Berita

Foto/Net

Politik

Penundaan Moratorium UN Disesalkan Sejumlah Pihak

SENIN, 12 DESEMBER 2016 | 13:24 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Penundaan moratorium Ujian Nasional (UN) dikeluhkan banyak pihak. Apalagi alasan penundaan tersebut adalah adanya kekhawatiran akan motivasi belajar anak-anak yang akan menjadi rendah.

Dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Novi Chandra mengatakan, motivasi belajar anak tidak tergantung dengan UN.

"Pengalaman saya sebagai ibu dan guru, justru melihat bahwa anak-anak, semangat belajar mereka didasari rasa keingintahuan yang luar biasa akan ada yang ada di sekitarnya," ujar Novi dalam keterangannya, Senin (12/12).


Menurutnya, ungkapan bahwa anak-anak akan termotivasi jika ada UN, sesungguhnya telah menampar wajah pendidikan. "Apakah serendah itu kita melihat level motivasi belajar anak-anak? Hanya karena faktor eksternal yang bernama UN?" tanya dia.

Senada, pengamat pendidikan Doni Koesoema mendukung moratorium atau penghapusan UN. Menurutnya, Mendikbud tidak boleh kalah dengan penggagas UN. Alasan utamanya adalah dari sisi pedagogis, UN merusak seluruh struktur dan sistem pembelajaran otentik.

"Selama 13 tahun kita melaksanakan UN, kualitas kita tak terbukti meningkat," kritik Doni.

Jelas dia, ada banyak alternatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan selain melalui UN yang terbukti sudah gagal.

Doni menambahkan, dalam menghadapi persaingan global memang butuh persiapan sumber daya manusia (SDM). "Pendidikan adalah jalan satu-satunya untuk meningkatkan daya saing global itu," tandasnya.

Apalagi, kata dia, saat ini daya saing SDM Indonesia masih tergolong rendah, mengacu World Competitiveness report 2016-2017, daya saing SDM, Indonesia melorot ke urutan ke-41 di bawah Singapura, China, Malaysia dan Thailand.

Doni mengatakan, dalam falsafah pendidikan yang terkandung dalam UU Sisdiknas, bahwa pendidikan seharusnya diarahkan untuk memberdayakan masyarakat, bukan malah memperdaya masyarakat.

Sementara itu, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan, pihaknya juga getol dalam menyuarakan penolakan UN sebagai penentu kelulusan siswa. "Kami selalu kosisten membuka posko pengaduan UN sejak 2011-2016," ujar Retno.

Retno meminta Presiden Jokowi untuk mematuhi keputusan Mahkamah Agung (MA) tentang UN yang sudah ikrah sejak 2009. Dia menjelaskan, pihaknya telah melakukan kajian hukum dan analisis secara mendalam bahwa UN tidak terbukti meningkatkan kualitas pendidikan. "Secara pedagogis UN justru membuat pembelajaran dan pengajaran menjadi kering," kritiknya.

Retno mengusulkan, agar kebijakan penilaian pendidikan sebaiknya diserahkan kepada guru dan sekolah, sementara pemerintah punya tanggungjawab mengembangkan kapasitas guru dalam mengajar dan menilai, sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan otentik.

Sebelumnya, melalui Rapat Kabinet Terbatas, pemerintah menolak usulan ujian nasional (UN) yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. "Hasil Ratas di Istana Presiden diputuskan moratorium UN itu tidak disetujui tapi disuruh kaji ulang. Tanpa UN bagaimana kita bisa mendorong pendidikan dan apa acuannya antar daerah," kata Wapres JK, Rabu lalu (7/12). [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya