama ini, kita punya ke­mampuan banyak tapi kecil-kecil. Akhirnya kita sadar ada celah digerogoti orang lain. Ma­kanya 2 tahun ini kita terus bers­inergi agar bisa kompetisi secara internasional," kata Rini.

Deputi Bidang Usaha Pertam­bangan, Industri Strategis Fajar Hary Sampurno menambahkan, dalam kerja sama ini, bengkel pesawat yang dikelola masing-masing BUMN tetap ada di markasnya. Seperti GMF ada di Tangerang, dan bengkel PTDI ada di Bandung dan bengkel lainnya ada di Surabaya.

"Kalau dulu ada pesanan di Indopelita dia harus datang ke Pondok Cabe. Kalau sekarang dia bisa ditaruh di Surabaya atau pesawatnya ditaruh di Makassar bisa orang teknisinya dari PTDI ke Makassar. Lebih gampang kan bukan kapalnya yang di tar­uh di mana-mana," kata Fajar.

Ia melanjutkan, kerja sama ini dimulai sejak ditandatan­ganinya kesepakatan bersama BUMN penerbangan tersebut pada Kamis (2/3).

Hadir dalam penenandatangan tersebut Deputi Menteri bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media Fajar Hary Sampurno, Deputi Menteri bi­dang Usaha Jasa Keuangan Jasa Survei dan Konsultan Pontas Tambunan, Deputi bidang Usaha Logistik Kawasan dan Pariwisa­ta Edwin Hidayat, Deputi bidang Restrukturisasi dan Pengemban­gan Usaha Aloysius.

Tak hanya itu, Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo, Direktur Utama Dirgantara In­donesia Budi Santoto juga ikut menyaksikan penandatanganan kerjasama tersebut.

Pengamat penerbangan Alivin Lie menilai, meski terlambat, sinergi BUMN penerbangan ini bagus untuk memajukan industri dirgantara dan perawatan pesa­wat di Indonesia.

"Namun harus diingat, jan­gan sampai sinergi ini justru memberatkan BUMN yang lain, karena ada beberapa yang bisnisnya sekarat, seperti Mer­pati Maintenance," kata Alvin kepada Rakyat Merdeka.

Alvin menambahkan, kerja sama ini juga harus benar-benar memperhatikan ke mana pun pasar industri penerbangan saat ini.

"Kita harus cek kemampuan masing-masing BUMN, mulai dari fasilitas, teknisi, SDM hingga finansial. Jangan sampai, saat nanti ada permintaan dari consumen, tidak sanggup di­jalankan," Tegas Alvin. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya