Berita

Agus Rahardjo/Net

Wawancara

WAWANCARA

Agus Rahardjo: Kami Terus Teliti, Penyidikan Kasus e-KTP Bisa Mengarah Pada Networking Yang Lain

SABTU, 26 NOVEMBER 2016 | 10:42 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bos lembaga antirasuah ini memberi sinyal ada kemung­kinan kasus dugaan korupsi proyek Kartu Tanda Pen­duduk elektronik alias e-KTP mengarah pada jaringan yang lain. Ia juga menduga adanya tagihan proyek e-KTP ke pemerintah lataran uang negara yang diperuntukan sudah terlanjur di bagi-bagi ke pihak lain.
 
Hingga saat ini pemerintah dianggap masih memiliki utang kepada perusahaan asal Amerika Serikat (AS), PT Beomorf yang disubkontrak oleh konsorsium pemenang tender proyek Kartu Tanda Penduduk KTP berbasis elektronik (e-KTP).

Padahal, lanjut Agus, pemerintah telah memberikan dana untuk pembayaran proyek terse­but. Dana itu sudah dibayarkan kepada pihak konsorsium seba­gai pemenang tender. "Jangan-jangan sudah terlanjur dibagi-bagi," ujarnya.


Asal tahu saja, pemenang pengadaan e-KTP adalah kon­sorsium Percetakan Negara RI (PNRI) yang terdiri atas Perum PNRI, PT Sucofindo (Persero), PT LEN Industri (Persero), PT Quadra Solution dan PT Sandipala Arthaput. Perusahaan-perusahaan ini mengelola dana APBN senilai Rp 6 triliun pada tahun anggaran 2011 dan 2012. Berikut wawancara selengkapnya;

Terkait kasus korupsi e- KTP, sudah sejauh mana pen­anganannya?
Masih terus berjalan, nanti kita kan diberikan data itu kemudian bisa mengarah pada networking yang lain.

Maksudnya?
Kita sedang meneliti, nanti membantu Pak Tjahjo mencari tahu kenapa sebetulnya mereka nggak bisa bayar. Jangan-jangan (duitnya) sudah terlanjur dibagi-bagi.

Terkait keamanan datan­ya?
Itu bukan kewenangan KPK. Dan kalau kita lihat konsor­siumnya dulu, kan tidak ada sampai perusahaan luar negeri. Makanya saya heran juga kok ada perusahaan luar negeri.

Untuk proyek seperti itu, apa boleh ada subkontraktor ?
Untuk pekerjaan utama sesuai Keppres (Keputusan Presiden) itu nggak boleh buat yang utama.

Ini masuk kategori peker­jaan utama?
Ya, nanti kita lihatlah dalam rangka penyelesaian e-KTP secara menyeluruh.

Kalau terkait kasus 34 proyek listrik, bagaimana perkembangannya?
Itu sedang kita selidiki dan dalami, kita bekerjasama den­gan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) mudah-mudahan ada kabar dalam waktu dekat.

Dari 34 proyek listrik yang mangkrak, kabarnya ada tujuhyang overlap, di mana saja ?

Yah nggak usah disebutin di sini dong, nggak boleh itu.

Oh ya, terkait praktik dis­kresi oleh kepala daerah yang marak. Menurut kajian KPK ada kecenderungan berakibat korupsi nggak?
Rumusnya ya begitu diskresinya tambah besar, monopolinya tam­bah besar. Kemungkinan korupsinya tambah besar. Oleh karena itu diskresi itu harus dibatasi.

Jadi, baiknya diskresi itu harus dihindari?
Hanya boleh dalam hal terjadi kekosongan aturan, ketidakjela­san aturan, atau kemudian boleh dilakukan pada waktu program itu tidak berjalan, stagnan, mac­et. Jadi kondisi-kondisi seperti itu harus dipenuhi baru boleh ada diskresi. Nah berikutnya harus segera dicarikan jalan keluar peraturan untuk atur itu untuk memperbaiki itu.

Ada banyak keluhan dari kepala daerah, merasa dikrim­inalisasi, dan pengawasan terlalu ketat?
Ya tadi kan saya katakan tumpang-tindihnya harus di­kurangi, diusulkanlah. Saya kan gambarkan di pemerintahan tumpang tindihnya masih cukup besar. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya