Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Rusunawa Berpotensi Jadi Kantong Kemiskinan Baru

JUMAT, 30 DESEMBER 2016 | 23:07 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Biaya hidup di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) semakin tinggi, sementara pendapatan warganya tidak bertambah. Karena itu, Rusunawa, yang menjadi tempat relokasi warga korban penggusuran di berbagai wilayah, berpotensi menjadi kantong-kantong kemiskinan baru.

"Bahkan kemiskinan yang dialami bisa lebih parah dari lokasi sebelumnya yang digusur," kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS),  Triwisaksana, dalam keterangan beberapa saat lalu (Jumat, 30/12).

Penghuni Rusunawa, masih menurut Triwisaksana, rata-rata harus mengeluarkan biaya lebih banyak dibanding tempat tinggal sebelumnya karena saat ini harus membayar sewa rumah cukup tinggi untuk ukuran ruangan yang tidak besar, biaya listrik yang yang lebih dari dua kali lipat dibanding sebelumnya dan air bersih yang juga meningkat dua kali dibanding sebelumnya. Kenaikan biaya yang paling besar dirasakan untuk biaya transportasi untuk bekerja maupun ke sekolah yang bisa melonjak 5 kali lipat.


"Penyediaan bus yang katanya gratis dari Transjakarta tidak sesederhana yang dibayangkan dalam membantu transportasi warga. Karena kedatangan bus yang jarang dan juga waktu yang tidak sesuai dengan waktu keberangkatan ke tempat kerja dan sekolah. Akibatnya warga harus tetap mengeluarkan biaya sendiri," kata Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta ini.

Ia pun menambahkan, warga yang ditempat tinggal semula bisa berdagang atau usaha rumah tangga, sekarang ini menjadi sulit di Rusunawa karena sepi pembeli. Pendapatan berkurang sementara biaya bertambah tinggi, akibatnya banyak dari mereka yang terpaksa berhutang dan sebagian menunggak membayar sewa rusun atau membayar listrik. [ysa]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya