Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Awas, Brutus Dan Durno Gerayangi Istana...

KAMIS, 24 NOVEMBER 2016 | 07:59 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

PEREBUTAN kekuasaan selalu penuh intrik, sehingga dalam drama The Tragedy of Julius Caesar yang ditulis Shakespeare ada tokoh Brutus, dalam Mahabarata ada tokoh Durno...

Mereka ada di dalam lingkaran kekuasaan tetapi menusuk dari belakang dan menggunting dalam lipatan alias berkhianat.

Siapa sebenarnya Brutus?


Dia adalah pejabat tinggi negara, senator Roma.

Senatus atau senex artinya orang tua, dia dituakan, termasuk pendamping raja dan duduk dalam majelis perundingan kerajaan.

Dikisahkan, Brutus bersama para kroninya berencana makar yakni membunuh Julius Caesar. Pembunuhan yang sangat dramatik terhadap kaisar terjadi pada 44 SM yang kemudian memicu perang saudara di Republik Roma. Brutus kemudian diadili sebagai pengkhianat.

Dalam bahasa Latin, Brutus, Brutto, Brutal punya akar kata yang sama.

Brutusaum berarti kasar, tidak nalar, pencemburu, bodoh. Brutus-brutum berarti tidak bisa bergerak, menunjukkan pikiran watak yang tidak berubah, tidak bergeser, keras kepala dalam arti goblok.

Adapun tokoh Durno dalam Mahabarata digambarkan suka memakai topeng orang suci, berlagak negarawan, sangat sakti sehingga jadi guru bagi para putra raja Astina, baik Kurawa maupun Pandawa.

Durno juga dikenal sebagai penebar huru-hara, karena wataknya yang dualisme.

Durno tewas oleh pedang Drestajumena, ksatria yunior yang tidak sakti namun punya integritas moral terpuji.

Dalam bahasa Jawa tewasnya Durno dilukiskan dalam kalimat: "ngunduh wohing pakarti" alias mati gara-gara kelakuan sendiri.

Sukarno, Soeharto, juga jatuh karena para Brutus dan karena para Durno.

Dalam realitas politik Brutus dan Durno memang benar-benar ada.

Kalau saat ini aparat keamanan mensinyalir ada pihak yang mau melakukan makar terhadap pemerintahan sah Jokowi, maka tentu ada Brutus dan Durno di belakangnya.

Makar berwatak licik, penuh tipu muslihat, dan mengandung rencana yang sistematis.

Sejarah membuktikan perebutan kekuasaan dengan cara makar biasanya dilakukan atau ditunggangi oleh orang-orang terdekat dalam lingkaran kekuasaan. Aktornya biasanya pendamping terdekat, teman sejawat, bahkan kerabat.

Di Nusantara perebutan kekuasaan dengan cara-cara makar usianya sama tuanya dengan usia kerajaan-kerajaan yang ada. Bahkan Majapahit jatuh karena makar yang dilakukan oleh orang-orang terdekat di istananya sendiri, yaitu melalui intrik politik berdarah antara anak permaisuri dengan anak selir raja Hayam Wuruk yang mengakibatkan perang Paregreg.

Di tengah goncangan badai politik yang disebabkan oleh lidah panas Ahok memang bukan tidak mungkin ada Brutus dan Durno yang hendak menggunting di dalam lipatan, untuk itu sensitifitas, insting, dan naluri waspada Presiden Jokowi sangat dibutuhkan.

Road show Presiden ke berbagai elemen masyarakat, umat, TNI dan Polri, boleh juga dibaca sebagai bentuk sensitifitas dan kewaspadaan Presiden terhadap adanya indikasi makar yang akan dilakukan oleh para Brutus dan Durno.

Apalagi pemerintahan Jokowi yang baru berjalan dua tahun ini sebenarnya rentan dan tidak cukup solid, antara lain karena adanya berbagai kepentingan faksi di kabinet dan persoalan visi kemana arah bangsa dan negeri ini mau dibawa.

Namun di luar semua itu kita tetap berharap negeri ini senantiasa damai dalam Kebhinekaan.

Amor Meus Amplior Quam Verba Est Indonesienses... Karena cintaku kepada Indonesia lebih dari sekedar kata-kata... [***]

Penulis adalah wartawan senior Rakyat Merdeka

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya