Berita

Ahok/Net

Politik

Mengapa Ahok Bisa Selalu Bermasalah Jika Memimpin Jakarta?

Ahok dan Al Maidah dalam Wawancara Al-Jazeera
SENIN, 30 JANUARI 2017 | 10:37 WIB | OLEH: DENNY JA

SEJAK kemarin, beredar luas video wawancara Ahok dengan reporter Al-Jazeera TV di aneka grup WA. Ini link yang sempat saya tonton hingga selesai: https://youtu.be/O5OCEV99vbk.

Mungkinkah soal Ahok dan Al Maidah akan heboh kembali?

Total durasi video wawancara sekitar 22 menit lebih. Dugaan saya ini video TV Al Jazeera untuk program khusus. Banyak isu yang dibicarakan seputar Ahok dan kasus penistaan agama hingga nominasi Nobel untuk Ahok.


Pada menit ke 3.32 hingga 3.41, ditanya apakah Ahok menyesal (mengutip Al Maidah yang membuatnya menjadi kontroversi)? Ahok menyatakan tak menyesal soal mengutip surat Al Maidah itu. Jika diulang lagi di pulau seribu ia akan menyatakan hal yang sama soal surat Al Maidah. Ia tak ada niat menghina agama Islam.

"Wah," saya mengerenyitkan dahi sambil minum kopi. Sikap Ahok ini kembali akan memancing pro dan kontra di publik luas.

Bagi pendukungnya, itu adalah komentar yang lugas dan jujur dari Ahok. Ia memang tak ada niat menghina agama Islam. Tak ada masalah ia mengulanginya kembali karena niat meghina memang tak ada.

Tapi bagi yang kontra, lagi dan lagi ini menjadi bukti bahwa Ahok memang tak menyesal. Bahkan ia tak masalah mengulangi kembali mengutip soal Al Maidah itu.

Ini berbahaya. Mengapa? Karena selaku pejabat publik di ibu kota Indonesia, ia tidak sensitif dengan perasaan orang banyak. Apalagi ini menyangkut keyakinan agama orang banyak yang kebetulan bukan menjadi keyakinan Ahok pribadi.

Ahok melupakan atau tidak kapabel untuk hal mendasar dalam komunikasi pejabat publik. Ia berkeras hati hanya berpegang pada niatnya pribadi. Padahal publik tak bisa melihat niat yg ada di dalam hati. Para penyairpun tak bisa membaca secara akurat niat di hati.

Publik hanya melihat respon mereka yang ahli soal agama, aparat hukum dan orang banyak.

Jelas- jelas MUI menyatakan pernyataan itu menista agama. Jelas jelas tokoh dari banyak ormas besar seperti Dien Syamsudin menyatakan jika Ahok dibebaskan dari jeratan hukum, ia sendiri yang akan memimpin demo.

Jelas-jelas karena ucapannya, berlangsung demo 212. Ini demo terbesar yang pernah ada dalam sejarah Indonesia.

Jelas-jelas karena ucapannya, aparat hukum Republik Indonesia membuat Ahok menjadi tersangka, dan kini terdakwa penista agama.

Bukankah ini semua adalah bukti yang terang benderang? Otoritas agama, massa yang banyak, bahkan aparat hukum berbeda dengannya, dan tak hanya (dan tak perlu) tahu apa niat Ahok. Mengapa ia masih bersikeras soal niatnya saja.

Tadinya publik sudah mulai melupakan kasus itu. Okelah Ahok salah ucap dan ia menyatakan minta maaf berulang kali. Elektabilitasnyapun naik kembali di aneka survei. Istilah kerennya: Rebound!

Tapi kini dalam video wawancara itu, Ahok menyatakan ia tak menyesal. Lebih jauh, ujar Ahok tak ada masalah mengulangi menyatakan hal itu kembali. Ia berdiri semata-mata pada niat baiknya. Ia tak peduli efeknya pada orang banyak, orang yang sangat-sangat banyak.

Dengan karakter seperti itu, Jakarta di bawah Ahok akan potensial tak stabil. Bagaimana tidak? Pemimpinnya hanya peduli pada niatnya. Respon banyak orang, ulama, bahkan aparat hukum, ia entengkan saja.

Ahok lupa menjadi gubernur itu tak cukup hanya punya ketrampilan manajerial dan administrasi. Menjadi gubernur juga perlu empati, menghormati perasaan orang lain. Apalagi soal agama mayoritas yang sensitif.

Tak heran mengapa selaku petahana, ia justru menjadi cagub yang kesukaan publik padanya paling rendah di aneka survei. Bahkan juga ia terendah dari sisi "kesukaan atas Cagub" di survei lembaga yang tokohnya bersimpati padanya. Berberda dengan pertahana lain yang dicintai rakyatnya seperti Risma di Surabaya, atau Anas di Banyuwangi.

Jika saja Ahok lebih punya empati. Jika saja ia lebih mau bertoleransi dengan keyakinan ataupun interpretasi keyakinan yang berbeda dengannya. Jika saja Ahok tak mau mengulangi hal yang sudah terbukti membawa Jakarta tak produktif akibat pro kontra soal agama. Ahok layak menjadi pemimpin.

Tapi lagi lagi membuktikan Ahok bukan saja tak punya "kecerdasan emosional" itu. Ia juga berkepala batu hanya dengan niat saja. Dan yang berbahaya, seolah Ahok punya kecenderungan tak peduli reaksi otoritas agama, aparat hukum, dan orang banyak.

Jika ia tak peduli dengan respon koruptor itu oke dan bagus. Tapi reaksi otoritas agama, aparat hukum, dan orang banyak soal agama jangan disamakan dengan reaksi koruptor yang bisa dan boleh ia abaikan.

Pemilih rasional sekalipun, katakanlah sentimen agamanya tidak tinggi, akan terganggu. Cukup dengan melihat rendahnya empati Ahok kepada otoritas agama dan respon orang banyak, pemilih rasional bisa menyatakan: Wow! Sayang sekali. Dengan karakter seperti ini, Jakarta akan potensial menyimpan banyak ledakan sosial jika ia terpilih kembali. [***]

Penulis merupakan konsultan politik dan tokoh media sosial

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya