Berita

Politik

Geger Genjig Ibukota

RABU, 08 FEBRUARI 2017 | 20:53 WIB | OLEH: COKRO WIBOWO SUMARSONO

HINGAR bingar pemilihan Adipati baru kotapraja Indraprasta terdengar di seantero jagad pewayangan. Suaranya membahana masuk ke desa-desa dan kota-kota di wilayah negeri Amarta. Menerabas rimba raya kediaman para raksasa, ditya dan bhuta. Bahkan beritanya telah menjadi perbincangan serius para punakawan di desa Karang Kadhempel, nun jauh dari pusat Ibukota negeri Amarta, Indraprasta.

Perbincangan tersebut mengarah pada perpecahan tiga kubu pendukung, kubu Cepot, kubu Mbilung dan kubu Cenguris. Cepot mendukung Raden Antareja, perwira muda Angkatan Darat Amarta. Dengan argumentasi bahwa Antareja adalah sosok kuat masa depan Amarta. Ibukota akan aman jika perwira Angkatan Darat yang memimpin. Antareja merupakan simbol 'kekuatan'.

Mbilung berpendapat lain, ibukota harus dipimpin oleh sosok pemberani yang menerabas standar birokrasi, agar pelayanan masyarakat tidak berbelit. Pilihan itu jatuh pada Raden Wisanggeni, satriya muda yang tak bisa berbahasa halus. Selalu pakai bahasa ngoko ke siapapun, bahkan kepada para Dewa sekalipun. Wisanggeni merupakan simbol 'keberanian'.


Lain Cepot, lain Mbilung, lain pula dengan Cenguris. Dia menginginkan figur pendidik guna mencerdaskan warga ibukota. Pilihan itu jatuh pada Raden Abimanyu, intelektual muda yang menguasai ilmu sastra. Abimanyu merupakan simbol 'kecerdasan'.

Diskusi kecil di warung Mbok Cangik tersebut makin lama makin seru, makin lama makin panas dan sensitif. Menyinggung asal usul masing-masing kandidat Adipati, tak terkecuali program berbusa-busa para kandidat. Menyita perhatian warga desa di sekitarnya yang menyebabkan warung kopi di pinggir Pasar Wage itu makin ramai dan semakin meluber pengunjungnya.

Pak Tani melemparkan doran gagang paculnya, memilih mengikuti diskusi yang makin memanas. Bakul-bakul di pasar memilih menutup dagangannya, guna ikut menyimak diskusi yang makin mengarah ke debat kusir tersebut. Bocah-bocah angon bahkan rela meninggalkan kambing, domba, kerbau dan sapinya merumput sendiri. Agar tak ketinggalan info terkini percaturan politik Ibukota negeri.

Hari itu denyut nadi ekonomi desa Karang Kadhempel benar-benar terhenti, berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Sawah ladang tak terurus, pasar ilang kumandhange, kebo sapi mulih nyang kandange dewe-dewe. Karena semua warga memilih mengikuti diskusi di warung Mbok Cangik demi belajar menjadi politisi, meskipun 'politisi kampung'.

Hingga suatu saat datanglah si Bagong dari perjalan panjangnya ke Ibukota.

Bagong: "Dulur-dulur, saya kemarin baru saja ngopi bareng dengan Raden Antareja, Raden Wisanggeni dan Raden Abimanyu. Ternyata mereka semua itu lucu-lucu lho, jauh lebih lucu dari Cepot, Mbilung ataupun Cenguris".

Mbilung: "Ah... masak sih Gong, jangan mbanyol kamu. Kita ini sudah beberapa minggu gontok-gontokan untuk mendukung jago kita masing-masing. Bicaralah yang lebih jelas lagi Gong, biar kita tahu perkembangan aktual di ibukota".

Bagong: "Serius, saya kemarin baru nonton kethoprak dengan mereka bertiga, mereka santai-santai aja kok. Kenapa kalian yang malah ribut?

Memangnya sosok yang terpilih jadi Adipati di Indraprasta akan berdampak pada desa kita? Kita ini wong ndeso, orang kampung. Kita urus sawah ladang kita biar jagung pohungnya ledhung-ledhung, lombok terongnya robyong-robyong dan uwi gembilinya sakkendhi-kendhi. Urusan ibukota biar dirampungkan orang-orang sana. Kalau semua orang desa ngurusi ibukota, desa akan terbengkalai, gak bisa panen nanti. Kalau panen gagal orang kota akan kelaparan, wong beras dan dagingnya dari sampean semua".

Cenguris: "Lha terus kita harus bagaimana Gong?"

Bagong: "Ya harus kita balik. Jangan seantero negeri Amarta heboh gara-gara pencalonan tiga orang penggemar kethoprak itu. Jangan sampai persatuan kita koyak gara-gara demokrasi yang kebablasan. Sudah mengarah ke pasar bebas ini, semua sebebas-bebasnya menghasut, mencerca, mengolok dan menjegal. Harus kita lawan. Kita ini satu bangsa lho, satu sejarah perjuangan. Desa harus mandiri, tak tergantung pada ibukota. Kedaulatan pangan harus jadi panglima, jangan isu pasar bebas yang jadi panglima. Pergunakan waktu sebaik mungkin untuk bekerja dan berdoa, didiklah anakmu, jangan ngerumpi saja.

Mbilung: "Iya Gong. Gara-gara dukung mendukung yang berlebihan, saya kemarin gak diundang saat Cenguris hajatan selametan. Kohesi sosial kita jadi renggang.

Bagong: "Di sinilah kontradiksi pokoknya, di sinilah perbedaan mendasar antara demokrasi perwakilan yang menjadikan musyawarah sebagai jalan keluar dengan demokrasi pasar bebas yang super bebas. Semua tidak diselesaikan dengan musyawarah guna mencapai mufakat, namun sebebas-bebasnya menyerang orang, mencokot kawan lawan, menghinakan tokoh panutan dan lain-lain. Jauh dari kata 'beradab', jauh dari sesanti memayu hayuning bawana.
Wis bubar... bubaarrr... ayo macul... ayo nandur...!

Akhirnya kesadaran menyeruak di pikiran warga desa Karang Kadhempel. Semua kembali ke sawah dan pategalan, kembali mengurus ternak di kandang dan ikan di blumbang. [***]

Penulis adalah mantan Sekjen GMNI

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Asta Cita Tanpa Konsistensi akan Timbul Moral Hazard

Senin, 08 Juni 2026 | 05:48

Pameran ‘Aku Arek Suroboyo’ Ramaikan Peringatan Bulan Bung Karno

Senin, 08 Juni 2026 | 05:24

GP Ansor Jakbar Gelar Diklatsar Tanggapi Sebutan ‘Gotham City’

Senin, 08 Juni 2026 | 04:59

Pernyataan Purbaya dan Djaka Saling Menguatkan dalam Kasus Tiffany & Co

Senin, 08 Juni 2026 | 04:46

Perkuat KDKMP

Senin, 08 Juni 2026 | 04:26

Purbaya Tidak Punya Backup Politik untuk Jalankan Misi Presiden

Senin, 08 Juni 2026 | 03:57

Jangan Kasih Tempat untuk Boti di Negeri Ini!

Senin, 08 Juni 2026 | 03:37

BEI Jabar Gencarkan Literasi Pasar Modal ke Kampus hingga SD

Senin, 08 Juni 2026 | 03:17

Menanti Hasil Uji Fundamental Perekonomian Indonesia

Senin, 08 Juni 2026 | 02:59

IPB University Raih Juara Umum Program Mahasiswa Berdampak Kemendiktisaintek

Senin, 08 Juni 2026 | 02:50

Selengkapnya