Berita

Foto/Net

Politik

Presidential Threshold Dan Monster Verbond

SENIN, 16 JANUARI 2017 | 15:37 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

KENAPA masyarakat Amerika menangisi Obama saat menyampaikan pidato perpisahannya sebagai presiden? Karena seperti umumnya presiden Amerika, Obama punya garis perjuangan dan legacy yang jelas yang didedikasikan buat rakyat selama delapan tahun masa jabatannya, antara lain Obamacare, berupa hak-hak rakyat untuk mendapatkan jaminan sosial dan kesehatan.

Di Amerika tugas utama presiden melindungi konstitusi dan menegakkan hukum. Undang-undang dasarnya menjelaskan secara rinci tugas dan kekuasaan seorang presiden. Di Indonesia di era sekarang kita terlalu gampang menyerahkan jabatan presiden kepada orang-orang yang tidak menghayati dan mengamalkan konstitusi, cita-cita proklamasi, dan yang tidak memahami sejarah Indonesia. Sehingga, mengutip Bung Hatta, zaman yang besar ini hanya menghasilkan manusia-manusia berjiwa kerdil, dan dengan jiwa kerdilnya mereka mengkerdilkan bangsanya sendiri.

Calon presiden sekarang dimonopoli ketua umum partai, pengusaha, media darling, pesohor, pemilik media, dan yang terbaru menurut kabar, terdakwa penista agama katanya juga mau dijadikan presiden...


Prinsip-prinsip bernegara dan berbangsa termasuk Pilpres bukanlah kebenaran, melainkan figurnya ngejual atau nggak. Kebenaran dan nilai-nilai baik di kesampingkan, maka tokoh-tokoh yang tampil tidak bisa dibanggakan, tidak punya malu, bertindak salah tapi bersuara keras, dan melukai orang banyak. Elit Indonesia sebelum kemerdekaan mengutamakan pematangan diri dan studi. Ciri pemimpin Indonesia pada masa itu semasa mudanya mengatur hidup mereka secara disiplin menurut cita-cita serta peranan yang mereka idamkan. Masyarakat Indonesia hari ini sepertinya kesulitan dalam asumsi mengenai kepemimpinan, model kepemimpinannya selalu stereotipe, fisik dan citra diri dianggap lebih penting, kalau laki-laki misalnya harus impressive and charming meskipun menipu, ibarat handphone casing-nya saja yang bagus.

Pilpres 2019 yang wacananya kini mulai muncul bersamaan dengan isu presidential threshold adalah critical momentum untuk kebangkitan Indonesia, karena itu wacananya harus wacana visi, kompetensi, wacana integritas moral, standar etika, dan tentang figur yang memiliki keberpihakan kepada rakyat secara jelas. Bukan wacana penjegalan berupa presidential threshold yang merupakan oligarki politik partai-partai di parlemen yang bermasalah. Inti presidential treshold yang merupakan ambang batas partai dalam mencalonkan presiden esensinya adalah untuk membatasi, bahkan untuk menghilangkan figur yang memiliki keberpihakan kepada rakyat secara jelas untuk maju menjadi calon presiden.

Presidential treshold merugikan demokrasi. Pertama, karena menjadi alat untuk menjegal peluang munculnya capres alternatif. Kedua, pemerintah hanya membela kepentingan partai di parlemen. Ketiga, melanggengkan figur-figur capres daur ulang yang terbukti gagal dan bermasalah. Keempat, wacana Pilpres akan semakin tidak menarik dari segi pendidikan politik, demokrasi, dan akal sehat, karena akan didominasi oleh wacana uang dan wacana iklan, utamanya partai-partai besar pendukung presidential treshold akan tetap bertumpu pada kekuatan uang dan para cukong politik, seperti para taipan dan para bandar.
Esensinya, presidential threshold itu belenggu ‘’kolonialisme baru’’ ala para politisi parlemen di Senayan dengan mengatasnamakan demokrasi. Dibutuhkan gerakan moral dan political preassure dari seluruh elemen rakyat pro demokrasi untuk mematahkan pisau jagal bernama presidential threshold ini. Mereka tidak ingin Indonesia jadi negara rakyat, tapi negara partai. Di tahun 1950-an koran-koran menyebut partai-partai di parlemen yang tidak bekerja untuk kepentingan rakyat sebagai Monster Verbond alias perkumpulan para monster atau setan-setan. Partai menjadikan konstitusi sekedar alat untuk perebutan kekuasaan. [***]

Penulis adalah Wartawan Senior Rakyat Merdeka

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya