Berita

Ansyaad Mbai/Net

Wawancara

WAWANCARA

Ansyaad Mbai: Penyamaran Teroris Wanita Lebih Bagus, Busananya Gampang Sembunyikan Bom

SELASA, 13 DESEMBER 2016 | 09:57 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Begitu mendengar ada terduga teroris ditangkap di Bekasi, pensiunan jenderal bintang dua Polri ini lang­sung menunjuk bahwa mereka masuk dalam jaringan teroris negara Islam Irak-Syria alias Islamic State in Iraq-Syria (ISIS).

 Seperti diberitakan, pada Sabtu (10/12) Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri me­nangkap tiga terduga teroris di kawasan Bintara, Bekasi, Jawa Barat. Satu di antara terduga teroris itu adalah 'calon pengantin' alias orang yang dipersiapkan melaku­kan bom bunuh diri. Dia adalah perempuan berinisial DYN.

Dari tempat penggerebekan, polisi menemukan bom ber­daya ledak tinggi yang dida­sain khusus diletakkan dalam panci. Rencananya bom itu akan diledakkan di depan Istana Negara. Dari hasil pengem­bangan, belakangan polisi juga berhasil menangkap satu orang lagi terduga teroris di Ngawi Jawa Timur yang masuk dalam jaringan teroris Bekasi.


Berdasarkan hasil penelusuran polisi, mereka diduga terkait jaringan Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN) pimpinan Muhammad Bahrun Naim alias Anggih Tamtomo alias Abu Rayan.

Lantas seperti apakah kaitan­nya jaringan teroris bom panci ini dengan ISIS, berikut pen­jelasan penuturan bekas kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai;

Kajian anda, ini bomnya benar akan diarahkan ke Istana Negara?

Arahnya sudah jelas itu, tar­getnya ke Istana Negara.

Mereka ini sebenarnya be­rafiliasi dengan jaringan tero­ris mana sih?

Ke ISIS.

Kenapa ISIS menargetkan Istana Negara?

Karena semua orang tahu Istana itu tempatnya Presiden tinggal, tempatnya bekerja, ber­kantor di situ. Ya justru dalam prosesi (pergantian giliran jaga pasukan pengaman presiden/ Paspampres) itu simbol kesiapan aparat di situ. Justru itu yang mereka targetkan.

Jadi, ini langsung ke jarin­gan internasional, nggak ada kaitannya dengan jaringan teroris di Indonesia?

Lha iya, kan kita tahu ya dulu sebelum ISIS muncul itu di kita ini ada JI (Jama'ah Islamiyah), JAT (Jamaah Ansharut Tauhid), ada NII(Negara Islam Indonesia), kemu­dian ada sempalannya banyak itu.

Lalu?
Nah, setelah ISIS muncul semua kelompok itu kiblatnya ya ke ISIS sana.

Kok bisa begitu?

Figur-figur lama di Indonesia menyerukan kepada mereka untuk bergabung ke sana (ISIS). Bagi yang tidak mampu diseru­kan berjihad di dalam negeri.

Kabarnya, pelaku pernah menjadi TKI di Taiwan. Apa ada korelasinya?
Saya belum dapat informasi sih soal itu.

Jadi gerakan mereka di bawah komando atau berhubungan se­cara langsung dengan ISIS?
Kalau toh tidak secara lang­sung, mereka mengidentikkan diri dengan ISIS itu.

Maksud anda?
Mereka tidak perlu harus ber­gabung ke sana, lewat Medsos (media sosial) mereka bisa melakukan radikalisasi. Lewat medsos-medsos. Sehingga ban­yak, kadang-kadang satu orang saja juga bisa melakukan.

Contohnya?
Seperti contoh kasus di Tangerang itu, penyerangan polisi di Tangerang.

Artinya?
Bahwa kelompok-kelompok kecil pecahan dari JI, JAT, NIIitu sekarang sudah tidak terikat dengan kelompok lamanya. Mereka mengikatkan diri kepada ISIS(Negara Islam) itu dan bisa saja mereka membuat nama-nama baru.

Kenapa sekarang pelaku teror justru dilakukan oleh kalangan wanita?
Penyamarannya lebih bagus, apalagi berbusana seperti orang Arab. Gampang sekali me­nyembunyikan bom di dalam badannya.

Selain itu?
Dan biasanya petugas agak lengah, kendur, kalau (meng­hadapi) perempuan, pemerik­saan di pintu-pintu masuk lebih kendur.

Sebelumnya perempuan me­mang ikut juga dilibatkan seba­gai pelaku bom bunuh diri?
Ada rencana untuk menjadikan 'pengantin' dari kalangan perem­puan, tapi belum sampai sejauh persiapan sekarang ini. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya