UNTUK kesekian kalinya, Turki menjadi target teror. Pada 10 Desember yang lalu, dua bom meledak di luar sebuah stadion sepak bola, menewaskan 44 orang dan melukai lebih dari 150. Sebelumnya, di bulan Juni, sekitar 45 orang tewas dan ratusan luka-luka ketika bom meledak di bandara utama Ataturk, Turki. Dua pekan yang lalu, Duta Besar Rusia utuk Turki tewas ditembak seorang polisi di Turki.
Siapa sebenarnya pelaku rentetan teror ini? Satu aktor atau berbeda? Apa motifnya?
Eskalasi teror di Turki mengalami peningkatan yang sangat signifikan sejak Turki memutuskan untuk bergabung dengan aliansi Rusia untuk memerangi Kelompok ISIS di Suriah. Sebelumnya, Turki tergabung dalam aliansi pimpinan Amerika Serikat. Namun pasca kejadian kudeta gagal, Presiden Recep Tayyip Erdogan merubah haluan politiknya. Perubahan ini didasari kekecewaan pada AS yang dinilai tidak berpihak pada Erdogan terkait dengan percobaan kudeta terhadap dirinya. AS menolak permintaan Erdogan untuk mengekstradisi Fethullah Gulen, yang olehnya dianggap sebagai dalang percobaan kudeta.
Perubahan kiblat politik Erdogan dari AS ke Rusia membuat peta politik berubah total. Posisi ISIS menjadi sangat tertekan dan terpojok, karena selama ini mereka memanfaatkan Turki sebagai pintu masuk-keluar untuk menyelundupkan milisinya. Kini, pintu itu tertutup dan mereka terperangkap di Suriah. Jatuhnya kota Aleppo ke tangan pemerintah Suriah tak terlepas dari faktor dan peranan Turki ini.
Semakin dekatnya persahabatan politik antara Turki dan Rusia menjadi faktor yang membuat Turki semakin menjadi sasaran aksi teror, termasuk oleh ISIS. Kiprah Turki yang semakin aktif memberantas ISIS di Suriah, membuat kelompok ini menjadikan Turki sebagai skala prioritas aksi terornya.
Di dalam negeri, perubahan kiblat politik Erdogan ini membuat posisi politiknya semakin rentan. Beberapa faksi politik dan kelompok kemerdekaan Kurdi akan memanfaatkan momen ini untuk menggoyang Erdogan dari kursi kekuasaan.
Melihat peta politik diatas, teror yang melanda Turki belakangan ini bagian dari resiko dan konsekuensi politik yang dihadapi Erdogan sebagai imbas perubahan kiblat politiknya ke Rusia.
Teror di klub malam Reina bisa saja bukan aksi teror terakhir. Masih mungkin akan ada teror-teror lainnya yang ditujukan untuk menekan Erdogan secara politis agar goyah, atau setidaknya merubah haluan politiknya untuk tidak berkiblat ke Rusia.
[***]
Penulis merupakan ketua Pusat Studi Hubungan Indonesia-Timur Tengah; Kolumnis di Kompas, Media Indonesia, majalah Tempo dan pengamat politik Timur Tengah