Berita

Rumah Kaca

Raja Bangkit Lah..

SABTU, 10 DESEMBER 2016 | 10:41 WIB | OLEH: DAHNIL ANZAR SIMANJUNTAK

TUAN dan Puan, sesungguhnya kau penguasa sejati.
Tapi, Tuan dan Puan, kau biarkan Jiwa itu tak terkendali. Mengikuti nyanyian Merdu koorporasi. Kau tak sadar sedang dalam jeruji.

Tuan dan Puan. Penguasa itu Raja yang bisa menentukan kemana harus pergi.
Tuan dan Puan. Sadarlah kau sang penentu hidup korporasi yang sekarang menguasai negeri. Mereka punya banyak modal dan teknologi. Tapi, Tuan pun kau Puan. Mereka tidak punya satu Hal saja, pembeli.


Ya. Betul. Tuan pun anda Puan. Mereka tak punya pembeli. Jadi, sadar kah Tuan dan Puan?. Kalian, Raja sejati. Tapi Kalian tak sadarkan diri. Bahkan, gembira terjeruji.

Mungkin Kalian Sudah Malas berpikir lagi. Atau, Sudah tak peduli dengan Martabat diri. Entah lah, Tuan dan Puan. Aku hanya berusaha membangunkan jiwa yang lama terjeruji.

Tuan dan puan. Aku Belajar banyak teori ekonomi. Tidak ada teori yang selengkap dan sehebat kapitalisme yang selalu Mampu beradaptasi.

Ketika sosialisme datang berusaha menegasikan eksitensi, secepat Kilat  kapitalisme berubah mencari model terkini. Kini, tak Ada yang mampu mengungguli.

Tuan dan Puan. Sementara Ini. Perkenan aku mengatakan, kapitalisme yang mencengkram negeri, melalui korporasi besar yang Bertaji, tak mungkin Kita Mampu ungguli, dengan hanya sekedar menghadirkan kooporasi sendiri.

Koorporasi besar itu telah mencengkram taji diseluruh negeri. Sehingga, Terasa berat berkompetisi. Karena, memang pasar tak berimbang lagi.

Tuan dan Puan. Penistaan Agama yang dilakukan Ahok, ternyata membuat kita terkonsolidasi. Tuan dan Puan. Kita bersama bersikap dan Bergerak Tanpa peduli segala upaya menghalangi Kita terkonsolidasi secara rapi. Tuan dan Puan. Sadarkah. Ternyata banyak makna yang bisa Kita Pelajari. Demi, memberbaiki negeri, yang Kita cintai.

Tuan dan Puan. Tiba ada peristiwa kecil yang menyadarkan diri. Ya. Tuan. Drama kecil tentang Roti. Puan pasti tahu karena sering beli setiap pagi. Di Toko-Toko dan jalanan, Kita beli setiap hari.

Awalnya kita puji-Puji. Mengira Mereka Ikhlas Berjuang bersama Kita membela keberagaman negeri. Mendukung melalui sedekah roti. Lawan penista Agama bernama Tuan Basuki.

Eh...ternyata Tuan dan Puan, kita salah lagi. Dengan Angkuh, koorporasi Roti sampaikan secara resmi. Mereka tidak terlibat dalam aksi. Komitmen korporasi sepenuhnya untuk NKRI. Tidak terlibat Politik negeri.

Tuan dan Puan. Kita yang datang Ikhlas Bersuara dalam aksi. Sejatinya untuk NKRI. Sejak awal Tuan dan Puan, kita menolak Tegas terlibat dalam politik praktis negeri.  Sikap Kita ikut Aksi, karena terganggunya nurani. Ketika Keberagaman Agama dipreteli oleh Pak Basuki.

Tuan dan Puan. Koorporasi Roti, Buat klarifikasi yang jujur, tentu itu baik dan kita berterimakasih sekali. Tapi, Tuan dan Puan Koorporasi Roti. Kok klarifikasi Bercampur dengan sikap yang tak elok kami cermati, Seolah menyampaikan pesan bahwa yang turun ikut Aksi tidak cinta NKRI.

Tuan dan Puan. Tibalah solidaritas diantara kami. Terkait sikap koorporasi roti. Dengan hati yang tersakiti. Ramai ajakan boikot roti. Dampaknya, luar biasa Terasa sampai kini. Umat kompak mulai menjauhi untuk membeli.

Tuan dan puan. Aku Langsung Teringat dengan satu teori yang aku Pelajari. Kekuatan sejati bagi koorporasi adalah para Pembeli.

Tuan dan Puan. Kapitalisme yang diwakili kooporasi. Tidak bisa dikalahkan dengan ideologi Ekonomi Terkini. Karena koorporasi bisa dirobohkan oleh pembelinya sendiri. Ya kau Tuan dan Puan, Raja sesungguhnya yang punya Kendali. Stop tak mau beli. Maka koorporasi roti roboh mati.

Tuan dan Puan. Gerakan Konsumen ini. Sudah banyak dibahas dibanyak teori. Gerakan Konsumen Bisa banyak melakukan Perubahan bagi negeri. Koorporasi pun tak bisa pungkiri fakta itu kini. Pertanyaan pentingnya kini. Apakah Tuan dan Puan sebagai Konsumen sejati berkenan bersatu lagi.

Melawan koorporasi tak punya empati dan Simpati kepada Konsumennya sendiri. Pun, koorporasi lain yang mencengkram negeri ini. Dimana Mereka rakus ingin mengambil semua pun kekuasaan Politik menggunakan uang koorporasi yang tak berseri.

Tuan dan Puan. Bila solidaritas kita Bangun kokoh. Agaknya, kita bisa menentukan harus kemana Pembangunan negeri. Karena korporasi Anak negeri pun berdiri. Dengan daulat penuh untuk kepentingan negeri. Mari Berdikari. Berdaulat di negeri sendiri. Kelemahan kita menguasai ekonomi harus segera diakhiri, dan saat ini momentumnya Sedang menghampiri. Jangan Tunda lagi.

Wahai Tuan dan Puan Bangkitkan semangat diri. Bersama kita Bangun Ekonomi.

Pinang, 10 Desember 2016


Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

UPDATE

Fasilitas Server Diserang, AS-Israel Makin Kewalahan Hadapi Iran

Senin, 16 Maret 2026 | 01:30

Kecelakaan Beruntun di Tol Semarang-Batang Nihil Korban Jiwa

Senin, 16 Maret 2026 | 01:09

Port Visit di Cape Town

Senin, 16 Maret 2026 | 00:50

Program MBG Bisa Lebih Kuat jika Didesain secara Otonom

Senin, 16 Maret 2026 | 00:30

Persib dan Borneo FC Puas Berbagi Poin

Senin, 16 Maret 2026 | 00:01

Liberalisasi Informasi dan Kebutuhan Koordinasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:42

Polri Buka Posko Pengaduan Khusus Kasus Andrie Yunus

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:17

Ketika Jiwa Bangsa Menjawab Arogansi Teknologi

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:14

Teror Air Keras dalam Dialektika Habermasian

Minggu, 15 Maret 2026 | 22:45

Yuddy Chrisnandi: Visi Menteri dan Presiden Harus Selaras

Minggu, 15 Maret 2026 | 22:32

Selengkapnya