Berita

Foto/Net

Politik

Pendeta Doakan Demokrat Dan SBY Untuk Jaga Kebhinnekaan

MINGGU, 22 JANUARI 2017 | 00:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Di tengah suasana politik yang memanas dan mengancam kebhinekaan maupun perpecahan bangsa, para pendeta memanjatkan doa untuk keutuhan dan persatuan Indonesia. Para pendeta yang tergabung dalam Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) ini memanjatkan doa untuk Partai Demokrat dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), agar menjaga Bhinneka Tunggal Ika.

Doa tersebut disampaikan oleh Pendeta Nus Reimas, dalam peringatan Natal Nusantara Partai Demokrat yang digelar di Jakarta Convention Center, Sabtu malam (21/1).

"Kita doakan terus Demokrat dan SBY untuk jaga Bhinneka Tunggal Ika," katanya di hadapan 2000 orang. Hadir Ibu Ani Yudhoyono, pasangan Cagub dan Cawagub nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan dan petinggi partai.‎


Sementara itu, Ketua Panitia Natal Nusantara, Benny K Harman mengatakan, peringatan natal ini dilakukan di tengah kondisi bangsa yg memprihatinkan. Menurutnya, potensi konflik horizontal terjadi dengan melibatkan anak bangsa. Untuk itu pihaknya ingin menggugah kembali semangat kebangsaan, persatuan, perdamaian dan bela rasa serta peduli dengan member solusi yang produktif.

"Peringatan Natal ini diselenggarakan di tengah kondisi bangsa yang memprihatinkan. Potensi konflik horizontal anak bangsa," katanya.

Sebelumnya, Presiden keenam RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat SBY memberikan sambutan di perayaan Natal Nusantara Partai Demokrat itu. Dalam sambutannya, SBY juga menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam bingkai kebhinekaan, terkait dengan munculnya potensi perpecahan akibat situasi politik akhir-akhir ini. Menurutnya, Indonesia bukan negara agama, tetapi negara berketuhanan dengan Ideologi Pancasila. Untuk itu negara harus hadir dan menyayangi semua umat beragama, tanpa membeda-bedakan identitas serta menyatukan sebagai bangsa yang rukun dan damai.

"Negara Indonesia bukan negara agama, negara Pancasila, tapi Indonesia adalah negara berketuhanan. Negara wajib menyanyangi agama di tanah airnya sendiri. Negara harus menyayangi semua umat beragama yang ada di negara ini. Tidak boleh negara memisahkan kita yang berbeda-beda identitas, tetapi harus menyatukan kita sebagai bangsa yang rukun dan damai. itulah jati diri kita," tegasnya.

SBY juga yakin bangsa Indonesia bisa melalui ujian tersebut. Bahkan menurutnya, Demokrat akan tetap memberi dan menjadi contoh atas keberagaman tersebut. Ia menegaskan DNA (deoxyribonucleic acid) dan darah Demokrat adalah kebhinnekaan.

"Saya yakin dan saya percaya DNA Partai Demokrat, darah Partai Demokrat, tetap adalah darah kebhinnekaan," ujar SBY.

Ia menjelaskan nilai-nilai kebajikan moral dan etika yang diajarkan agama, dapat diaplikasikan dalam dunia sosial politik. Dimana semua pemimpin politik, pemimpin agama dan tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk bersama-sama mendewasakan kehidupan politik dan demokrasi.

"Saya percaya etika politik dan ajaran tentang kebaikan dan moral akan membantu kita menemukan jalan untuk mengatasi masalah dan tantangan yang kita hadapi. Kita adalah bangsa yang besar dan telah teruji oleh berbagai tantangan sejarah. Kita percaya dengan persatuan kebersamaan dan kerukunan kita sebagai bangsa kita akan mampu menghadapi tantangan apapun menuju masa depan yang lebih baik," tambahnya.

Selain itu, SBY menyatakan nilai-nilai universal yang dianut dan diajarkan oleh setiap agama yaitu damai dan kasih sayang. Agama, kata SBY, mengajarkan umatnya berbagi kasih dan persaudaraan dengan yang lain. Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk saling membenci, memusuhi, menyakiti, menghina, menindas, dan melakukan kekerasan.

"Setiap agama mencintai kedamaian, ketentraman dan hidup berdampingan secara harmonis. Agama senantiasa mengajarkan persaudaraan sejati, diantara umat manusia. Setiap agama senantiasa mendorong umatnya untuk saling mengasihi, berbudi luhur berakhlak mulia, saling mencintai dan penuh toleransi. Saling menyayangi dan saling mengasihi menjadi ajaran utama setiap penganut agama, sekaligus sebagai filosofi dan solusi dalam merekatkan hubungan antar umat beragama," demikian SBY. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya