Berita

Ratna Sarumpaet/Net

Wawancara

WAWANCARA

Ratna Sarumpaet: Menurut Aku Tuduhan Polisi Sangat Kasar, Aku Ditersangkakan Dengan Pasal Menakutkan

SENIN, 05 DESEMBER 2016 | 08:22 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Seniman yang kini banting setir naik panggung politik ini pada 2 Desember dini hari lalu bersama sembilan rekannya ditangkap polisi atas tuduhan makar.

Dia membantah keras tuduhan tersebut. Menurut dia, pada 2 Desember dini hari itu ia hanya menginap di Hotel Sari Pan Pacific untuk mengikuti aksi 2 Desember di Monas. "Saya di sana karena dekat dengan lokasi demo. Dan saya diagendakan un­tuk ada bersama Habib Rizieq," jelas Ratna. Berikut wawancara selengkapnya.

Bisa dijelaskan, bagaimana mulanya Anda bisa ditangkap dan dibawa ke Mako Brimob Kelapa 2?
Awalnya pada pukul 05.00 WIB, tiba-tiba ada beberapa orang yang datang, menghampirikamar hotelku. Aku lupa jumlahnya. Orang-orang tersebut mengaku dari kepolisian. Mereka bilang mau bawa aku ke Polda Metro, untuk dimintai kesaksian terkait dugaan berniat melakukan tinda­kan makar.

Awalnya pada pukul 05.00 WIB, tiba-tiba ada beberapa orang yang datang, menghampirikamar hotelku. Aku lupa jumlahnya. Orang-orang tersebut mengaku dari kepolisian. Mereka bilang mau bawa aku ke Polda Metro, untuk dimintai kesaksian terkait dugaan berniat melakukan tinda­kan makar.

Lalu?
Karena ini masalah hukum, aku menolak dibawa tanpa didampingi pengacara dong. Aku takut berbuat salah atau gimana kan, jadi aku telpon pengacara, sementara mereka nunggu. Setengah jam kemudian dia datang.

Setelah itu langsung berang­kat ke Mako Brimob?

Tidak, kami berdebat dulu dengan penyidik. Aku enggak ngerasa ngelakuin apa-apa kok ti­ba-tiba dibawa. Aku ngerasa cara mereka ini seperti G30S/PKI, main jebak, main tangkap, lalu faktanya dicocok-cocokin gitu. Aku merasa reformasi polisi yang didengung-dengungkan se­lama ini telah gagal. Sebab cara yang mereka gunakan untuk me­nangkap itu tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi padaku waktu tahun 1998. Nggak ada yang berubah.

Lalu bagaimana akhirnya Anda bisa dibawa ke Mako Brimob?

Karena mereka maksa, akhirnya aku ngalahlah. Sebagai warga negara yang baik aku coba ikutin mau mereka. Kami pun sepakat ke Polda awalnya. Tapi ternyata nggak ke Polda, tapi langsung ke Mako Brimob.

Setelah sampai di Mako Brimob, Anda langsung diper­iksa terkait tuduhan itu?
Nggak, ada pemeriksaan kes­ehatan dulu. Ada tiga dokter yang datang, kemudian melaku­kan pengecekan tensi daerah, kemudian ditanyakan keseha­tan umum, tinggi badan, berat badan. Tensi darah dinyatakan normal.

Setelah itu?
Lalu aku disuruh nunggu, disuruh duduk gitu aja kayak pa­tung sampai jam 2 siang. Jam 2 siang itu aku baru diperiksa, dan baru dilepas tengah malamnya. Padahal menurutku harusnya cukup ditanya 2-3 pertanyaan, terus biarin pulang.

Kenapa Anda beranggapan begitu?
Karena aku tidak mengerti dengan masalah yang dituduh­kan. Tanggal 1 itu kan aku tidak ada di hotel, tempat katanya pemufakatan jahat itu terjadi. Aku ada di rumah. Hanya saja kebetulan nama aku dicantu­mkan. Artinya seharusnya klir bagi penyidik, bahwa aku tidak terlibat dengan apa yang di­tuduhkan tentang 1 Desember. Eh, ini malah ditanya macem-macem.

Memang apa saja yang ditanyakan?

Macam-macam, mulai dari niat soal makar, kegiatan Bela Islam III, keterkaitan kemungki­nan mau dudukin gedung MPR/DPR. Semuanya saya jawab apa adanya, bahwa saya tidak tahu soal perencanaan makar yang dituduhkan. Sebab saya tidak hadir saat konferensi pers tanggal 1 itu.

Kalau memang tidak ikut konpers, kenapa Anda bisa ada di hotel?

Aku menginap di Hotel Sari Pan Pacific untuk mengikuti aksi 2 Desember di Monas. Tanggal 2 itu aku diagendakan untuk ada bersama Habib Rizieq. Jadi aku sengaja menginap di ho­tel yang dekat dengan lokasi aksi. Bukannya merencanakan makar.

Pendapat Anda terhadap tuduhan makar ini sendiri seperti apa?
Menurut aku tuduhan itu sangat kasar, terutama karena ditujukan kepadaku. Aku ini ditersangkakan dengan pasal yang begitu menakutkan, ber­niat makar, menggulingkan pemerintahan. Padahal aku tidak hadir dan tidak bertang­gung jawab terhadap kegiatan tersebut.

Kemudian saya ingin mengata­kan bahwa yang diinginkan oleh Mbak Rachmawati dan kawan-kawan itu bukan makar. Itu hak konstitusi setiap warga negara, mereka ingin menuntut MPR melakukan Sidang Istimewa. Dan itu konstitusional. ***

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

TNI Terima Penyerahan 75 Senjata Peninggalan Konflik Sosial Maluku

Minggu, 04 Oktober 2026 | 03:17

MPSI Dorong Badan Khusus Tangani Pengungsi Internal Papua

Minggu, 04 Oktober 2026 | 02:50

KDMP: Dari Dukungan Negara Menuju Kemandirian Anggota

Minggu, 04 Oktober 2026 | 02:25

Gibran Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Dugaan Keabsahan Ijazah

Minggu, 04 Oktober 2026 | 01:50

Berpengalaman di Bidang Reserse, Irjen Dadang Didapuk jadi Kapolda Metro

Minggu, 04 Oktober 2026 | 01:20

Ketika Karbon Menjadi Komoditas

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:43

Miliki Segudang Pengalaman, Tugas Berat Kini Menanti Herimen sebagai Kabaharkam

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:28

Laporan Keuangan Danantara Ditargetkan Rampung Oktober

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:04

Kapolri Baru Harus Usut Kasus Pembubaran Ibadah GKPI Mauk Sepatan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:33

Polisi Didesak Ungkap Kasus Pemecahan Kaca Mobil Jurnalis di Depok

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:13

Selengkapnya