Berita

Foto/Net

Bisnis

Bebas Visa China Layak Dievaluasi

Banyak Langgar Ketenagakerjaan
SENIN, 16 JANUARI 2017 | 10:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah akan mengevaluasi kebijakan bebas visa. Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Asnawi Bahar meminta, kebijakan tersebut tidak dicabut. Karena, selama ini membantu meningkatkan daya tarik wisatawan datang ke Indonesia.

"Setelah ada kebijakan be­bas visa, jumlah wisatawan meningkat. Jangan karena banyaknya tenaga kerja asing (TKA) ilegal lalu kemudian mengkambinghitamkan kebi­jakan bebas visa," kata Asnawi kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Dia mengatakan, masalah TKA ilegal versus kebijakan bebas visa sama seperti masalah tikus di lumbung padi. Jangan untuk member­sihkan tikus, jangan lumbung padinya dibakar. Nah, untuk masalah TKA ilegal, jangan kebijakan bebas visanya yang dicabut.


Menurutnya, ada beberapa langkah yang bisa dilaku­kan untuk meminimalisir penyalagunaan bebas visa. Antara lain, memberlaku­kan tiket pulang pergi bagi wisatawan mancanegara. Ke­mudian, bebas visa tersebut harus dibatasi masa waktunya dengan jelas. Turis yang tidak kembali ke negaranya harus diberikan sanksi tegas.

Selain itu, pemerintah juga harus mewajibkan wisatawan yang datang rombongan harus dipastikan menggunakan jasa biro perjalanan dari Indone­sia bukan dari negara asal. Dengan demikian pemerintah semakin mudah melakukan kontrol.

Saat ditanya dugaan TKA ilegal China, Asnawi mengakui, wisatawan asal Negeri Tirai Bambu paling banyak datang ke Indonesia. Per hari kedatangannya kini mencapai 5 ribu orang. Namun demikian, ditegaskannya, jumlah itu tidak seberapa bila dibandingkan ke negara lain.

"Secara umum di tahun ini (2016) ada 120 juta wisatawan China melakukan perjalanan wisata ke berbagai negara. Dan, yang datang ke Indone­sia hanya 2 juta orang. Soal TKA ilegal, itu tinggal ba­gaimana pencegahannya saja," tuturnya.

Wakil Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Rudiana mengaku tidak masalah kebijakan bebas visa dievaluasi. "Kita juga tidak mau bebas visa justru diman­faatkan untuk masuknya TKA ilegal. Jadi memang harus dievaluasi," katanya.

Rudi mengatakan, selain soal kerugian dan keuntungan, kebijakan bebas visa harus dikaji dari sisi kepantasan. Misalnya, pemerintah mem­berikan kebijakan bebas visa kepada China. Sementara, negara itu sendiri tidak mem­berikan bebas visa kepada wisatawan Indonesia. Apakah itu pantas?

Guru Besar Hukum Inter­nasional Universitas Indone­sia (UI) Hikmahanto Juwana menyampaikan beberapa hal yang patut dijadikan pertim­bangan di dalam melakukan evaluasi. Antara lain, pertama, kemanfaatan.

Menurutnya, kebijakan bebas visa sejatinya untuk mengerek jumlah wisatawan. Tetapi bila negara yang diberikan fasilitas tersebut melakukan pelangga­ran harus dievaluasi.

"Negara yang melakukan pelanggaran, seperti China memanfaatkan untuk masukan TKA ilegal, harus dimorato­rium," usulnya.

Kedua, melihat kondisi perekonomian. Negara yang menurut gross domestic product (GDP) masyarakat­nya tidak meyakinkan untuk berwisata ke Indonesia, harus dievaluasi. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Jepang Akui Otonomi Sahara Solusi Paling Realistis

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:21

Pencanangan HUT Jakarta Bawa Mimpi Besar Jadi Kota Global

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:02

Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah Jadi 4 Kategori, Ini Daftarnya

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:40

Kritik Amien Rais Dinilai Bermuatan Panggung Politik

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30

Pramono Optimistis Persija Menang Lawan Persib

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:18

Putin Klaim Perang Ukraina Segera Berakhir, Siap Temui Zelensky untuk Damai

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:10

JK Negarawan, Pemersatu Bangsa, dan Arsitek Perdamaian Nasional yang Patut Dihormati

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:48

BMKG-BNPB Lakukan OMC Kendalikan Potensi Karhutla di Sumsel

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:41

Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Tanpa Sepengetahuan Irak

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:23

KPK Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Anggota BPK Haerul Saleh

Minggu, 10 Mei 2026 | 09:44

Selengkapnya