Berita

Adhi Karyono/Net

Wawancara

WAWANCARA

Adhi Karyono: Ada Titik-titik Distribusi Di Bima Yang Belum Terjangkau

SELASA, 27 DESEMBER 2016 | 10:23 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA) yang juga pentolan Taruna Siaga Bencana (Tagana) ini ikut terjun ke Kota Bima, saat banjir ban­dang menghantam daerah tersebut. Namun diakui distribusi bantuan belum merata sepenuhnya.
 
Adhi Karyono mengatakan, hal tersebut terjadi lantaran keterbatasan personel, sebaran titik pengungsi di kota itu cukup banyak, dan daya jangkau pada waktu itu masih sulit. Berikut wawancara selengkapnya;

Sejak hari apa Tagana turun ke Kota Bima?
Sejak hari pertama banjir, malamnya.

Sejak hari pertama banjir, malamnya.

Apa anda juga terjun lang­sung pada first flight dari Jakarta yang ditugaskan Mensos?
Yang first flight itu staf kami, karena saya posisi saat itu di Aceh. Baru saya banjir susulan ke dua saya datang lagi, karena menganggap waktu itu (pascabanjir pertama) sudah mulai bagus, penanganan daruratnya. Tapi begitu melihat perkem­bangan, ternyata banjir lagi. Barulah kita terbang lagi. Tapi Tagana sudah bekerja dari banjir pertama. Pergerakannya seperti itu.

Apa yang Tagana lakukan pada hari-hari pertama pas­cabanjir?
Tugas awal yang pertama, ketika kondisi lumpuh Tagana dikerahkan, bukan Tagana dari Kota Bima tapi dari luar Kota Bima. Kita membuat dapur um­um. Konsumsi itu awal-awal, satu dua hari itu dari Tagana.

Kemudian setelah itu sampai sekarang bertambah karena semua sampai hari keempat masyarakat belum bisa mema­sak. Suplay makanan dan distri­busi bantuan masih dari Tagana kerjasama dengan pengawalan dari TNI. Kondisinya memang cukup berat.

Kabarnya, distribusi ban­tuan tidak merata?
Karena seluruh kota itu masif pengungsinya. Kemudian mem­bersihkan rumahnya, semua terdampak 109 ribu orang, 85 ribu orang mengungsi. Maka otomatis jumlahnya sangat ban­yak. Sehingga distribusi karena keterbatasan kendaraan, pers­onel Tagana maupun TNI/ Polri yang juga terkena dampak itu yang menjadi sulit.

Lalu sinergitas dengan BNPB bagaimana?
Tidak ada masalah, terlihat ketika rapat dengan BNPB sudah sesuai dengan fungsinya masing-masing. Kemudian BPBD di sini kita berbagi tugas. Kita bagian dapur umum, psikososial dan pengungsian. BPBD mengelola logistik. Nah logistiknya yang diperlukan tim dapur umum juga dipasok, itu komunikasinya bagus.

Kemudian titik-titik pengung­sian juga sama ketika pengiriman barang ke sana juga terpenuhi. Justru saat ini nggak ada masalah. Masih koordinasi dengan bagus, mungkin karena pertama soal keamanan. Karenanya perlu tetap ada keamanan dari tentara.

Tapi benar, ada titik-titik yang belum terjangkau bantuan?
Ada titik-titik distribusi yang memang kita belum sampai masuk ke sana. Karena memang jumlah titiknya banyak, jadi itu tugas logistik saja. Kita penan­ganannya di pengungsian.

Titik krusial mana yang sampai saat ini masih sulit dijangkau Tagana?
Ada. Kelurahan Tanjung. Di situ memang ada 1.500 orang yang kelihatannya belum terk­oordinir dengan baik. Kita coba masuk, besok pagi kita buat posko pengungsian dan dapur umumnya di situ.

Kenapa bisa krusial?
Itu memang krusial, dari sisi keamanan dan kerawanan begitu lah ya. Karena daerah nelayan. Tapi Insya Allah tadi sudah ko­munikasi, sudah masuk Tagana di sana.

Apa ada penambahan pers­onel Tagana baru dalam waktu dekat?
Kelihatannya ada, dari Mataram, dari Lombok yang rencananya akan ditambah. Karena kebutuhan berikutnya adalah setelah ini kerja bakti untuk pembersihan-pembersihan. Dan juga untuk ekspansi pada titik-titik yang belum terjangkau.

Pos-pos pengungsian, dit­injau dari sisi kelayakan dan kesehatan khususnya untuk bayi dan anak-anak saat ini bagaimana?
Justru sudah hari keempat dan kelima ini kelihatannya sudah mengarah ke kebutuhan-kebutuhan khusus.

Di mana karena lingkungan­nya belum bersih, masyarakat belum bisa menempati rumah dengan baik karena belum dibersihkan semuanya, seh­ingga anak-anak terutama, juga lansia itu tinggal di Masjid. Ini yang dikhawatirkan kesehatan­nya. ***

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Nicko Widjaja: Investasi ke TaniHub Bukan Kehendak Pribadi

Kamis, 04 Juni 2026 | 22:07

Bos BEI Minta Investor Tidak Panik saat IHSG Anjlok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:57

Di Tengah Gejolak Global, Investor AS Tetap Lirik Peluang di Bali

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:56

Pimpinan Baru BGN Fokus Optimalkan MBG ke Daerah 3T

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:36

Istana Beri Sinyal Said Iqbal Bakal Masuk Kabinet

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:29

Kejagung: Dapur MBG Afiliasi Dadan Cs Tetap Jalan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:22

Legislator PDIP Dorong Kejelasan Skala Prioritas Kurikulum Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Sinergi Polda Sumsel, PTPN IV Optimalkan Sistem Pengamanan Aset Perkebunan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Kepala dan Dua Wakil BGN Baru Dilantik Senin Besok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:17

Sesuai Survei, Kinerja Pertamina Berhasil Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:13

Selengkapnya