Berita

Foto; Setpres

Politik

Jokowi-JK Kembali Tidak Sejalan?

JUMAT, 06 JANUARI 2017 | 20:02 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Di tengah deret isu negatif yang dihadapi pemerintahannya, seperti kemerosotan penerimaan negara, kegagalan tax amnesty, sampai ke kabar pembiaran atas membanjirnya tenaga kerja ilegal asal Tiongkok, publik juga menilai Joko Widodo gagal melakukan konsolidasi politik.  

Kompromi hasil konsolidasi politik setelah kemenangan di Pilpres 2014 malah menciptakan jarak yang makin lebar antara Presiden Jokowi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Indikasi terbaru perpecahan di pucuk pimpinan negara adalah beberapa pernyataan Jokowi dan JK yang tak sejalan dalam sejumlah isu. Misalnya, pernyataan Presiden yang meminta proyek listrik 35.000 megawatt (MW) dihitung ulang karena tidak sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat Indonesia.


Permintaan hitung ulang proyek ambisius itu disampaikan Presiden Jokowi dalam rapat Dewan Energi Nasional (DEN) di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/1). Proyek listrik tersebut sempat menjadi bahan pembicaraan publik, karena disebut-sebut hanya mewakili kepentingan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang belum tercapai saat menjabat orang nomor dua di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). JK sendiri beberapa kali tercatat membela habis-habisan proyek tersebut agar terus berjalan meskipun diragukan banyak kalangan.

Indikasi lain retaknya Jokowi-JK adalah ketika Jusuf Kalla menjelaskan soal proses terbitnya Peraturan Pemerintah atau PP 60/2016 tentang jenis dan tarif penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

PP itu menjadi dasar kenaikan tarif pengurusan surat kendaraan bermotor dan surat izin mengemudi (SIM) di kepolisian. Yang menarik, kemarin tersiar berita yang menyebut Jokowi mempertanyakan kenaikan harga administrasi surat kendaraan dan SIM yang begitu tinggi (hingga 300 persen). Padahal, PP itu ditandatangani oleh dirinya sendiri.

Kepada wartawan di kantornya, hari ini, JK menegaskan bahwa PP atau Perpres tidak mungkin diputuskan oleh Kapolri atau Menteri Keuangan sepihak tanpa persetujuan dan tanda tangan presiden. Dalam kata lain, tak mungkin seorang Jokowi tidak mengetahui kenaikan begitu tinggi dalam kenaikan tarif pelayanan publik itu.

Tak hanya soal PP 60/2016. JK juga juga memberi penjelasan kepada wartawan mengenai rencana pemerintah membentuk Dewan Kerukunan Nasional.

JK menegaskan, rencana itu masih berada di tahap pengkajian akan urgensinya alias masih di tahap sangat awal. Padahal sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, mengatakan bahwa Presiden sendiri telah menyetujui pembentukan Dewan Kerukunan Nasional.

Tidak bisa disangkal, kejadian-kejadian itu menjadi tambahan beban kekhawatiran bagi publik. Bagaimanapun, stabilitas politik sangat dibutuhkan agar keadaan ekonomi dan kohesi sosial yang memburuk belakangan ini bisa segera ditangani dengan baik. [ald]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya