Berita

Nasaruddin Umar/Net

Harapan Dunia Terhadap Indonesia (18)

Indonesia Di Mata Masyarakat Madagaskar

SELASA, 15 NOVEMBER 2016 | 09:11 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

DALAM salah satu konferensi di Chile, beberapa peserta dari Magasakar menghampiri kami sebagai delegasi Indo­nesia dengan menggunakan Bahasa Jawa. Oleh sebagian di antara kami yang berasal dari Jawa mengaku tidak bisa memahami sepenuhnya Ba­hasa Jawa mereka karena beberapa kosa katanya menggunakan Bahasa Jawa kuno. Mereka menjumpai kami dalam sua­sana penuh kekeluargaan layaknya sebagai ang­gota keluarga. Wajah-wajah mereka memang masih sangat mirip wajah Indonesia. Mereka ber­cerita banyak tentang nenek moyangnya di Jawa, meskipun mereka belum pernah ke Jawa. Kes­an kami, mereka memiliki semacam kebanggaan karena mereka berasal-usul dari Indonesia yang di negerinya dicitrakan sebagai sebuah negara yang berhasil. Indikator keberhasilan mereka antara lain sebuah negara besar dengan sumber daya alam yang kaya, populasi penduduk dan bonus populations yang menjanjikan, berhasil memban­gun stabilitas politik, ekonomi, dan toleransi etnik dan agama yang sangat mengesankan. Mereka membaca pertumbuhan ekonomi Indonesia di papan atas jauh melampaui negara-negara maju sekalipun. Mereka juga bangga karena Indone­sia sudah mampu memeroduksi dan mengekspor pesawat terbang dan teknologi canggi lainnya. Mereka membayangkan Indonesia di masa de­pan sejajar dengan negra-negara kuat lainnya.

Negara Madagaskar, negeri jauh tetapi akrab dengan telinga Indonesia. Madagaskar salahsatu dari empat pulau terbesar di Samudera Hindia, tepatnya lepas pesisir timur Afrika. Terdapat juga beberapa pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Juan de Nova, Pulau Europa, Kepulauan Glorio­so, Pulau Tromelin Island, dan Bassas da India. Warga Madagaskan enggan disebut sebagai et­nik Afrika. Madagaskar dihuni sekitar 22 juta jiwa, 7 % di antaranya muslim, dan data lain menye­butkan 10 sampai 15 % dari total populasi. Um­umnya mereka beragama lokal (52%) dan Kristen (41%). PEW Research Center menyatakan pen­duduk muslim di Madagaskan mencapai 215.000 jiwa. Sebagian besar komunitas muslim itu ting­gal di bagian barat pulau yang dulu disebut Re­publik Malagasy. Umumnya mereka imigran dari Yaman, Iran, Zanzibar, dan negara lainnya, ter­masuk dari Indonesia (Jawa) yang dulu dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai peker­ja kebun di sana. Sekitar 50 ribu pengungsi mus­lim dari India, Komoro dan Somalia, berdiam di pulau seluas 587 kilometer persegi itu.

Agama Islam di Madagaskar mengalami perkembangan pesat. Selama dekade terakhir ban­yak penduduk asli setempat menjadi mualaf. Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah masjid men­ingkat dari hanya bisa dihitung jari menjadi pulu­han buah. Sebuah laporan menyebutkan saat ini sedikitnya 50 masjid dan pusat Islam berdiri di Madagaskar. Komunitas muslimin juga memi­liki restoran yang menyuguhkan makanan halal. Mereka juga mendirikan klinik, sekolah, yayasan sosial, hingga berkiprah di ranah ekonomi dan politik. Dakwah Islam bebas disiarkan melalui televisi ataupun radio nasional. Islam tidak men­galami hambatan berarti di negeri ini.


Seperti daratan Afrika tetangganya, Islam masuk ke Madagaskar melalui jalur perdagangan orang-orang Arab-Muslim sekitar abad ke 10 atau 11 M. Ada juga melalui hubungan perbudakan seperti warga Zanzibari yang dipekerjakan di pantai timur Afrika dan warga yang dibawa oleh pemerintah kolonial sebagai tenaga kerja perkebunan, sep­erti yang berasal dari Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Komunitas Jawa di Madagaskan masih tetap mempertahankan keaslian budaya Jawanya. Yang agak lucu sampai saat ini anak-anak turunan Jawa masih membangun masjid yang menghadap ke barat, menirukan masjid di Pulau Jawa, meskipun masjid yang dibangun oleh komunitas lain mengh­adap kebalikannya. Kesenian Jawa seperti Game­landan tradisi batik masih lestari di negeri ini. Um­umnya mereka masih bisa berkomunikasi bahasa Jawa tetapi tidak memahami bahasa Indonesia. Saat penulis masih studi di Laiden University, be­berapa mahasiswa Madagaskar mengajari penu­lis berbahasa Jawa. Mereka juga mempertah­ankan Islam sunni dengan mazhab sunni seperi di Indonesia. 

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya