Berita

Politik

MAKRIFAT PAGI

Musim Semi

SENIN, 21 NOVEMBER 2016 | 09:53 WIB | OLEH:

MUSIM semi tiba, rerumputan pun tumbuh sendiri; kedatangan pemimpin alamiah sejati menginspirasi kesukarelaan untuk bertindak.” Demikianlah Lao Tzu memberi iktibar.

Setelah sekian lama jagat politik Indonesia mengalami musim kemarau harapan, kering rerumputan menanti kemunculan pemimpin (relatif) otentik yang dapat mengembalikan kesuburan akar rumput.

Dengan tumbuhnya harapan, gerak kesukarelaan bangkit tanpa menunggu komando dan janji imbalan. Simpul-simpul relawan  bergerak-serempak, mengatasi keterbatasan logistik dan jaringan institusi kepartaian. Indonesia pun disapu gelombang partisipasi politik rakyat yang masif, energetik, dan kreatif.


Betapapun kontestasi kepemimpinan berlangsung sengit, politik harapan mendamba kekuatan kesukarelaan dan kreativitas memiliki daya kendali tersendiri untuk tidak memasuki medan pertarungan yang dapat menghancurkan nilai-nilai kesukarelaan dan kreativitas itu sendiri. Maka, dengan segala ketegangannya, ajang pemilihan harus berlangsung aman dan damai.

Dengan rasa solidaritas kebangsaan, akar rumput tidak akan dibakar api permusuhan. Potensi kekerasan masih mungkin melalui mobilisasi ”laskar-laskar” kekerasan. Jika itu yang menjadi pilihan, aparatur keamanan negaralah yang paling bertanggung jawab untuk mengatasinya. Pada titik ini, ujian sejarah sedang dihadapi oleh jajaran TNI dan polisi, apakah mereka akan lulus sebagai pahlawan pengawal konstitusi dan keselamatan bangsa atau tercoreng sebagai pengkhianat yang mengorbankan masa depan bangsanya.

Siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin nanti, yang dipertaruhkan bukanlah gengsi personal dan golongan, melainkan nasib seluruh rakyat Indonesia. Para kandidat pemimpin harus bersifat kesatria; yang menang tidak mentang-mentang, yang kalah tidak marah-marah. Kemenangan sejati mestinya kemenangan seluruh rakyat, yang bisa diraih manakala pemimpin terpilih sanggup mengubah politik kecemasan menjadi politik harapan bagi seluruh rakyat.

Untuk mengubah kecemasan menjadi harapan, pemimpin terpilih harus sungguh-sungguh menjamin kebebasan sipil dan perbedaan dengan merealisasikan negara kekeluargaan yang dapat melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah. Pemimpin terpilih juga harus sungguh-sungguh berusaha menciutkan kesenjangan sosial dan mengembangkan keadilan sosial dengan merealisasikan negara kesejahteraan.

Dalam mengarungi jalan terjal politik harapan itu, sikap optimistis harus terus dipelihara. Orang boleh kecewa terhadap pelaksanaan demokrasi, tetapi mesti bersabar untuk mempertahankan rezim demokratis. Berbeda dengan ledakan harapan, pemerintahan demokratis baru sering dihadapkan dengan aneka masalah dan kekecewaan. Karena itu, betapapun legitimasi kinerja memainkan peranan penting bagi kelangsungan pemerintahan demokratis, yang lebih menentukan bukanlah kesanggupan mereka dalam menuntaskan masalah-masalah itu, melainkan cara pemimpin politik itu menanggapi ketidakmampuannya.

Suatu pemerintahan demokratis bisa bertahan jika mampu menggalang kerja sama lintas batas, bukan menyulut pertikaian, sambil mengupayakan secara bersama cara mengatasi permasalahan secara institusional.

Para pemimpin harus menyadari pentingnya merawat harapan dan optimisme dengan cara memahami kesalingtergantungan realitas serta kesediaan menerobos batas-batas politik lama. Kekuasaan digunakan untuk memotivasi dan memberi inspirasi yang dapat mendorong partisipasi dan tanggung jawab warga untuk bergotong royong merealisasikan kebajikan bersama.[***]


Penulis adalah seorang aktivis dan cendekiawan muda. Pemikirannya dalam bidang keagamaan dan kenegaraan tersebar di berbagai media, salah satunya dituangkan dalam buku "Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila"



Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya