Berita

Presiden Jokowi/Net

Politik

Ke Mana Jokowi Pergi Pasca Brexit Dan Kemenangan Trump

SENIN, 23 JANUARI 2017 | 21:35 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

KEBIJAKAN ekonomi politik Amerika Serikat (USA) di bawah Pemerintahan Donald Trump dipastikan  mengarah kepada proteksionisme, menghentikan perdagangan bebas, sebagai mana yang sebelumnya dilakukan  Inggris dengan keluar dari zona perdagangan bebas Uni Eropa atau British Exit (Brexit).

Dua kekuatan utama yang mengusung free trade sudah pergi meninggalkan gagasan kuno tersebut. Demikian halnya dengan China yang sejak awal  sebenarnya memberlakukan  kebijakan  kontrol ketat terhadap perdagangan dan sistem keuangannya serta melakukan manipulasi nilai mata uang mereka melalui intervensi negara.

Pada ketiga negara sebagai kekuatan utama dalam globalisasi dan perdagangan dunia tersebut telah kembali kepada gagasan memperkuat peran negara, kontrol negara, dan kekuatan negara dalam mengendalikan ekonomi dan juga sosial politik dalam menghadapi turbulensi ekonomi global yang sangat ganas dan mencekam.


Apa akibatnya bagi Indonesia? Di bawah pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), Indonesia semakin mengukuhkan sistem perdagangan bebas atau free trade akan kehilangan posisi di hadapan Amerika Serikat, Inggris maupun China, baik dalam sistem perdagangan, keuangan maupun dalam hal control negara terhadap situasi ekonomi, dan sosial politik.

Sementara perkembangan situasi global dalam bentuk  arus balik perdagangan bebas dan neoliberalism menuju proteksionisme dan nasionalisme ini, akan berdampak langsung dan tidak langsung ke Indonesia. Dikarenakan pemerintahan Jokowi diisi oleh gagasan pandangan kolot yang sudah tidak relevan lagi dengan perubahan situasi.

Adapun dampak langsung adalah kebijakan Trump yang akan melakukan proteksi ekonomi kepada China dengan tarif tinggi akan berakibat buruk  pada Indonesia, karena Indonesia menggunakan jalur china untuk pasar USA. Tergerusnya pasar China di USA akan menggerus pasar Indonesia di China dan juga di USA.

Dampak langsung lainnya adalah gagasan Trump untuk menarik perusahaan perusahaan industri  AS di luar AS akan berdampak significant terhadap berkurangnya investasi USA di Indonesia. Kebijakan Trump juga pasti berisikan berbagai insentif kepada perusahaan yang kembali ke USA, seperti pajak rendah, sehingga akan memicu capital outflow dari Indonesia.

Arah kebijakan Trump yang semakin memperkuat peran negara dalam ekonomi akan berdampak langsung yakni mengakibatkan disconnecting antara institusi ekonomi Indonesia yang berdiri diatas landasan neoliberal dan peran sektor swasta. Disconnecting semacam ini telah kita alami dengan China di mana perusahaan perusahaan negara tersebut tidak bisa connect dengan struktur capital Indonesia.

Indonesia akan semakin sulit mencari sekutu dalam perdagangan terutama karena negara negara pengendali utama perdagangan yakni Inggris, USA, China, memiliki strategi yang bersimpangan dengan Indonesia.

Dampak tidak langsung adalah kebijakan Indonesia yang mengekor pada kepentingan China akan membuat ekonomi Indonesia terkena imbas atas penerapan sistem proteksi USA terhadap China.

Kebijakan Jokowi mestinya mengikuti langkah Trump, kembali kepada nasionalisme Indonesia, kembali pada pembangunan, industri dalam negeri dan kembali pada sistem perlindungan ekonomi dalam negeri terhadap barang barang impor.

Pemerintah Jokowi harus mengevaluasi Free Trade Area ASEAN dan keluar dari zona itu sebagaimana yang dilakukan Inggris dengan Brexit. Berarti pula Indonesia harus mengakhiri kesepakatan perdagangan bebas dengan China, Jepang dan Korea yang dibangun dalam kerangka ASEAN Free Trade Agrrement (FTA).

Indonesia harus kembali kepada gagasan Indonesia great again, buy Indonesian product sebagaimana yang dilakukan oleh Trump dengan cara bagun industri nasional,  gunakan produk nasional untuk infrastruktur, fokus pada penyediaan lapangan kerja untuk rakyat sendiri.

Indonesia juga harus mengikuti jalan China dalam kebijakan keuangan dengan memberlakukan  kebijakan kontrol keuangan, mengakhiri sistem devisa bebas, pengetatan kembali investasi dalam sektor keuangan serta memperkuat kontrol negara.

Kesimpulannya, tugas Jokowi adalah menjalankan modifikasi ketiga sistem yakni China dalam keuangan, USA dalam industri dan lapangan kerja, serta strategi Inggris dalam perdagangan.

Tugas Jokowi memang lebih berat, tapi tidak ada jalan lain, ikut dalam perubahan, memperkuat peran negara sesuai konstitusi atau bertahan dengan ide-ide usang sebagaimana yang dilakukan dan dikembangkan oleh kabinet Pemerintahan Jokowi dalam dua tahun terakhir. [***]

Penulis adalah pengamat ekonomi dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)


Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

UPDATE

11 Juta PBI BPJS Dihapus, Strategi Politik?

Jumat, 13 Februari 2026 | 06:04

Warga Jateng Tunda Pembayaran Pajak Kendaraan

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:34

Kepemimpinan Bobby Nasution di Sumut Gagal

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:19

Boikot Kurma Israel

Jumat, 13 Februari 2026 | 05:09

7 Dugaan Kekerasan Berbasis Gender Ditemukan di Lokasi Pengungsian Aceh

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:33

Pengolahan Sampah RDF Dibangun di Paser

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:03

Begal Perampas Handphone Remaja di Palembang Didor Kakinya

Jumat, 13 Februari 2026 | 04:00

Jokowi Terus Kena Bullying Tanpa Henti

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:34

4 Faktor Jokowi Ngotot Prabowo-Gibran Dua Periode

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:10

Rano Gandeng Pemkab Cianjur Perkuat Ketahanan Pangan Jakarta

Jumat, 13 Februari 2026 | 03:09

Selengkapnya