Berita

Foto: RMOL

Politik

Ini Alasan Ahok Harus Ditahan Versi GNPF-MUI

JUMAT, 18 NOVEMBER 2016 | 14:13 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) mendesak agar penegak hukum segera menahan Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok segera ditahan pasca ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan penistaan agama.

Panglima Aksi Damai 4 November yang juga inisiator GNPF-MUI Munarman menjabarkan alasan Ahok harus segera ditahan.

"Pertama, Ahoki sudah dinyatakan sebagai tersangka. Kedua, dia berpotensi melarikan diri walau sudah dicekal. Dia juga berpotensi menghilangkan barang bukti," ujarnya dalam konferensi pers di kantor Ar Rahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (18/11).


Munarman juga menyebut bahwa Ahok berpotensi mengulangi perbuatannya yang arogan, suka mencaci, dan menghina ulama. Bahkan teranyar dalam sebuah wawancara dengan ABC News, Ahok mencibir bahwa peserta Aksi Damai 4 November merupakan massa yang Rp 500 ribu per orang.

Tidak cukup sampai di situ, jurubicara Front Pembela Islam (FPI) ini juga menyebut bahwa pelanggaran yang dilakukan Ahok telah menyebabkan kegaduhan nasional yang menyebabkan korban luka dan meninggal. Perbuatan Ahok itu juga berpotensi memecah belah bangsa Indonesia sehingga Ahok layak untuk ditahan.

"Selama ini tersangka yang terkait pasal 156a KUHP selalu ditahan seperti Lia Aminudin, Arswendo, dan lain lain. Ketidakadilan dan ketidaksamaan di muka hukum bisa jadi preseden buruk karena semua tersangka yang terkait dengan pasal 156a KUHP dalam sejarah selalu ditahan," pungkasnya. [ian]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya