Berita

Jokowi-SBY/Net

Politik

Sudah Saatnya Jokowi Undang SBY Di "Politik Meja Makan"

SELASA, 24 JANUARI 2017 | 05:50 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Komentar Presiden keenam RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di media sosial (medsos), "Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar "hoax" berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang?", adalah hal biasa.

"Saya kira kegalauan dan keprihatinan SBY itu wajar," kata pengamat politik dari UIN Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago kepada redaksi, Selasa (24/1).

Wajar, lanjut Pangi, karena memang faktanya medsos saat ini dibanjiri informasi bohong (hoax) dan fitnah. Di sisi lain, upaya yang dilakukan pemerintah untuk menyudahinya belum terlihat signifikan.


Untuk itu, semua anak bangsa harus gotong royong memerangi hoax dan fitnah yang sudah merajalela. Terutama para tokoh bangsa, harus duduk bareng mencari solusi.

"Saya kira sudah saatnya Presiden Jokowi mengundang SBY ke Istana," ujar Pangi yang juga Direktur Eksekutif Voxpol Center ini.

Menurutnya, memang menjadi aneh dan banyak yang bertanya di luar sana kenapa Jokowi tidak pernah mengundang SBY ke Istana. Sementara pada saat yang sama, Jokowi sudah banyak mengundang elit, ketum parpol, kelompok kepentingan, dan para tokoh lain diundang dalam acara jamuan makan siang di Istana ala "politik meja makan".

"Saya kira sebagai seorang negarawan, tidak salah dan ini waktu yang tepat Presiden Jokowi mengundang SBY datang ke Istana umtuk membahas persoalan kebangsaan dan kompleksitasnya," sebut Pangi.

Ditambahkan, kalau Jokowi mengundang SBY, ini akan membuat publik respek dengan kenegarawanan politisi PDIP itu. Tapi kalau sudah diundang, malah SBY yang tidak hadir, itu akan menjadi cerita lain.

"Pak Jokowi jauh-jauh hari sebelum jadi presiden sudah terkenal dan teruji hebat soal diplomasi meja makan, semua bisa tuntas di meja makan. Saya kira sudah saatnya Presiden Jokowi dengan SBY duduk bersama dan mencari solusi permasalahan bangsa," tukas Pangi. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Demokrasi Matang dan Tonggak Sejarah Baru di Maroko Pasca-Pemilu 2026

Rabu, 30 September 2026 | 10:27

Komisi IX DPR Dorong Pekerja Platform Digital Masuk RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

Rabu, 30 September 2026 | 10:18

Rupiah Menguat, Intip Proyeksinya Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 | 10:07

Prabowo Dorong Rehabilitasi Pengguna Narkoba Berbasis Pendidikan dan Teknologi

Rabu, 30 September 2026 | 10:04

Trump Ganti Istilah AI jadi Super Intelligence

Rabu, 30 September 2026 | 09:50

Dugaan Suap Bela Parahiyangan Investindo Mirip Perkara Summarecon

Rabu, 30 September 2026 | 09:39

Jokowi Sengaja Tunjukkan KTA PSI di Kandang Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 09:36

Jokowi Menyadari Dirinya dan Gibran Sedang Diserang

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Indonesia Usulkan Mekanisme Koordinasi Lintas Negara Berantas Penipuan Daring

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau

Rabu, 30 September 2026 | 09:27

Selengkapnya