Berita

Foto/Net

Bisnis

Nasir Rayu Susi Pakai Kapal Rakitan Anak Negeri

Dukung Industri Perkapalan Nasional
SENIN, 16 JANUARI 2017 | 10:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) Mohammad Nasir meminta Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti menggunakan kapal hasil inovasi anak negeri untuk penyediaan kapal bagi nelayan. Dia pun memastikan kapal ini jauh lebih murah dari yang umumnya dijual di pasaran.

"Saya sudah berbicara dengan Ibu Susi. KKP butuh kapal 3500 dengan ukuran 10 GT, 20 GT dan 30 GT. Kalau kita produksi, sangat mendukung sekali," kata Nasir di sela-sela kunjunganya ke pabrik pembuatan kapal baja, di Cikarang, Jawa Barat, kemarin.

Nasir pun mengapresiasi perkembangan baja untuk men­dukung industri perkapalan nasional saat ini. Menurutnya, sepanjang memiliki inovasi, peneliti-peneliti dan industri yang mendukung riset, industri perkapalan ini akan jauh lebih baik lagi ke depannya.


"Industri kapal ini akan kita dorong agar lebih dikenal di masyarakat. Dan yang penting harganya juga lebih kompetitif bila dibandingkan dengan kapal yang lain," ujarnya.

Lebih lanjut, Nasir menga­takan selama ini kapal-kapal nelayan lebih mengandalkan bahan baku dari kayu untuk pembuatannya. Sementara di satu sisi, harga kayu saat ini har­ganya terus melejit dan makin mahal. Adapun jika menggu­nakan bahan fiber, keseluruhan bahan bakunya harus diimpor dari negara lain.

"Kalau bahan fiber inikan diproduksi di luar negeri. Kalau harganya naik, tentu harga kapal juga naik. Kemudian dia juga akan kena pajak. Sementara kalau kayu pasti limited. Jadi penggunaanya sangat terbatas. Kalau baja, kita bisa penuhi dari dalam negeri," jelasnya.

Nasir sendiri mengaku, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sudah setuju untuk penggunaan baja bagi kapal-kapal nelayan.

"Pembicaraan waktu di Semarang sangat setuju. Tinggal disertifikasi. Begitu selesai, dis akan ambil alih modelnya," tuturnya.

Untuk itu, dia mendorong para pelaku industri perkapalan segera melakukan sertifikasi agar kapal berbahan baja ini bisa segera diproduksi massal.

"Kalau kita produksi, akan sangat mendukung sekali.Karena itu harus cepat distan­dardisasi sehingga bisa kerja sama untuk sediakan platnya tadi. Jadi ini harus kita garap betul," katanya.

Nasir mengatakan, ke depan untuk konstruksi kapal meng­gunakan bahan baja. Selain proses pembuatanya lebih mudah dan lebih cepat, usia penggunaannya pun relatif bisa lebih panjang. Kebutuhan ba­han bakunya pun bisa dipasok dari dalam negeri.

"Bagi pemerintah, bagaimana agar industri baja bisa meningkat dengan baik. Termasuk ritel­nya," jelasnya.

Nasir memastikan kapal baja yang akan diperuntukkan bagi nelayan ini 100 persen buatan anak negeri. Harganya pun di­pastikan lebih murah daripada kapal kayu yang biasa dibuat nelayan dan kapal kapal fiber yang sebelumnya pernah diproduksi Kementerian Kelautan dan Perikanan.

"Anggapan bahwa baja itu mahal keliru karena dibuktikan disini ternyata jauh lebih murah dari kayu dan fiber. Life time juga dua kali lipat dari fiber dan kayu karena usianya bisa sampai 20 tahun lebih. Kemudian hemat energi. Jadi jauh lebih menjanji­kan," katanya.

Untuk itu, dia mengajak Menteri Susi untuk berkontribusi bagi industri anak bangsa. Apalagi bahan baja yang akan digunakan nanti 100 persen lokal. Harganya pun menurutnya, jauh lebih murah. Pengerjaannya pun jauh lebih cepat.

"Kita ambil contoh untuk 10 GT, fiber itu Rp 420 juta, kalau kayu 350 juta. Sementara kalau baja bisa 270 juta. Jauh lebih murah. Kemudian kalau diproduksi 1 hari itu bisa 10 kapal. 1 bulan bisa 300 kapal. Kita bisa suplai 3.500-3.600 kapal. Tinggal jam kerja saja ditambah. Jadi sangat memung­kinkan," jelasnya.

Kendati demikian, bekas Rektor Universitas Diponegoro ini menilai penggunaan baja bagi industri kapal nelayan ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, saat ini sumberdaya manusia untuk ekspansi ini masih terbatas.

Di tempat sama, Pakar Perkapalan Universitas Indonesia (UI) Hadin mengkritik kebijakan Menteri Susi yang mengandal­kan bahan fiber untuk penyediaan kapal nelayan. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya