Berita

Effendi Simbolon/Net

Wawancara

WAWANCARA

Effendi Simbolon: Pemerintah Harusnya Seperti Wasit Dong, Toh Di Pilpres Bisa Menang Juga Karena Netizen

MINGGU, 08 JANUARI 2017 | 10:02 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Politikus PDI Perjuangan ini tidak setuju jika saat ini In­donesia dikatakan sedang darurat hoax (berita bohong). Dia menilai, hoax hanyalah masalah kecil jika dibanding­kan dengan permasalahan lainnya di republik ini.

"Saat ini masalah kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif listrik, dan barang lainnya justru yang lebih darurat bos. Masalah -masalah itu lebih perlu segera diatasi dari pada masalah hoax," ujarnya.

Anak buah Megawati Soekarno Putri ini meminta agar pemerin­tah tidak mendramatisir situasi, dan bertindak berlebihan untuk mengatasi masalah hoax di medsos. Pasalnya, aturan terkait hal itu sudah jelas. Pemerintah tinggal menerapkannya.


"Kan sudah ada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016, sebagai perubahan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Itu saja diterapkan," tukasnya. Berikut wawan­cara lengkapnya;

Meski Anda bilang tidak darurat, kenyataannya hoax kan menyebar tanpa bisa dibendung?

Hoax di medsos itu banyak karena kita baru memasuki era digital dunia maya. Kita baru menikmati masa enjoy, narsis, pakai media sosial. Masyarakat ingin bebas menuangkan aspirasi dan kreatifitasnya di sana, makanya terkadang berlebihan hingga terciptalah hoax. Tapi tidak berarti pemerintah bisa mengatur, kamu sama si anu jangan begitu. Lalu mengatur yang lain, kalau sama dia jangan begitu, nggak mungkin meng­atur seperti itu.

Kenapa tidak bisa kan pe­merintah berfungsi sebagai regulator?
Karena sosmed dan hoax ini posisinya antar manusia, bukan manusia warga negara dengan pemerintah. Kalau cara dari pemerintah kemudian langsung melarang dan memblokir, itu bukan cara yang bijaksana da­sung melakukan penutupan terhadap beberapa konten media sosial itu sangat mengekang kebebasan masyarakat dalam berekspresi di media sosial.

Padahal seharusnya pemer­intah memberikan unsur kebe­basan kepada masyarakat untuk bisa menyalurkan aspirasi dan meningkatkan kreativitasnya, tanpa harus dibayang-bayangi aksi penutupan yang dilakukan oleh pemerintah.

Tapi hoax itu kan merugi­kan?

Kan sudah ada undang-un­dangnya. Misalnya kalau masuk delik fitnah, ya laporkan saja. Jangan diatur-atur, karena se­olah-olah seperti di koran, kita darurat hoax. Lha kalau ada yang melanggar atau mengancam negara, itu yang harus ditindak, aturannya jelas.

Jadi pemerintah harus bagaimana?
Kalau soal dinamika antarma­nusia pemakai sosmed, pemerintah harusnya luwes, biarkan dinamis.

Pemerintah harus berperan seperti wasit di pertandingan sepak bola. Wasit kan hanya mengawasi dan semprit bila terjadi pelanggaran, wasit tidak mengatur bola harus ditendang ke kiri atau ke kanan.

Maksudnya?

Jadi yang diatur itu hanya batasannya, bukan mengatur orangnya harus bagaimana. Supaya masyarakat menyadari ketika anda begini, akibatnya akan begini. Masyarakat jadi tahu konsekuesi terhadap apa yang dilakukannya di dunia maya.

Pandangan Anda kok seper­tinya cenderung kontra terhadap pemerintah meski Anda politikus Partai pendukung pemerintah?
Tidak kok, saya sangat men­dukung pemberantasan hoax. Saya setuju jika pemerintah mau buat Badan Siber Nasional. Tapi jangan mengatur. Karena kalau dia mengatur, nanti akan membelenggu hak masyarakat. Harusnya mengawasi saja.

Kalau hanya diawasi dan tidak mengatur dengan ketat, apa bisa memberantas hoax?
Bisa saja, selama hukumannya diterapkan dengan tegas, untuk menyebabkan efek jera. Jadi kalau sudah diblokir, jangan ada lagi misalnya bisa direhabilitasi agar nanti bisa aktif lagi. Sekali semprit, semprit saja. Jangan buka celah untuk digugat atau disangkal.

Ada masukan lain kepada pe­merintah terkait masalah ini?
Saya sarankan agar pemerintah lebih rileks menyikapi masalah ini. Coba adakan pertemuan dengan netizen, guna mensosial­isasikan masalah ini. Rangkul mereka, ajak diskusi, dan berikan pemahaman dulu biar mereka juga mengerti batasan-batasan­nya. Jangan langsung tahu-tahu bentuk badan yang siap jatuh­kan sanksi, seperti orang yang memusuhi.

Pemerintahan sekarang kan bisa menang (di pilpres dulu) juga karena merangkul neti­zen. Jadi kenapa menghadapi fenomena ini tidak melakukan hal serupa. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya