Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membuat program Indonesia Service Hub (ISH) yang menggabungkan maintenance service BUMN penerbangan di Indonesia. Kebijakan ini diambil agar BUMN penerbangan lebih efisien dari segi modal dan pemasaran jasa.
Perusahaan BUMN yang tergabung dalam program terseÂbut antara lain PT Garuda MainteÂnance Facility (GMF) Aero Asia, PT Nusantara Turbin & Propulsi, PT Dirgantara Indonesia (PerÂsero) (PTDI), PT IndoPelita AirÂcracf Services, dan PT Merpati Maintenance Facility.
Menteri BUMN Rini SoeÂmarno mengatakan, program ini mengerjasamakan bisnis BUMN di bidang pengembangan bisnis maintenance, repair, dan overÂhaul (MRO) pesawat, mesin, dan komponen baik pesawat sipil maupun militer, dengan nama Indonesia Service Hub.
"Melalui program ISH terseÂbut, BUMN penerbangan akan memiliki kapasitas kemampuan yang meningkat. Sehingga meÂmudahkan customer memanÂfaatkan jasa mereka," ujar Rini di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, kemarin.
Sinergi yang terjalin antara BUMN ini, kata Rini, juga akan membuat struktur bisnis BUMN menjadi lebih kuat untuk pemÂbelian suku cadang dan lainnya. Tidak hanya itu, BUMN penerÂbangan akan lebih efisien dari segi modal, dan pemasaran jasa.
Rini menargetkan, Indonesia Service Hub bisa melayani perbaikan pesawat dari negara-negara Asean, Asia, dan Afrika.
"Saya ingin kita ke depan bisa menjadi hub maintenance. Tak hanya itu, engine kita minimal bisa kuasai Asean, bahkan target saya Asia bahkan ke Afrika," tuturnya.
Rini menjelaskan, nantinya GMF bisa melayani jasa mainÂtenance pesawat, lalu PT DI dan BUMN lainnya juga bisa melakukan hal yang sama dan terus meningkat kapasitasnya.
"Selama ini, kita punya keÂmampuan banyak tapi kecil-kecil. Akhirnya kita sadar ada celah digerogoti orang lain. MaÂkanya 2 tahun ini kita terus bersÂinergi agar bisa kompetisi secara internasional," kata Rini.
Deputi Bidang Usaha PertamÂbangan, Industri Strategis Fajar Hary Sampurno menambahkan, dalam kerja sama ini, bengkel pesawat yang dikelola masing-masing BUMN tetap ada di markasnya. Seperti GMF ada di Tangerang, dan bengkel PTDI ada di Bandung dan bengkel lainnya ada di Surabaya.
"Kalau dulu ada pesanan di Indopelita dia harus datang ke Pondok Cabe. Kalau sekarang dia bisa ditaruh di Surabaya atau pesawatnya ditaruh di Makassar bisa orang teknisinya dari PTDI ke Makassar. Lebih gampang kan bukan kapalnya yang di tarÂuh di mana-mana," kata Fajar.
Ia melanjutkan, kerja sama ini dimulai sejak ditandatanÂganinya kesepakatan bersama BUMN penerbangan tersebut pada Kamis (2/3).
Hadir dalam penenandatangan tersebut Deputi Menteri bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media Fajar Hary Sampurno, Deputi Menteri biÂdang Usaha Jasa Keuangan Jasa Survei dan Konsultan Pontas Tambunan, Deputi bidang Usaha Logistik Kawasan dan PariwisaÂta Edwin Hidayat, Deputi bidang Restrukturisasi dan PengembanÂgan Usaha Aloysius.
Tak hanya itu, Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo, Direktur Utama Dirgantara InÂdonesia Budi Santoto juga ikut menyaksikan penandatanganan kerjasama tersebut.
Pengamat penerbangan Alivin Lie menilai, meski terlambat, sinergi BUMN penerbangan ini bagus untuk memajukan industri dirgantara dan perawatan pesaÂwat di Indonesia.
"Namun harus diingat, janÂgan sampai sinergi ini justru memberatkan BUMN yang lain, karena ada beberapa yang bisnisnya sekarat, seperti MerÂpati Maintenance," kata Alvin kepada
Rakyat Merdeka.
Alvin menambahkan, kerja sama ini juga harus benar-benar memperhatikan ke mana pun pasar industri penerbangan saat ini.
"Kita harus cek kemampuan masing-masing BUMN, mulai dari fasilitas, teknisi, SDM hingga finansial. Jangan sampai, saat nanti ada permintaan dari consumen, tidak sanggup diÂjalankan," Tegas Alvin. ***