Berita

Fuad Bawazier/Net

Bisnis

Arus Balik Mazhab Ekonomi Dunia?

SENIN, 16 JANUARI 2017 | 07:40 WIB | OLEH: FUAD BAWAZIER

DUA negara pelopor mazhab globalisasi ekonomi/free trade/privatisasi/kapitalisme dengan pasar bebas adalah Amerika Serkat (AS) dan Inggris. Dimulai sejak Presiden Ronald Reagan dan PM Margareth Thatcher. Dengan bantuan IMF, Bank Dunia, WTO dan sebagainya, gerakan mazhab ekonomi ini dengan cepat mendunia.

China yang baru bangun dari tidur lamanya segera memanfaatkan gelombang globalisasi dengan sistem kapitalisme dan free trade ini dan sukses besar mendongkrak pertumbuhan ekonominya melalui arus masuk investasi dan teknologi ke negerinya sehingga menjadi negara dengan cadangan valas terbesar di dunia, melebihi 3 triliun US dolar.

Kini China diperhitungkan di kancah internasional sebagai salah satu adidaya ekonomi dan militer. Hebatnya China mampu memanfaatkan gelombang kapitalisme pasar bebas dunia yang digerakkan negara-negara Barat ini tanpa mengubah sistem politik dan ketatanegaraan di dalam negerinya.


Sebaliknya Indonesia, negeri yang sebenarnya paling tidak (belum) siap menghadapi gelombang perubahan yang dipelopori Amerika dan Inggris itu, tetapi paling getol mendukungnya. Sampai-samapi konstitusi dan sistem ketatanegaraannya ikut drastis diubah.

Bila China berhasil mengubah negerinya menjadi produsen dan eksportir utama dunia, Indonesia justru semakin bergantung pada import dan menjadi sasaran konsumen dunia.

Dalam 3 dekade perkembangannya, mazhab ini mulai menuai kritik dahsyat terutama dari kelompok masyarakat yang merasa dirugikan. Sangat mengejutkan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) yang lahir sebagai produk dari mazhab globalisasi pasar bebas.

Kini Donald Trump, pengusaha yang amat mempercayai ekonomi pasar dan peran swasta dalam ekonomi, terpilih sebagai Presiden Amerika. Sejak awal masa kampanyenya Trump menyerang praktik-praktik globalisasi dan free trade and investment. Trump lebih mempercayai ekonomi nasional dengan sistem proteksionisme baik dalam bidang investasi maupun perdagangan.

Dua negara besar ini, USA dan UK, selalu dikenal mampu mewarnai wajah atau ideologi ekonomi dunia. Karena itu, bila trend yang terjadi di Inggris dan Amerika ini berlanjut, nampaknya dunia akan kembali mengatur sistem ekonominya dengan cara lama alias sistem proteksionisme yang dinilai sebagai instrumen koreksi atas ketimpangan ekonomi antar negara. Trump atau Amerika mulai melarang produsen otomotif yang akan memasarkan produksinya ke USA mendirikan pabrik baru di Meksiko. Rencana TPP (Trans Pacific Partnership) dihentikan. Sistem tarif (bea masuk) akan digencarkan lagi di Amerika. Perlindungan terhadap buruh di dalam negeri mereka akan diutamakan.

Dapat diperkirakan kebijakan ekonomi baru Inggris dan Amerika ini akan terus berlanjut dan pelan-pelan menggerogoti arus kebebasan globalisasi free trade dan investasi yang mereka nilai lebih menguntungkan China. Sehingga Amerika dibawah Trump kini menyerukan "MAKE AMERICA GREAT AGAIN".

Sementara itu, Indonesia yang jelas-jelas kedodoran dalam mengikuti arus globalisasi free trade dan kapitalisme internasional, justru semakin getol dan latah mendukungnya sampai sampai hampir telanjang bulat tanpa proteksi apapun. Seakan akan sedang menyerukan "MAKE INDONESIA OCCUPIED AGAIN".

Praktis semua kekayaan alam, industri strategis dan barang-barang konsumsi sehari hari sudah dikuasai asing. Saking globalisasinya, pulau-pulau dan posisi-posisi atau jabatan-jabatan strategispun akan "diglobalisasikan" atau ditawarkan ke asing. Konon para pekerja hiburan malam dan pekerja iseng pemuas hidung belang juga sudah dijarah pendatang asing. Lalu apa yang tersisa untuk anak bangsa ini? Wallahualam bisawab. [***]

Penulis adalah mantan Menteri Keuangan era Orde Baru

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya