Berita

Foto/Net

Politik

PILKADA JAKARTA

Berapa Banyak Pengaruh Debat, Inilah Hitung-hitungan Pendiri LSI Denny JA

SABTU, 14 JANUARI 2017 | 11:19 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Berapa banyak pemilih yang akan terpengaruh dengan debat tiga pasangan Cagub dan Cawagub DKI Jakarta yang disiarkan stasiun televisi, Jumat malam (13/1).

Seperti diketahui, KPU DKI Jakarta secara resmi menggelar ajang debat publik Pilkada Jakarta 2017, di Hotel Bidakara, Tebet, Jakarta Selatan, tadi malam. Debat itu disiarkan langsung oleh beberapa stasiun televisi.

Menjawab pertanyaaan, seberapa besar pengaruh debat itu terhadap pemilih? Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA bercerita tentang debat capres Amerika Serikat tahun 2016.


Jelas Denny JA, debat capres Hillary Clinton vs Donald Trump yang pertama bulan September 2016 dicatat AC Nielsen sebagai debat yang paling banyak ditonton pemilih sepanjang sejarah Amerika.

Debat itu disiarkan oleh 13 saluran TV dan ditonton total oleh sekitar 84 juta audien. Itu debat mematahkan jumlah audien yang selama ini dipegang oleh debat Capres Reagen vs Jimmy Carter tahun 1980, sekitar 80.4 juta audien.

Denny JA mengungkapkkan, dari total jumlah pemilih Amerika tahun 2016, yang menonton debat yang disebut "paling banyak ditonton dalam sejarah amerika itu" hanya 33 persen saja. Dengan kata lain, mayoritas pemilih sekitar 67 persen, sudah pasti tidak dipengaruhi debat kandidat karena mereka tidak menonton debat itu.

Dan dari yang menonton debat, strong voters atau pemilih yang sudah menetapkan hatinya akan melihat dan menilai debat secara berbeda. Mereka sudah punya semacam filter dan selektor. Akibatnya apapun yang muncul di layar kaca tetap tidak mengubah pilihan. Kecuali jika ada blunder yang fatal.

"Yang mampu diubah oleh debat televisi hanyalah swing voters yang menonton debat televisi. Tapi berapa banyak jumlah mereka? Survei LSI awal Febuari 2017 akan menjawab itu karena tema itu akan muncul dalam pertanyaan," ujar Denny JA, Sabtu (14/1).

Sementara ini, lanjut dia, hanya bisa diberikan angka proksimasi saja. Per hari ini, dari survei LSI bulan Januari 2017, yang belum menentukan pilihan sekitar 9-10 persen. Ditambah dengan yang sudah memilih tapi bukan strong supporters, sekitar total 20 persen. Swing voters yang bisa dipengaruhi sekitar 30 persen.

Katakanlah penonton debat Cagub Jakarta itu prosentasenya sebanyak penonton debat Trump vs Clinton yang memecakan rekor. Jumlah  pemilih yang menonton: 33 persen. Total pemilih yang bisa dipengaruhi oleh debat cagub itu hanya 33 persen dikali 30 persen swing voters (yang belum memilih plus pemilih yang masih ragu) sama dengan 10 persen.

"Hanya sebanyak 10 persen saja dari pemilih yang bisa terpengaruh oleh debat TV! Jumlah yang bisa mengubah dukungan hanya 10 persen saja!" sebut Denny JA.

Ditambahkan, dalam debat yang tertata oleh moderator, dan ada aturan cara berdebat, tema sudah diketahui masing masing team calon sejak lama, debat dibagi dengan aneka sesion, sangat jarang sekali yang hasilnya jomplang. Dalam format itu hampir tidak ada yang bisa menang mutlak, misalnya mengambil swing voters seluruhnya.

"Paling jauh jika dua calon, hasil kemenangan 60 persen verus 40 persen. Jika tiga calon katakanlah bisa 50 persen versus 30 persen versus 20 persen. Jarak yang terbaik dan terburuk jika tiga calon berdebat hanya 20 persen," katanya.

Selisih terbanyak perubahan dukungan setelah menonton debat berarti 20 persen selisih kemenangan dikali 10 persen pemilih yang bisa dipengaruhi sekaligus menonton debat. Debat kemenangan atau kekalahan teburuk yang bisa terjadi hanya mampu mengubah margin dukungan sebanyak 2 persen saja dibanding sebelum menonton debat di TV.

Katakanlah jika sebelum debat dukungan A vs B berselisih 6 persen. Maka menurut Seberapa banyak pemilih yang akan terpengaruh oleh debat Ja, yang paling jauh bisa dicapai setelah debat selisihnya menjadi 8 persen jika plus atau 4 persen saja jika minus.

"Tidaklah heran walau Hilary Clinton diklaim menang seluruh debat sebanyak tiga kali itu, tapi yang menang pilpres Amerika adalah Donal Trump. Trump yang selalu dikatakan media Amerika kalah debat, kalah ketiga-tiganya, tapi akhirnya justru terpilih sebagai presiden Amerika," demikian Denny JA. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya