Berita

Foto/Net

Bisnis

Pengusaha Tekstil Ngarep Ekspor Ke Arab Melonjak

Manfaatkan Kedatangan Raja Salman
KAMIS, 02 MARET 2017 | 09:32 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Para pengusaha nasional berharap, kedatangan Raja Salman Bin Abulaziz Al-Saud bisa mendongkrak ekspor produk Indonesia ke Arab Saudi. Sebab, saat ini nilai ekspornya masih kecil.

Ketua Umum Asosiasi Pertek­stilan Indonesia (API) Ade Sudrajat berharap, kedatangan Raja Salman dimanfaatkan pe­merintah untuk meningkatkan kerja sama ekspor. Sebab, saat ini ekspor tekstil ke Arab Saudi masih kecil.

"Kita pengusaha maunya bisa lebih besar dari sekarang," ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.


Dia mengakui, pasar tek­stil Arab Saudi sangat besar. Apalagi, negara tersebut set­iap tahunnya dikunjungi oleh jutaan orang untuk melakukan ibadah Haji dan Umrah. "Kalau bisa lebih besar nilainya tentu akan menguntungkan kita," ujarnya

Menurut Ade, selama ini pen­gusaha nasional kesulitan untuk masuk pasar Arab. Sebab, negeri tersebut mempunyai aturan yang ketat untuk barang-barang impor dari negara lain.

"Yang kesulitan ternyata stan­dar di sana itu tinggi di Timur Tengah. Jadi kalau mau ekspor barang itu harus menyesuaikan akibatnya banyak barang yang tidak masuk," ujar Ade.

Maka tidak heran, bila nilai ekspor tekstil Indonesia ke Arab Saudi saat ini terbilang cukup kecil. Padahal Arab Saudi meru­pakan salah satu mitra dagang potensial Indonesia di kawasan Timur Tengah. "Arab Saudi akan menjadi pembuka bagi kita ekspor tekstil ke Afrika," tukasnya.

Hal senada dikatakan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusa­ha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. Menurutnya, keda­tangan Raja Salman harus di­manfaatkan oleh pemerintah dan pengusaha untuk meningkatkan ekspornya ke Arab Saudi.

Menurut Hariyadi, selama ini ekspor ke Arab Saudi banyak produk makanan dan minuman (mamin). Padahal, masih banyak produk-produk Indonesia lain­nya yang berpeluang masuk ke pasar Arab Saudi.

"Kita sudah mempunyai ser­tifikat halal. Mudah-mudahan tidak hanya makanan dan mi­numan saja nanti ke depan bisa membuka peluang untuk produk lain," ujarnya.

Menurut dia, sertifikasi halal yang diberikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan memu­luskan produk dalam negeri diterima Arab Saudi. Misalnya, kosmetik dan tekstil. "Produk-produk yang sudah memiliki sertifikasi halal itu menjadi fokus utama ekspor ke Arab," kata Hariyadi.

Dia optimistis, kerja sama ekonomi yang dilakukan pe­merintah Indonesia dengan Arab Saudi akan berdampak pada peningkatan perdagangan kedua negara. "Karena itu, pemerin­tah jangan mensia-siakannya," jelasnya.

Ketua Apindo Bidang Hubun­gan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani menga­takan, saat ini pihaknya memang sedang menyarankan anggotanya untuk menjual produknya ke pasar-pasar nontradisional sep­erti Timur Tengah dan Afrika.

"Kita perlu memperkuat pasar ke Timur Tengah karena pasar yang biasa mereka sasar poten­sial sekali, contohnya Middle East, terutama produk halal kita. Juga Afrika, opportunity-nya sangat besar," katanya.

Direktur Keuangan PT Indus­tri Jamu dan Farmasi Sido Mun­cul Venancia Indrijati mengata­kan, perseroan sudah melempar produknya ke negeri minyak tersebut. Meski sudah ekspor ke Arab Saudi, tapi jumlahnya masih minim.

Menurut dia, nilai ekspornya masih kurang dari 5 persen dari total ekspor produk Sido Muncul. "Kita berharap, kun­juangan Raja Salman bisa bisa memperbesar angka penjualan itu dalam beberapa tahun ini," ujarnya.

Ia mengakui, sejauh ini produk Sido Muncul memang ditujukan bagi warga negera Indonesia yang bertugas di Arab Saudi. Namun, perseroan secara ber­harap secara perlahan produk Sido Muncul bisa diterima war­ga asli Arab Saudi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai total per­dagangan nonmigas Indonesia- Arab Saudi periode 2011-2015 memperlihatkan pertumbuhan positif sebesar 3,89 persen per tahun. Rata-rata nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Arab Saudi pada periode 2011-2015 tercatat sebesar 1,83 miliar dolar AS per tahun.

Sementara itu, rata-rata nilai impor nonmigas Indonesia dari Arab Saudi tercatat sebesar 921,23 juta dolar AS per tahun pada periode yang sama. Neraca perdagangan nonmigas kedua negara mengalami surplus 29,84 persen pada 2015. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya