Berita

Lukman Edy/Net

Wawancara

WAWANCARA

Lukman Edy: Kami Tidak Diberikan Akses Ke Gudang Oleh Bea Cukai, Cuma Teleponan Tanya KTP Palsu

MINGGU, 12 FEBRUARI 2017 | 08:56 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menceri­takan upaya dirinya bersama rekan-rekan di Komisi II DPR mencari tahu tentang informasi terungkapnya pengiriman KTP palsu di Bea Cukai, Bandara Soekarno Hatta. Setelah ter­jun langsung, pria yang akrab disapa LE ini mengaku kesulitan mendapatkan informasi dari para petugas terkait. Berikut penuturan lengkap LE kepada Rakyat Merdeka:

Saat mendengar kabar ada pengungkapan KTP palsu, anda datang ke Bandara Soekarno Hatta?
Iya kita datang ke sana. Saya bersama Wakil Ketua Komisi II yang lain Pak Fadhil Tomo dan Sutriono dari PKS. Kita sam­pai di bandara jam 6.00 WIB. Kenapa kita pagi-pagi kita ke bandara untuk sidak, karena Rabu (8/1) sore kita mendap­atkan laporan dari Komisi II yang lain, Pak Muzammil Yusuf bahwa ada penangkapan KTP palsu.

Informasi apa yang didapat dari Muzammil Yusuf?

Informasi apa yang didapat dari Muzammil Yusuf?
Informasi yang didapat Pak Muzammil, sebanyak 450 ribu lembar KTP. Seharusnya (Rabu) malam mau langsung sidak ke sana, tapi karena rapat Pansus Penyelenggara Pemilu sampai malam, akhirnya kami datang ke bandara (Kamis) pagi-pagi.

Lalu apa yang didapat?

Kami mendapatkan perlakuan yang kurang akomodatif dari petugas-petugas yang ada di Bea Cukai, di terminal kargo slot 530. Kita ke sana tidak mendapatkan perlakuan yang akomodatif.

Perlakuan seperti apa?

Kita menunggu lama. Ya mungkin dengan kita menunggu lama, mereka mungkin berund­ing dulu. Setelah itu baru turun, dan saya bilang kalau kami dari Komisi II datang ke sini untuk menanggapi informasi yang berkembang tentang penangka­pan paket Fedex dari Kamboja 450 ribu lembar KTP palsu.

Saya jelaskan kenapa Komisi II melakukan sidak, karena masalah KTP merupakan pen­gawasan dari Komisi II. Terus petugas yang ada di situ men­gatakan bahwa kami tidak pu­nya kewenangan untuk mem­berikan penjelasan dan tidak mempunyai kewenangan untuk mengajak bapak-bapak melihat barang bukti disamping petugas-petugas kepala kantornya belum datang.

Anda tidak melihat barang buktinya?
Sambil menunggu kepala kan­tornya datang, boleh tidak kami bersama petugas keamanan Bea Cukai melihat-lihat ke gudang. Karena bagi kami, jika gudan­gnya belum buka, kami kan bisa tanya-tanya sama petugas keamanan di tempat. Namun kita dihubungkan via telepon dengan kepala keamanannya. Namun dia mengatakan tidak bisa mengizinkan. Karena tidak ada perintah dari atasan. Ya sudah, karena saya juga harus ke Makassar.

Berarti gagal?
Kami berkoordinasi dengan tim yang kedua untuk berangkat lagi dari Senayan jam 10.00 wib yang dipimpin Pak Agung. Nah, jam 10.30 wib mereka baru sam­pai Kantor Bea Cukai.

Kali itu apa informasi yang didapat?
Kepala Bea Cukai ngomon­gnya juga sama bahwa mereka tidak memiliki wewenang untuk memberikan penjelasan dan menunjukkan barang bukti dari penangkapan itu.

Terus?
Karena teman-teman Komisi II kecewa dengan jawaban itu, akhirnya memutuskan untuk ke Kanwil Bea Cukai. Sampai di sana ketemulah sama Pak Heru (Dirjen Bea Cukai). Namun tetap tidak diperkenankan juga melihat barang bukti. Hanya dijelaskan ada 36 KTP palsu, 32 NPWP.

Oh, itu termasuk dari 450 ri­bu lembar yang ada maksud?
Nah itu, kita mendapatkan informasi resmi dari Bea Cukai 36 KTP Palsu dan 32 NPWP dan kita bisa terima dengan menun­jukan slip manifesnya. Tetapi itu tetap palsu.

Namun kita menyayangkan, kenapa kita tidak diberikan akses untuk melihat langsung barang bukti. Kemungkinan kita bertanya-tanya dengan staf yang ada di situ. Sehingga kita menyimpulkan keterangan ini bisa dipertanggungjawabkan atau tidak.

Tapi, selain bertanya dengan petugasnya, saya juga bertan­ya dengan karyawan lainnya. Mereka mengakui memang ada barangnya di gudang Fedex. Kalau hanya 36 lembar, ngapain simpennya di gudang. Kalau 36 lembar KTP itu hanya di dalam amlop saja kan.

Memang hingga hari kamis, belum ada yang datang ke sana. Kita datang ke sana juga menun­jukkan empati dengan meng­konfirmasi ke Bea Cukai, info yang beredar di media sosial itu hoax atau tidak.

Lantas apa langkah selan­jutnya?
Iya kita akan berkoordinasi lagi dengan Ditjen Bea Cukai, sama Kemendagri.

Lalu apakah akan ada sidak lagi?
Saya rasa tidak perlu lagi untuk datang ke lokasi ya. Kita akan fokus pada rapat kerja saja nanti untuk membuktikan itu semua.

Sementara ini, apa motif dari pemalsuan KTP dan NPWP ini?
Jika sampai 450 ribu lembar, motifnya ini sangat membahaya­kan. Selain pemalsuan dengan KTP, namun bisa berkenaan dengan Pilkada DKI.

Ada indikasi untuk Pilkada?
Kalau hanya 36 lembar KTP, itu kayaknya hanya untuk Pilkada. Kita khawatirkan yang 450 ribu lembar itu.

Apa ada informasi lain terkait KTP palsu?
Belum ada lagi.

Apa harapan Anda atas kasus ini?

(Ditjen Bea Cukai) sehar­usnya jangan main-main lah dalam persoalan ini. Seharusnya transparan, sekarang kan bu­kan eranya tertutup. Apalagi kami sebagai anggota DPR menjalankan fungsi pengawasan dan dilindungi oleh undang-undang. Apa yang diucapkan oleh para petugas yang kami tanyakan juga dilindungi oleh undang-undang. Maka jika yang diucapkan itu bohong, bisa ber­implikasi luas. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya