Berita

Rachmawati/Net

Politik

Rachma Menyimpulkan Rezim Jokowi Lebih Parah Dari Rezim Soeharto

RABU, 23 NOVEMBER 2016 | 22:44 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Aksi mahasiswa di tahun 1965 dan reformasi 1998 yang menuntut Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto turun merupakan aksi yang didasari anggapan bahwa kedua pemimpin negara tersebut memiliki masalah.

"Itu masuk golongan perbuatan makar bukan?" tanya putri proklamator RI Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Rabu (23/11).

Pernyataan Rachmawati itu menyusul ucapan para politisi dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang menyebut Aksi Bela Islam III yang akan digelar pada tanggal 2 Desember (212) merupakan aksi makar untuk menjatuhkan Presiden Jokowi.


Lebih lanjut, pendiri Yayasan Pendidikan Bung Karno itu membandingkan peristiwa 1965 dan 1989 dengan tuduhan makar dari penguasa saat ini terhadap para aktivis yang mengkritik berbagai persoalan kebangsaan. Aksi 2 Desember, lanjutnya, dilakukan karena para aktivis menilai pemerintah Jokowi tidak becus menangani masalah bangsa.

"Seperti masalah korupsi, utang luar negeri, penguasaan asing dan aseng, dan sebagainya," sambung wanita yang akrab disapa Mbak Rachma itu.

Dia menyebut, tudingan makar yang dilayangkan Jokowi dan kroninya menunjukkan bahwa mantan gubernur DKI Jakarta itu telah bersikap fasis otoriter kepada para aktivis yang mengkritik. Sikap Jokowi sudah seperti zaman Orde Baru (Orba) yang anti kritik.

"Hanya saja Orba tidak pernah mengubah UUD1945! Soeharto tetap dengan Pancasila dan UUD1945 asli Dekrit Presiden 5 Juli1959," sambungnya.

Menurut Mbak Rachma, rezim Jokowi lebih parah ketimbang rezim Orba lantaran Jokowi berkhianat pada konstitusi negara. Ini mengingat rezim Jokowi berencana akan mengamandemen kembali UUD 1945, tapi bukan mengembalikan kepada UUD 1945 yang asli.

"Jadi siapa yang makar?" tanyanya.

"Karena menurut Tito makar dimaksud yang akan menggulingkan pemerintah dan melepaskan dari NKRI. Bagaimana dengan mengganti konstitusi UUD 1945? Jawab!" tegas Rachma. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya