Berita

Politik

Rencana Program Sertifikasi Khatib Diskriminatif

JUMAT, 03 FEBRUARI 2017 | 11:47 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Komisi VIII DPR yang membidangi keagamaan menolak rencana Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin membuat program sertifikasi khatib. Pasalnya, dari judul program saja ini cenderung provokatif, diskriminatif, dan sensitif di tengah isu yang terjadi saat ini.

"Saya bilang provokatif karena seolah-olah khatib inilah yang menjadi pemicu munculnya pangkal kekerasan, penghujatan, pemecah belah dan merusak kebhinekaan," kata Anggota Komisi VIII DPR Mohammad Iqbal Romzy, Jumat (3/2).
 
Kemudian, lanjut Romzy, kenapa juga hanya dialamatkan kepada khatib. Ia menyebut ini adalah diskriminatif. Padahal, dalam pelaksanaan shalat Jumat sudah ada ketentuan syar'i yang mengatur.
 

 
"Jadi seandainya mau disertifikasi yah semuanya, jangan hanya untuk Islam saja," ujar politisi PKS ini.

Program ini, lanjut Romzy, juga sangat sensitif, karena ini masih ada kaitannya dengan aksi-aksi umat Islam baru-baru ini.

"Ketika kondisi umat mau pulih, bahkan capek, malah jadi terbebani lagi. Jangan umat Islam terus menjadi sasaran, umat sedang colling down. Saya lebih setuju program pelatihan peningkatan kapasitas khatib dan imam, itu lebih keren," tutupnya seperti dilansir dari Parlementaria.

Sebelumnya Menag Lukman Hakim Syaifudin mengatakan, standarisasi Khatib bukan ide murni dari Kementerian Agama. "Ini adalah masukan dari beberapa ormas kepada saya, sehingga kami merespon dengan program seperti ini. Ada fenomena masjid-masjid kita yang dinilai bisa mengancam kerukunan hidup internal umat Islam sendiri," pungkasnya.
 
Menurut Lukman, karena yang memberi masukan hanya ormas Islam, maka, standarisasi Khatib hanya ditujukan kepada umat Islam saja. Agama yang lain belum ada yang mengusulkan. Ditambahkan, pemerintah tidak pada posisi untuk menentukan. Komisi VIII DPR bisa melakukan rapat dengar pendapat dengan mengundang MUI dan ormas Islam yang lain. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya