Berita

Ahmad Doli Kurnia/Net

Politik

Tangisan Ahok Bukti Mental Inlander, Menginjak Ke Bawah Menjilat Ke Atas

SELASA, 13 DESEMBER 2016 | 22:38 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Tangisan terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam sidang perdananya bisa dimaknai dalam dua situasi. Politisi muda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menguraikan kedua situasi tersebut.

Situasi pertama adalah tangisan itu buatan dan dilakukan dengan penuh kepura-puraan. Dalam situasi ini berarti Ahok tengah melanjutkan kebiasaan membohongnya seperti yang sering dilakukan selama ini.

"Kalau tangisan bombay, maka itu menunjukkan bahwa Ahok memang memiliki mental "inlander", di mana ke bawah menginjak, ke atas menjilat," ujar Doli dalam keterangan tertulisnya kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Selasa (13/12).


Dijabarkan Doli bahwa masyarakat tentu masih ingat dengan perangai Ahok yang selalu berperilaku kasar dan semena-mena terhadap rakyat biasa. Sementara dalam persidangan tadi, lanjutnya, perilaku kasar Ahok sontak berubah 180 derajat ketika berhadapan dengan hakim yang berkuasa. Ahok nampak tunduk, merendah, bahkan merengek-rengek.

"Jadi ini situasi pencitraan yang ingin membangun kesan seakan Ahok dizalimi," simpul Doli.

Sementara situasi kedua adalah tangisan Ahok itu benar serius. Jika demikian berarti mantan bupati Belitung Timur itu memiliki penyimpangan kejiwaan.

"Sungguh mengerikan ketika kita bisa melihat di dalam satu orang memiliki karakter yang kontras," sambungnya.

Dijabarkan Doli, Ahok yang dikenal bengis, kejam, kasar, dan bergaya preman dengan penuh makian, tiba-tiba bisa beruraian air mata dan cengeng.

"Dalam konteks ini, tentu Ahok sesungguhnya tidak pantas memimpin apapun, karena memiliki mental yang tidak stabil," masih kata Doli.

"Apalagi kalau kita dengar isi tanggapannya di persidangan masih juga ada kebohongan, berilusi, mengundang konflik, dan bahkan masih juga menista Al Quran. Saya kira hakim harus benar-benar catat itu," pungkasnya. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya