Berita

Foto/Net

Bisnis

Pertamina Nggak Ambil Untung Banyak Dari Kenaikan Pertamax-Pertalite-Dexlite

RABU, 11 JANUARI 2017 | 10:03 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

PT Pertamina (Persero) banyak mendapat reaksi negatif dari masyarakat terkait kenaikan har­ga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai dari Pertamax series hingga Pertalite dan Dex­lite pada awal tahun ini.

Dijelaskan Wakil Direktur Uta­ma Pertamina Ahmad Bambang, mekanisme penetapan harga Per­tamax series berbeda dengan Solar dan Premium yang merupakan BBM bersubsidi dan penugasan.

Penetapan harganya diatur dalam Peraturan Presiden No­mor 191 Tahun 2014 (Perpres 191/2014).


Dikatakan, dalam pasal 15 ayat 2 Perpres 191 Tahun 2014 dise­butkan, untuk Harga Indeks Pasar (HIP) BBM umum ditetapkan oleh Badan Usaha dan dilaporkan kepada Menteri ESDM.

"Artinya, Pertamina sebagai badan usaha cukup melaporkan saja harga Pertalite, Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamax Turbo pada Menteri ESDM," kata Bambang di Jakarta.

Meski begitu, Bambang mengklaim Pertamina tidak bisa mengambil untung setinggi langit karena Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2014 membatasi margin untuk BBM umum sebesar 5-10 persen.

Bambang mengatakan, Dexlite, Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo adalah BBM umum atau sama dengan BBM yang dijual di SPBU Shell, Total, dan AKR. Sehingga harganya memang fluktuatif dan bisa berubah setiap dua minggu karena mengikuti harga minyak dunia dan nilai tu­kar rupiah terhadap dolar AS.

"Perubahan harga BBM umum adalah hal yang biasa saja. Harga BBM di SPBU Shell, Total, dan AKR pun berubah-ubah," ujarnya.

Sekretaris Ditjen Migas Kemen­terian ESDM Susyanto menjelas­kan bahwa ada 3 kategori BBM. Pertama, BBM yang disubsidi seperti Solar dan minyak tanah.

Kedua, BBM penugasan sep­erti Premium. Sementara ketiga, BBM umum, yaitu Pertalite, Pertamax, Pertamax Plus, Perta­max Turbo tidak disubsidi.

"Pertamina hanya menaikkan BBM umum, badan usaha boleh menetapkan dengan margin 5-10 persen. Pemerintah memastikan BBM non subsidi tetap terjang­kau sekaligus tetap kompetitif, karena kita menetapkan batas harga tertinggi dan terendah­nya," tegas Susyanto.

Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria menilai, kenai­kan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi seperti Per­tamax, Turbo, Pertalite, Dex dan Dexlite yang dijual Pertamina atau badan usaha lain seperti Shell, Total dan AKR disebab­kan naiknya harga minyak dunia sejak bulan lalu.

"Harga BBM yang naik hanya yang non subsidi. Harga BBM ini memang mengikuti harga pasar yang pada bulan lalu rata-rata berada di angka 44-47 dolar AS per barel, saat ini naik 52-55 dolar AS per barel sehingga tentu saja harga produk juga ikut naik," terang Sofyano.

Menurut Sofyano, kenaikan harga jual BBM keekonomian (non subsidi) juga terjadi di seluruh dunia. Kecuali pada negara-negara yang memang masih mensubsidi BBM-nya.

"Disamping karena naiknya harga minyak dunia, harga BBM non subsidi/keekonomian juga terpengaruh dengan kurs dolar AS," tambah Sofyano.

Sayangnya, kenaikan harga BBM non subsidi ini malah di­manfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menaikkan harga bahan ba­kar pokok. "Kenaikan harga BBM non subsidi seharusnya tidak ber­pengaruh terhadap harga bahan-bahan pokok. Karena harga solar dan premium yang merupakan BBM bersubsidi dan penugasan tidak naik," katanya. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya