Berita

Ahok/Net

Politik

Hak Angket Digulirkan Karena Ahok Diistimewakan

SENIN, 13 FEBRUARI 2017 | 14:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Menyikapi keresahan publik terkait kembalinya Basuki Tjahaja Purnama aliasn Ahok menjabat Gubernur DKI Jakarta setalah cuti Pilkada, para anggota DPR bergerak cepat. Kini, politisi Senayan tengah menyiapkan instrumen yang diperlukan untuk menggulirkan Hak Angket penonaktifan Ahok atau "Hak Angket Ahok".

"Kami sedang mempelajari dan menyiapkan instrumen yang diperlukan. Kami sudah menangkap keresahan publik, seolah ada pengistimewaan hukum yang diberikan kepada Ahok," kata Wakil Ketua Fraksi PKS DPR, Habib Aboe Bakar Al-Habsy di Jakarta, Senin (13/2).

Hal itu, kata dia, merujuk pada perlakuan penegak hukum yang juga terkesan tidak wajar saat kasus penistaan Agama menimpa Ahok.


"Masyarakat menganggap susah sekali orang ini (Ahok) menjadi tersangka. Setelah ada demo besar (Aksi 411) baru ditersangkakan, meskipun tidak ditahan," ungkapnya.

Menurut Habib, dalam kasus penistaan agama tersebut dinilai publik berbeda sama sekali dengan semua kasus penistaan yang terjadi di Indonesia.

"Nah, sekarang saat sudah menjadi terdakwa jua tidak dinonaktifkan, sebagaimana kepala daerah lain yang menjadi terdakwa," katanya.

Padahal, kata anggota Komisi III ini, ada lima contoh kepala daerah yang dinonaktifkan ketika kepala daerah menyandang status terdakwa.

"Misalkan saja Walikota Probolinggo HM Suhadak diberhentikan, atau Bupati Ogan Ilir Ahmad Wazir Nofiadi Mawardi pada Rabu 30 November 2016 setelah BNN menetapkannya sebagai tersangka. Kemudian Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho juga diberhentikan sementara karena tersangkut kasus penyuapan," beber dia.

Demikian juga Ratu Atut Chosiyah diberhentikan sementara oleh Mendagri setelah menjadi terdakwa kasus penyuapan terhadap mantan Ketua MK, Akil Mochtar‎.
‎
"Nah, dengan tidak dinonaktifkannya Ahok ini, akhirnya masyarkat menilai orang ini betul-betul kebal hukum dan diistimewakan," katanya.

Pemerintah, lanjut Habib, dinilai publik telah mengangkangi ketentuan UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah, Pasal 83 ayat (3). "DPR tentunya tidak boleh diam dengan persoalan ini, kami harus menjalankan tugas dengan baik," ujarnya.

"Kita juga perlu mengingatkan Presiden, bahwa sebelum dilantik Presiden sudah bersumpah akan memenuhi kewajibannya untuk menjalankan segala Undang-Undang dan peraturan dengan selurus-lurusnya," tegas Habib menambahkan.

Karenanya, politisi asal Tanah Abang ini juga mengingatkan Presiden, perihal sumpah keramat seorang presiden, karena bunyi sumpah tersebut diatur secara langsung dalam pasal 9 UUD 1945.

Melihat situasi yang demikian, tambah Habib, maka sudah menjadi kewajiban para wakil rakyat di DPR untuk menjalankan fungsi tugasnya. Salah satunya adalah dengan Hak Angket yang dimiliki sesuai ketentuan Pasal 20A ayat (2) UUD 1945.

Hak angket ini menurut Pasal 79 ayat 3 UU 17/2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD adalah hak DPR untuk menyelidiki pelaksanaan suatu UU dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan ber berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan negara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang undangan .

"Dengan hak tersebut, kita dapat melakukan pendalaman terhadap pengabaian aturan UU Pemerintah Daerah atas persoalan penonaktifan Ahok. Jadi, kita ingin kekuasan yang dijalankan pemerintahan Jokowi-JK dapat berjalan dengan baik sesuai dengan aturan hukum dan konstitusi," pungkas Habib. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya