Berita

Foto/Net

Wawancara

WAWANCARA

Ito Sumardi Djunisanyoto: Kita Di Sini Tenang-tenang Saja, Tak Ada Genosida, Semuanya Hoax

KAMIS, 24 NOVEMBER 2016 | 10:21 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pensiunan jenderal bintang tiga Polri ini mengimbau umat muslim di Tanah Air tidak mudah terprovokasi da­lam menyikapi kabar pembantaian muslim Rohingya di Myanmar yang diduga dilakukan oleh tentara di sana.
 
Dia bilang, berita foto dan video pembantaian muslim Rohingya itu hoax alias bohong. "Semua (muslim Rohing) yang di Myanmar itu tenang-tenang aja tuh. Jangan kita percaya pada berita-berita bohong," ujar Ito saat dihubungi Rakyat Merdeka kemarin.

Bekas Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri ini mengungkapkan, kondisi di sana cukup kondusif. Bahkan awal November lalu, pemerintah Myanmar memberikan akses masuk kepada utusan lembaga internasional dalam rangka memberikan pertolon­gan bagi masyarakat di15 desa yang menjadi wilayah konflik. "Memang ada beberapa rumah yang terbakar maupun dibakar ya. Tapi itu kita nggak tahu yang bakar siapa," imbuhnya.


Khusus akses bagi media, di­akui Ito memang belum dibuka.Berikut penjelasan Ito Sumardi terkait kondisi terkini di wilayah konflik di Myanmar;

Ada desakan agar Dubes Myanmar diusir dari Indonesia?
Yang tahu di Myanmar itu kita ya, KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Saya kira tidak bijak kalau kita tidak tahu yang sebenarnya, kemudian meminta Duta Besar Myanmar diusir dari Indonesia.

Jadi berita, foto-foto dan jumlah korban yang di-publish sejumlah media, khususnya di media sosial itu apa?
Itu kan semua hoax. Yang dimunculkan itu berita ng­gak benar, saya juga dikirim. Myanmar tenang-tenang aja tuh semua.

Jangan kita percaya pada berita-berita bohong, terus merusak hubungan dengan Myanmar yang sudah demikian berjasa kepada Indonesia di masa perjuangan Indonesia.

Tapi berita pembantaian suku minoritas yang notabene muslim di Myanmar itu sudah meluas...
Pembantaiannya di mana? Harusnya nanya ke kita. Jadi harusnya, sebelum kita menyam­paikan kesimpulan, itu harus dicek dulu kebenaran berita itu. Jangan emosi. Jangan sampai, karena berita ini disebarkan oleh LSM-LSM Human Right yang nggak jelas di sana terus kita terprovokasi. Kita di sini tenang-tenang saja, nggak ada apa-apa tuh.

Masak sih?

Logikanya gini, kalau ada pembataian dunia pasti sudah mengutuk, bolehlah kita ikut-kutan mengutuk. Nah sekarang, kita mengutuk, sementara dunia tenang-tenang saja. Yang dibil­ang pembantaian di sana itu ng­gak ada, bohong semua.

Anda sudah ke sana melihat langsung?

Saya tanggal 3-6 November itu diberi akses langsung oleh pemerintah Myanmar untuk melihat 15 desa yang dikabarkan ada pembunuhan. Itu bohong semua.

Kok bisa anda bilang semua itu bohong?
Memang ada beberapa rumah yang terbakar maupun dibakar ya. Tapi itu kita nggak tahu yang bakar siapa. Karena, saya kan mantan polisi ya, di dalam ru­mah itu nggak ada piring gelas. Kalau dibakar kan alat rumah tangga ada di dalam. Mungkin dikosongin dulu baru dibakar.

Ada berapa rumah yang terbakar?
Dari 260-an rumah, yang ter­bakar itu cuma 13. Ada (desa) yang lebih dari 300 rumah, yang terbakar sekitar 20-an.

Persisnya, ada apa sih di balik peristiwa ini?
Ini kan propaganda dari kelompok yang melakukanpenyerangan, memang itu kan proyeknya Solidarity Organization, RSO. Kan selama ini, bisa dibuka lah di website, itu mereka terafiliasi, sudah dinya­takan oleh pemerintah dengan Thaliban dan Mujahidin.

Mereka membunuh polisi, kemudian mengambil senjata-senjatanya. Masak pemerintah Myanmar bertindak, terus kita ribut. Nggak fair dong.

Lalu, warga Rohingya yang ramai-ramai mencari suaka termasuk ke Indonesia, bu­kankah bukti telah terjadi genosida?
Sekarang gini, kalau dibilang genoside itu kan pembunuhan massal ya. Yang bilang genosida itu siapa sih? Kenapa negara-negara yang peduli pada HAM, seperti di Eropa, Amerika di sana tidak ada tuh ribut seperti kita.

Jadi kenapa dong mereka pergi dari kampung halaman­nya?
Mereka ingin kehidupan yang lebih baik. Karena me­mang lokasinya di perbatasan Bangladesh-Myanmar, itu mer­eka menempati wilayah secara ilegal sejak zaman penjajahan Inggris dulu. Karena hidup di sana susah, kadang-kadang ban­tuan PBB juga terbatas. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya