Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana menggandeng investor dari luar perusahaan pelat merah untuk membangun dua pabrik gula baru di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Menteri BUMN Rini Soemarno sudah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Timur Soekarwo (Pak De Karwo) dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
"Kita akan menawarkan keÂpada pihak investor, apabila merÂeka mau melakukan kerja sama dengan BUMN untuk pembanÂgunan dua pabrik gula baru itu," tutur Rini di Jakarta, kemarin.
Rini menargetkan, dua pabrik gula baru tersebut bisa memiÂliki kapasitas produksi masing-masing 10.000 ton per hari. Menurutnya, selain penambahan pabrik gula baru, Kementerian BUMN juga akan meningkatkan produksi pabrik gula yang sudah dikelola BUMN seperti pabrik gula Djatiroto di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
"Kita akan perbesar kapasitas produksi pabrik gula Djatiroto sampai 10.000 ton tebu per hari atau ton cane per day (TCD) dengan pendanaan dari pihak BUMN sendiri," katanya.
Sebelumnya, Rini pernah meÂlempar wacana akan melakukan penutupan sembilan pabrik gula milik BUMN yang dinilai sudah tidak efisien.
Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo mengatakan, KementeÂrian BUMN bersama perusahaan perkebunan pelat merah seharusÂnya lebih dulu melakukan studi sebelum memutuskan penutupan atau membangun pabrik baru.
"Harus ada studi dulu, perlu atau tidak menutup pabrik gula BUMN yang saat ini dinilai tidak efisien. Termasuk untuk pembangunan pabrik baru," kata Edhy kepada
Rakyat Merdeka. Dari studi dan evaluasi yang dilakukan Kementerian BUMN, kata Edhy, nantinya bisa dilihat, faktor penyebab pabrik gula yang dikelola BUMN tidak efektif.
Dengan begitu, Kementerian BUMN bisa mengambil langkah penanganan yang tepat tanpa harus menutup pabrik lama dan kemuÂdian mambangun pabrik baru.
"Pabrik yang ada harus diÂmaksimalkan. Dari evaluasi kan nanti bisa terlihat, peÂnyebab inefisiensinya apa. Ini harus dibenahi sehingga pabrik bisa dioperasikan lagi, namun produksinya bisa meningkat," sarannya.
Pabrik Terbengkalai Pengamat BUMN Naldy Nazar Haroen menilai, selama ini pabrik gula BUMN tidak dikelola secara maksimal sehingga banyak yang terbengkalai dan produksinya tidak maksimal.
"Setelah tidak efisien malah ditutup, bukannya dibenahi. Ini juga jadi alasan untuk bangun pabrik baru. Tapi kalau yang bangun lebih banyak swasta, pemerintah tidak bisa lagi menÂgontrol harga gula," kata Naldy kepada
Rakyat Merdeka.
Daripada membangun pabrik baru, dia menyarankan, KeÂmenterian BUMN seharusnya memaksimalkan pabrik gula yang ada saat ini dengan men-support BUMN yang mengelola pabrik tersebut.
"Kementerian BUMN Jangan hanya perhatikan perusahaan pelat merah untuk besar saja. BUMN perkebunan yang selama ini belum maksimal juga harus diperhatikan. Dengan begitu, produksi mereka akan meningkat dan harga gula di masyarakat bisa dikontrol karena gula yang bereÂdar banyak," tegasnya. ***