Berita

Foto/Net

Bisnis

Geo Dipa Diminta Maksimal Garap Energi Panas Bumi

Bantu Pemerintah Sediakan Listrik Bersih
KAMIS, 23 FEBRUARI 2017 | 08:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Jusuf Kalla mendesak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bisnis panas bumi memaksimalkan potensi energi panas bumi (geothermal) di Indonesia untuk penyediaan kebutuhan energi bersih. Pasalnya, pemanfaatan energi panas bumi dinilai masih belum maksimal.

Selama ini, dari potensi panas bumi yang bisa dimanfaatkan untuk pembangkit sekitar 29,5 gigawatt, kepasitas yang ter­pasang pada 2016 baru sebesar 1.6 megawatt atau 5,6 persen.

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki Ibrahim mengklaim, perusahaannya telah mengelola dua lapangan panas bumi, yaitu Lapangan Dieng dan Patuha yang akan mencapai kapasitas produksi kurang lebih 100 Megawatt (MW). Jumlah tersebut akan ditingkatkan hing­ga 175 MW di Tahun 2021.


"Ke depan, kami butuh ke­percayaan pemerintah dalam melakukan program percepatan energi terbarukan ini. Geo Dipa siap menerima wilayah kerja pertambangan (WKP) baru demi terciptanya kedaulatan energi untuk rakyat Indonesia," kata Riki di Jakarta.

Dilanjutkannya, untuk me­maksimalkan pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia, Geo Dipa sudah menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang me­mahami proses pengembangan panas bumi, mulai dari hulu hingga hilir.

Geo Dipa juga mengklaim sudah memiliki Rencana Kerja Jangka Panjang di Tahun 2030 yang siap memproduksi listrik dengan target 1.100 MW. Se­mentara untuk hitungan moderatnya atau yang pasti teralisasi sebesar 700 MW.

Riki berharap pemerintah juga ikut membantu proses penuntasan sengketa perdata yang tengah menimpa BUMN itu dengan PT Bumigas Energi. Pasalnya, risiko hukum ini dikhawatirkan mengganggu investasi proyek dan menyebab­kan kerugian negara karena lahan Geo Dipa yang berseng­keta merupakan aset negara dan termasuk objek vital nasional.

"Permasalahan hukum terkait dengan Bumigas saat ini juga menyebabkan program percepa­tan pembangunan dan pengem­bangan energi panas bumi kami menjadi terhambat. Untuk itu, kita harap dukungan pemerintah untuk menyudahi sengketa ini," kata Riki Ibrahim.

Komitmen Pemerintah

Wapres Jusuf Kalla (JK) me­minta manajemen Geo Dipa melakukan percepatan pengem­bangan energi panas bumi untuk membantu pemerintah dalam penyediaan panas bumi.

Geo Dipa juga diminta segera mengembangkan lapangan panas bumi yang sudah ada sekarang ini, atau pun lapangan-lapangan baru yang akan diberikan nanti.

"Saya cukup senang mendengar perkembangan yang cukup sig­nifikan. Karena terakhir saya ke Patuha, saya menyimpan harapan akan Geo Dipa sebagai salah satu perusahaan BUMN yang mem­bantu pemerintah dalam penyedi­aan listrik bersih," kata Wapres.

Wapres JK juga akan mem­bantu serta mendukung program Geo Dipa semaksimal mungkin untuk semua permasalahan yang ada. Perseroan juga diminta menjalankan bisnis sesuai Good Corporate Governanve (GCG).

Pengamat energi Fahmy Ra­dhi mengatakan, saat ini BUMN yang menggarap energi panas bumi punya PR besar untuk meningkatkan pemanfaatan dari geothermal agar tidak hanya dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik.

"Ke depan harus dilakukan riset, agar geothermal tidak hanya dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik. Tapi sambil dilakukan riset, yang ada saat ini digarap dulu secara maksimal," kata Fahmy kepada Rakyat Merdeka.

Ia mengakui, investasi pe­manfaatan energi panas bumi di Indonesia masih mahal, sehingga harga jual listriknya juga lebih mahal. Hal ini juga me­nyebabkan tidak maksimalnya pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia.

"Untuk itu, perlu dukungan pe­merintah yang kuat. Kalau perlu, ini disubsidi agar harga jual listriknya jadi murah. Bisa juga pemerintah bantu infrastruktur pemanfaatan panas bumi agar lebih mudah dalam eksplorasinya. Intinya harus ada komitmen dari pemerintah dan BUMN-nya," tegas Fahmy. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya