Berita

Foto/Net

Politik

Ayatullah Khamenei: Negara-negara Muslim Harus Saling Memperkuat Dan Hindari Perpecahan

KAMIS, 15 DESEMBER 2016 | 09:17 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei menilai konflik yang sedang terjadi di kawasan Asia Barat sebagai konflik yang dipaksakan dari luar dan berdasarkan tujuan-tujuan jahat asing.

Ayatullah Khamenei mengungkapkan hal itu dalam pertemuan dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, di Tehran, Iran, Rabu (14/12).

"Banyak krisis telah diciptakan dengan tujuan agar krisis yang paling sulit di kawasan dan masalah utama dunia Islam yaitu isu Palestina terlupakan, padahal masalah ini tidak boleh dilupakan," kata Ayatullah Khamenei ketika memuji posisi Indonesia terkait isu Palestina.


Presiden ketiga Republik Islam Iran itu menambahkan, negara-negara Muslim harus bertindak berlawanan dengan keinginan musuh, yaitu harus saling memperkuat satu sama lain dan menghindari perpecahan.

Ayatullah Khamenei juga menyinggung berbagai kapasitas yang dimiliki Iran dan Indonesia dan menyerukan peningkatan pertukaran ekonomi dan kerja sama di bidang ekonomi, politik dan budaya.

"Republik Islam Iran menilai kemajuan dan kemuliaan Republik Indonesia sebagai sebuah negara muslim yang padat penduduknya sebagai sumber kebanggaan umat Islam," sebut dia seperti dikabarkan parstoday.

Ayatullah Khamenei menyinggung berbagai kemajuan baik Indonesia dan menyebut pandangan Iran terhadap Indonesia sebagai sebuah pandangan atas dasar persaudaraan dan kerja sama.

"Republik Islam Iran juga memiliki banyak kapasitas di berbagai bidang; ekonomi dan sumber daya mineral serta pertambangan, dan kami percaya negara-negara Muslim harus saling memperkuat satu sama lain dan menghindari perpecahan," jelasnya.

Dia menilai tingkat pertukaran ekonomi yang rendah antara Iran dan Indonesia sebagai tidak sebanding dengan berbagai kapasitas yang dimiliki kedua negara. "Dengan menentukan tahap-tahap waktu, level pertukaran ekonomi (kedua negara) harus ditingkatkan ke angka misalnya 20 miliar dolar (pertahun)," tegasnya.

Ayatullah Khamenei juga menyinggung berbagai kesepakatan dan kontrak antara Iran dan Indonesia. Dia menuturkan, upaya harus dilakukan bahwa perjanjian-perjanjian ini akan dikonversi ke dalam tindakan. Tentu saja, lanjutnya, ada penentangan terhadap kerja sama ini, namun harus mengatasinya dengan penuh serius dan keinginan kuat.

Di bagian lain pernyataannya, Ayatullah Khamenei memuji karakter luar biasa Presiden pertama RI Soekarno dan peran pentingnya dalam pembentukan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung yang merupakan landasan utama pembentukan Gerakan Non-Blok (GNB).

"Hari ini, posisi politik Republik Indonesia dan Republik Islam Iran di badan-badan internasional berdekatan satu sama lain," imbuhnya.

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menyinggung peristiwa gempa bumi di Aceh baru-baru ini dan mendoakan para korban dalam bencana alam itu agar mendapat pengampunan di sisi Allah SWT dan juga para keluarga mereka diberi kesabaran.

Selama pertemuan yang juga dihadiri oleh Republik Islam Iran Hassan Rouhani, Presiden Jokowi mengungkapkan minat dan ketertarikan rakyat Indonesia kepada Iran. Menurutnya, tujuan utama kunjungannya ke Iran adalah untuk memperluas hubungan ekonomi, terutama di sektor energi.

Ia mengatakan, kami telah melakukan perundingan konstruktif dengan pemerintah Iran dan disepakati bahwa selain kerjasama di sektor gas dan kilang minyak, perusahan-perusahaan Iran termasuk perusahaan MAPNA juga akan berinvestasi dalam pembangunan pembangkit listrik di Indonesia.

Presiden Jokowi juga menyinggung bahwa kerja sama tersebut merupakan babak baru dari hubungan Jakarta-Tehran. Menurutnya, peningkatan pertukaran ekonomi hingga batas 20 miliar dolar adalah satu hal yang bisa dicapai.

Presiden Jokowi menilai, selain terkait energi, bidang-bidang lain seperti pariwisata dan pertukaran ilmu pengetahuan sebagai topik yang menarik untuk kerja sama.

Presiden Jokowi lebih lanjut menyesalkan instabilitas dan krisis yang terjadi di kawasan. "Kami yakin, jika negara-negara Muslim bersatu, akan berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi besar dan berpengaruh," tegasnya.

Terkait dengan Palestina, Jokowi mengatakan, "Indonesia menganggap dirinya berkomitmen untuk masalah Palestina dan kami serius dan aktif dalam mendukung hak-hak rakyat Palestina," tukasnya. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya