Berita

Foto: Net

Politik

Wakil Ketum Gerindra: Bukankah Pemerintahan Jokowi Yang Merusak Hukum

JUMAT, 18 NOVEMBER 2016 | 10:33 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dinilai sebagai manuver dan diplomasi politik abu-abu yang tidak jelas.

Penilaian ini disampaikan oleh tokoh nasional yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Rachmawati Soekarnoputri.

Menurut Rachma, bahkan pembicaraan Jokowi dan Prabowo itu pun tidak jelas ditujukan untuk siapa dan masalah apa.


"Tidak jelas siapa mereka maksud membahayakan NKRI, Pancasila, Konstitusi UUD 1945!" kata Rachma dengan nada kecewa.

"Bukankah rezim berkuasa yang justru memutarbalikan fakta di atas. Bukankah penistaan agama adalah perbuatan melawan hukum dan umat melakukan perlawanan dengan aksi damai?" katanya lagi.

Rachma menegaskan, rezim yang berkuasa sekarang justru merupakan pihak yang merusak hukum. Juga mempromosikan intoleransi  agama dan memihak pihak tertentu dengan keistimewaan hebat, merusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara, serta melenceng dari jalananya revolusi amanat Proklamasi Indonesia Merdeka.

Masih katanya, bukankah rezim Jokowi yang membuat kesenjangan sosial begitu lebar, menjadikan Indonesia jadi bangsa koeli bagi bangsa asing. Belum lagi kezaliman dalam berbagai mega korupsi dan utang luar negeri dalam jumlah besar.

"Agama jelas mengajarkan garis demarkasi antara yang bathil dan yang benar, Kata Bung Karno: kaum sana mau kesana, kaum sini mau kesini," masih ujar Rachma.

Menurut pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) ini tidak ada rumus kompromi bagi yang tertindas dengan yang menindas. Yang ada adalah keberpihakan kesadaran kelas melawan kebathilan.

"Jadi pertemuan itu hanya polesan lipstik yang tiada berarti. Para pemimpin jangan permainkan nasib rakyat," demikian Rachma. [dem]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Pencalonan Kaesang di Solo Raya Sinyal Perang Terbuka PSI vs PDIP

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Araghchi Ancam Balas Serangan Ukraina ke Kapal Dagang Iran

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Istana Tegaskan Mundurnya Perry Warjiyo Murni Keputusan Pribadi

Senin, 27 Juli 2026 | 10:13

Kejaksaan Harus Jawab Klaim Kriminalisasi Febrie dengan Bukti

Senin, 27 Juli 2026 | 10:04

KPK Dalami Aliran Dana yang Diduga Disiapkan Bupati Kuansing untuk Raja Juli

Senin, 27 Juli 2026 | 09:57

Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Perlu SOP yang Ketat

Senin, 27 Juli 2026 | 09:51

IHSG Merah, Rupiah Ambruk ke Rp17.976 per Dolar AS Usai Gubernur BI Mundur

Senin, 27 Juli 2026 | 09:47

Kasatnarkoba Polres Tangsel Ditangkap Bareskrim

Senin, 27 Juli 2026 | 09:37

Pengamat: Sulit bagi Kaesang dan PSI Kuasai Solo Raya

Senin, 27 Juli 2026 | 09:34

Perjalanan Karier dan Rekam Jejak Perry Warjiyo di Kepemimpinan Bank Indonesia

Senin, 27 Juli 2026 | 09:25

Selengkapnya