Berita

Foto/Net

Bisnis

Kantongi Bukti Pelanggaran, Peradi Siap Ladeni Freeport

Puluhan Pengacara Temui Menteri Jonan
KAMIS, 02 MARET 2017 | 09:26 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Dukungan terhadap pemerintah menghadapi manuver PT Freeport Indonesia (PTFI), terus mengalir. Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) menyatakan akan mendukung Kementerian ESDM bila PTFI mengajukan gugatan arbitrase internasional. Mereka mengklaim mengantongi bukti pelanggaran perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut.

Kemarin, puluhan pengacara (Peradi) menemui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di kan­tor Kementerian ESDM, Jakarta. Mereka melakukan pertemuan tertutup hampir dua jam.

Usai pertemuan, Ketua De­wan Pembina Peradi Otto Ha­sibuan mengungkapkan, per­temuan membahas rencana PTFI mengajukan gugatan arbitrase internasional.


"Kami tahu masalah pemerintah dengan Freeport ini sudah cukup lama dan tidak kunjung selesai. Kami sebagai advokat ingin memberikan dukungan penuh, dan akan melakukan aksi-aksi hukum," ungkap Otto.

Otto yakin, PTFI akan ka­lah bila mengajukan gugatan arbitrase. Dia menilai, dasar kekecewaan PTFI menuding pemerintah melakukan keputu­san sepihak mengubah Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), mudah dipatahkan. Menurut­nya, PTFI lah yang lebih dulu melakukan pelanggaran. PTFI tidak memenuhi kewajibannya membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter ) seperti yang diamanahkan Undang-Undang (UU) Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (Minerba). Padahal, dalam per­janjian dalam KK, PTFI wajib mengikuti peraturan pemerintah dari waktu ke waktu.

"Mereka sudah melakukan wanprestasi. Ini akan menjadi bukti awal kalau Freeport melakukan pelanggaran," ujarnya.

Selain itu, Otto mengaku mengantongi bukti pelanggaran PTFI lainnya. Yakni, terkait penolakan PTFI melakukan divestasi saham sebesar 51 persen.

"Kami punya bukti dan data pendukungnya. Divestasi saham 51 persen itu wajib dilakukan. Nanti akan kami sampaikan ke pemerintah," ungkapnya.

Otto menuturkan, pihaknya akan terus mencari bukti-bukti pelanggaran lainnya. Antara lain, dugaan pelanggaran lingkungan hidup. Peradi akan mengirim­kan orang untuk melihat kon­disi nyata lingkungan di sekitar wilayah pertambangan PTFI.

"Kalau bukti kuat kami akan segera lakukan upaya hukum," tegasnya.

Seperti diketahui, PTFI meno­lak sejumlah ketentuan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No­mor 1 Tahun 2017 tentang Pelak­sanaan Kegiatan Usaha Pertam­bangan Mineral dan Batubara. Antara lain, soal ketentuan pajak baru. PTFI menganggap keten­tuan pajak baru tidak memiliki kepastian karena besarannya bisa berubah-ubah. Selain itu, PTFI juga menolak ketentuan di­vestasi sebesar 51 persen dengan alasan aturan itu akan membuat PTFI kehilangan kendali.

PTFI memberikan waktu 120 hari kepada pemerintah untuk mempertimbangkan keberatan mereka. Jika tidak, PTFI mengancam akan membawa masalah tersebut ke Badan Arbitrase Internasional.

Stop PHK

Selain advokat, Pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Timika Mgr John Philip dan perwakilan tokoh masyarakat adat Papua juga menemui Menteri Jonan.

Dalam pertemuan itu, John menyampaikan sejumlah aspi­rasi warga Papua. Antara lain, meminta, kepentingan warga Papua dimasukkan dalam ne­gosiasi yang akan dilakukan pemerintah dengan PTFI. Selain itu, mereka meminta pemerin­tah menghentikan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan PTFI.

"Masyarakat tidak memikir­kan apakah nantinya Freeport tetap bertahan di Indonesia atau tidak. Yang penting, persoalan masyarakat harus dijawab. Bagaimana masalah lingkungan, bagaimana dengan masyarakat yang kehilangan pekerjaan," ungkapnya.

John mengungkapkan, sejak hubungan pemerintah dan PTFI kurang harmonis, masyarakat Papua terkena imbasnya. Tidak hanya muncul PHK, program beasiswa untuk masyarakat menu­run. Dia dapat kabar dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) bahwa mereka tidak lagi mengirim peserta baru program beasiswa ke luar Papua karena alokasi dana kemitraan yang dikucurkan PTFI berkurang. ***

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya