Nasaruddin Umar/Net
Nasaruddin Umar/Net
DALAM salah satu konferensi di Chile, beberapa peserta dari Magasakar menghampiri kami sebagai delegasi IndoÂnesia dengan menggunakan Bahasa Jawa. Oleh sebagian di antara kami yang berasal dari Jawa mengaku tidak bisa memahami sepenuhnya BaÂhasa Jawa mereka karena beberapa kosa katanya menggunakan Bahasa Jawa kuno. Mereka menjumpai kami dalam suaÂsana penuh kekeluargaan layaknya sebagai angÂgota keluarga. Wajah-wajah mereka memang masih sangat mirip wajah Indonesia. Mereka berÂcerita banyak tentang nenek moyangnya di Jawa, meskipun mereka belum pernah ke Jawa. KesÂan kami, mereka memiliki semacam kebanggaan karena mereka berasal-usul dari Indonesia yang di negerinya dicitrakan sebagai sebuah negara yang berhasil. Indikator keberhasilan mereka antara lain sebuah negara besar dengan sumber daya alam yang kaya, populasi penduduk dan bonus populations yang menjanjikan, berhasil membanÂgun stabilitas politik, ekonomi, dan toleransi etnik dan agama yang sangat mengesankan. Mereka membaca pertumbuhan ekonomi Indonesia di papan atas jauh melampaui negara-negara maju sekalipun. Mereka juga bangga karena IndoneÂsia sudah mampu memeroduksi dan mengekspor pesawat terbang dan teknologi canggi lainnya. Mereka membayangkan Indonesia di masa deÂpan sejajar dengan negra-negara kuat lainnya.
Negara Madagaskar, negeri jauh tetapi akrab dengan telinga Indonesia. Madagaskar salahsatu dari empat pulau terbesar di Samudera Hindia, tepatnya lepas pesisir timur Afrika. Terdapat juga beberapa pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Juan de Nova, Pulau Europa, Kepulauan GlorioÂso, Pulau Tromelin Island, dan Bassas da India. Warga Madagaskan enggan disebut sebagai etÂnik Afrika. Madagaskar dihuni sekitar 22 juta jiwa, 7 % di antaranya muslim, dan data lain menyeÂbutkan 10 sampai 15 % dari total populasi. UmÂumnya mereka beragama lokal (52%) dan Kristen (41%). PEW Research Center menyatakan penÂduduk muslim di Madagaskan mencapai 215.000 jiwa. Sebagian besar komunitas muslim itu tingÂgal di bagian barat pulau yang dulu disebut ReÂpublik Malagasy. Umumnya mereka imigran dari Yaman, Iran, Zanzibar, dan negara lainnya, terÂmasuk dari Indonesia (Jawa) yang dulu dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pekerÂja kebun di sana. Sekitar 50 ribu pengungsi musÂlim dari India, Komoro dan Somalia, berdiam di pulau seluas 587 kilometer persegi itu.
Agama Islam di Madagaskar mengalami perkembangan pesat. Selama dekade terakhir banÂyak penduduk asli setempat menjadi mualaf. Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah masjid menÂingkat dari hanya bisa dihitung jari menjadi puluÂhan buah. Sebuah laporan menyebutkan saat ini sedikitnya 50 masjid dan pusat Islam berdiri di Madagaskar. Komunitas muslimin juga memiÂliki restoran yang menyuguhkan makanan halal. Mereka juga mendirikan klinik, sekolah, yayasan sosial, hingga berkiprah di ranah ekonomi dan politik. Dakwah Islam bebas disiarkan melalui televisi ataupun radio nasional. Islam tidak menÂgalami hambatan berarti di negeri ini.
Populer
Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26
Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37
Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48
Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06
Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01
Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17
Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16
UPDATE
Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51
Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28
Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09
Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39
Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18
Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11
Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55
Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42
Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44
Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22