Berita

Satyo Purwanto/Net

Bisnis

Prodem: Waspadai Insider Trading Papa Minta Saham Freeport Dari Tiongkok

KAMIS, 23 FEBRUARI 2017 | 11:33 WIB | LAPORAN:

Kepentingan politik yang terus bermain sejak PT. Freeport Indonesia (PTFI) beroperasi di tahun 1967 serta 'Sejarah Hitam Freeport' dalam jejak panjang kepentingan politik di Indonesia harus memang dituntaskan.

Apalagi pendapatan negara dari royalti satu persen untuk emas dan 1-3 persen untuk tembaga sangat kecil dan tidak dibanding dengan keuntungan PTFI yang bisa tembus di atas 20 triliun per tahun.

Sekretaris Jenderal Pro Demokrasi (Prodem), Satyo Purwanto memaparkan, pada awalnya PTFI mengajukan permohonan dan bersedia mengakhiri model Kontrak Karya (KK) yang sudah berumur 50 tahun dengan mengubahnya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).


Tapi tidak lama setelah izin dipegang, PTFI langsung menuntut keistimewaan lain dengan menolak beberapa poin yang disyaratkan oleh pemerintah untuk pemberian izin yaitu terkait divestasi saham dan skema pajak yang dikenakan.

Ketidakjelasan masa depan Freeport dan kemungkinan buntunya negosiasi dengan pemerintah membuat perusahaan asal Amerika Serikat itu mengancam gugatan perselisihan di arbitrase internasional dan mem-PHK massal 32.200 karyawannya, serta memutus kontrak perusahaan subkontraktor yang bekerja di perusahaannya.

Menurut Satyo, keberanian dan kemauan pemerintah Jokowi mengubah rezim kontrak karya menjadi IUPK terhadap PTFI patut diapresiasi. Pemerintah juga bersemangat menasionalisasi Freeport dengan divestasi 51 persen saham.

"Akan tetapi apa benar demikian? Divestasi itu apakah steril dari aktor-aktor "papa minta saham"? Atau bagaimana setelah ini hadir PTFI dengan cita rasa Tiongkok?" tanya Satyo.

Justru ia menilai modus yang berbahaya adalah 'debt to equity swap" bila 51 persen saham itu dibeli oleh BUMN tapi dari hasil pinjaman ke Tiongkok. Ternyata BUMN gagal bayar kemudian sahamnya diambil alih dan tambang Freeport pun jadi milik Tiongkok, bukan milik Indonesia.

"Jika menjadi kenyataan pada suatu hari nanti perusahaan raksasa pertambangan emas tersebut berganti cita rasa maka kita semua paham dengan karakter investor Tiongkok yang akan juga membawa pekerja dari negara asalnya untuk mengisi seluruh level diperusahaan tersebut," lanjut Satyo.

Bila dugaan tersebut benar-benar terjadi, terang Satyo, maka kesimpulannya adalah IUPK dan Divestasi 51 persen saham hanya omong kosong.

"Tidak ada nasionalisasi, tidak ada kedaulatan dan kemandirian bagi bangsa Indonesia dan khususnya untuk masyarakat di Papua karena hanya akal-akalan Menko Maritim, Menko Perekonomian, Meneg BUMN, Ketua DPR RI," demikian Satyo.[wid] 

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya