Berita

Monas Jakarta/Net

Politik

Jakarta Dan Tahun Ketidakpastian

SENIN, 02 JANUARI 2017 | 12:30 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

KENAPA di malam pergantian tahun orang membakar petasan, kembang api, dan meniup terompet?

Karena di dalam kebudayaan oriental ada kepercayaan itu dilakukan untuk mengusir roh-roh jahat yang akan datang di tahun yang baru. Energi jahat harus diusir sehingga diharapkan tidak ada lagi sifat-sifat buruk yang akan merusak yang menyebabkan datangnya bencana di tahun yang baru.

Banyak yang percaya 2017 yang merupakan tahun bershio Ayam Api merupakan uncertainty year alias tahun ketidakpastian. Banyak analisis telah disampaikan berkaitan dengan posisi Indonesia yang akan terkena berbagai dampak akibat berbagai kejadian internasional yang akan berpengaruh sepanjang 2017 ini secara geopolitik maupun geoekonomi.


Dalam skala domestik, kalau dulu pemerintahan SBY diawali dengan bencana dahsyat tsunami, dua tahun pemerintahan Jokowi saat ini dinodai oleh kasus penistaan agama yang dilakukan oleh terdakwa Ahok. Seperti diketahui, kasus ini punya skala magnitude dan resonansi yang besar sekali karena membentur sendi-sendi kerukunan antar umat beragama dan toleransi sosial yang berisiko tinggi terhadap keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

Guncangan kasus penisataan agama ini dimulai dengan intro-intro sebelumnya yang juga melibatkan Ahok seperti kasus reklamasi, kasus Sumber Waras, kasus lahan Cengkareng, dan beberapa lainnya.

Bagi warga Jakarta yang menjadi korban penggusuran Ahok, 2017 sebagai uncertainty year menjadi sebuah keniscayaan atau seperti ungkapan Latin, heri est historia, crastinum mysterium, kemarin sejarah belaka, sedangkan besok masih misteri.

Para korban penggusuran ini sebagaimana banyak diberitakan oleh media massa (yang non partisan)mengalami ketidakpastian kehidupan setelah direlokasi ke sejumlah titik rusun di pinggiran Jakarta. Antara lain karena tidak mampu membayar sewa bulanan, sulit menjangkau akses seperti transportasi karena ongkos yang mahal, terpisah jauh dari lokasi kerja atau tempat mengais rezeki, dan berbagai problem lainnya, yang bagi penguasa Jakarta persoalan ini seolah ibarat debu tipis belaka yang tidak terlihat.

Bagi masyarakat nelayan yang menjadi korban gusuran dan kehilangan sumber nafkah di laut akibat proyek reklamasi, 2017 juga merupakan uncertainty year.

Nelayan dan petani di negeri maritim dan agraris yang kaya ini telah menjadi pengembara dan menjadi pejalan kaki yang murung dengan masa depan yang gelap, memasuki hutan rimba perkotaan seperti Jakarta yang bengis, mereka tergolek tidak berdaya menjadi "orang sisa-sisa" atau remah-remah dari piring pesta pora para Taipan yang mengambil apa saja dari setiap jengkal tanah Jakarta atas nama pembangunan (?)

Ungkapan Tahun Ketidakpastian di dalam tulisan ini bukanlah gambaran tentang pesimisme, melainkan gejala nyata tentang berbagai kemunduran yang masih akan dialami oleh warga Jakarta, terutama mereka yang lemah.

Penguasa Jakarta yang akan muncul dari hasil Pilgub Februari nanti bukanlah jawaban, sebab kontestasi politik lokal ini bukan saja dari segi figuristik dan gagasan serba tidak menarik tetapi juga berlangsung secara tidak sehat dari aspek pendidikan politik yang seharusnya mengedepankan etika dan moralitas.

Bolehlah kita prihatin di 2017 ini warga Jakarta akan terperangkap dalam situasi sulit: lepas dari mulut singa akan masuk ke mulut buaya, atau sebaliknya, - atau tetap di mulut singa.

Itulah kira-kira ilustrasi dari hasil Pilgub Jakarta bulan depan. [***]

Wartawan Senior Rakyat Merdeka

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya