Berita

Luthfi A Mutty/Net

Politik

Di Hadapan Mendagri, DPR Persoalkan e-KTP Yang Lama Dan Rumit

RABU, 23 NOVEMBER 2016 | 15:58 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pembuatan e-KTP jauh lebih rumit dan lama ketimbang KTP manual. Jika KTP manual hanya melalui prosedural administrasi dan foto saja kemudian langsung jadi, maka e-KTP sebaliknya.

Begitu kata anggota Komisi II Luthfi A Mutty saat rapat dengan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo di Ruang Rapat Komisi II DPR RI, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (23/11). Luthfi mengutarakan bahwa masyarakat harus menunggu minimal dua minggu sampai KTP itu diterima oleh pendaftar.

"Pembuatan e-KTP itu saya bilang tidak murah, tidak singkat, dan tidak gampang. Masyarakat selalu mengeluhkan hal itu berulang kali ketika saya reses. Apalagi jika blanko kosong, tambah lama pembuatan e-KTP," tuturnya lugas.


Luthfi kemudian bercerita tentang kondisi yang memprihatinkan di dapilnya di Sulawesi Selatan. Jika tidak beruntung, semua alat penunjang termasuk alat rekam bisa rusak di semua kecamatan di salah satu kabupaten. Selain itu, di  beberapa wilayah butuh ongkos yang tidak sedikit. Sebanyak tiga kecamatan berada di kepualauan dengan aksesibiltas darat yang terbatas.

Mau tidak mau, masyarakat menggunakan kapal untuk menjangkau kabupaten. Untuk hanya mengurus e-KTP, seorang bisa merogoh kocek sampai jutaan karena jarak ke kantor Disdukcapil yang terlampau jauh. Masyarakat dibuat terpaksa membuat e-KTP karena menyangkut administratif sebagai warga negara.

Tidak hanya di dapilnya, Luthfi juga mengurai persoalan e-KTP di Jabodetabek. "Anak saya yang Pondok Gede sudah dua bulan ngurus eKTP gak jadi-jadi sampai sekarang. Saya membayangkan di daerah, yang dekat ibu kota saja seperti ini, bagaimana dengan masyarakat Papua?" kesal politisi Nasdem itu.

Program KTP nasional bukanlah program pertama yang dijalankan oleh Kemendagri. Namun demikian program KTP Nasional sebelumnya dinyatakan gagal karena menghadapi kompleksitas pendataan dan kurangnya infrastruktur penunjang. Luthfi berharap e-KTP yang diklaim sebagai KTP nasional bisa berjalan sesuai tujuan dan fungsinya. Kemudian KTP yang dicap sebagai KTP berteknologi ini mampu memenuhi ekspektasi masyarakat terhadap pelayanan umum yang diselenggarakan pemerintah. [ian]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya